Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kenapa Islam Jadi Agama Mayoritas di Indonesia? Jejak Sejarah dari Cina, Arab, hingga Kerajaan Nusantara

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Senin, 16 Februari 2026 | 14:55 WIB
Kenapa Islam jadi agama mayoritas di Indonesia? Ini penjelasan sejarah lengkap peran Cina, Arab, kerajaan Islam, dan akulturasi budaya. Ilustrasi AI
Kenapa Islam jadi agama mayoritas di Indonesia? Ini penjelasan sejarah lengkap peran Cina, Arab, kerajaan Islam, dan akulturasi budaya. Ilustrasi AI

Radar Tulungagung – Pertanyaan tentang kenapa Islam jadi agama mayoritas di Indonesia kerap muncul di benak banyak orang. Indonesia berada jauh dari Timur Tengah, tempat Islam lahir, dan selama berabad-abad dikenal sebagai wilayah kerajaan Hindu-Buddha. Namun faktanya, Indonesia kini menjadi negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Jawabannya tidak sesederhana penaklukan atau paksaan, melainkan rangkaian panjang sejarah, perdagangan, budaya, dan spiritualitas.

Untuk memahami kenapa Islam jadi agama mayoritas di Indonesia, sejarah masuknya Islam ke Nusantara menjadi titik awal yang tak terpisahkan. Sejarawan menyebut, Islam setidaknya telah dikenal di wilayah Nusantara sejak abad ke-11 Masehi. Bukti paling sering dikutip adalah makam Fatimah binti Maimun di Gresik yang bertahun 1082 M. Namun, sejumlah tokoh seperti Buya Hamka meyakini Islam bahkan sudah hadir sejak abad ke-7 melalui jaringan perdagangan Arab di pesisir Sumatra.

Beragam Teori Masuknya Islam ke Nusantara

Dalam kajian sejarah, terdapat beberapa teori besar tentang asal-usul Islam di Indonesia. Mulai dari teori Gujarat, Persia, Makkah, hingga teori Cina. Semua teori ini didukung bukti dan sumber berbeda. Islam berkembang bukan lewat invasi militer, melainkan melalui jalur damai: perdagangan, pernikahan, dan pembentukan komunitas.

Teori Cina menjadi salah satu yang paling menarik. Sejarawan menyebut komunitas Muslim Cina memiliki peran besar dalam memperluas Islam di Nusantara. Hubungan dagang Arab dan Cina telah terjalin sejak abad ke-8 Masehi melalui Jalur Sutra dan jalur laut. Dari sinilah komunitas Muslim Cina terbentuk dan kemudian menyebar ke Asia Tenggara.

Peran Cina dan Laksamana Cheng Ho

Perkembangan Islam di Nusantara semakin pesat pada abad ke-13 hingga 15, saat kerajaan-kerajaan Islam mulai mendominasi. Salah satu figur penting adalah Cheng Ho, laksamana Muslim dari Dinasti Ming yang memimpin armada laut besar ke Asia Tenggara. Ekspedisinya menjangkau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, sekaligus memperkuat komunitas Muslim multietnis di pesisir Nusantara.

Dukungan Cina juga memperkuat Kesultanan Melaka yang didirikan oleh Parameswara, raja Hindu yang kemudian masuk Islam dan bergelar Sultan Iskandar Syah. Hubungan diplomatik Melaka dengan Dinasti Ming mempercepat penyebaran Islam di kawasan regional.

Berdirinya Kerajaan Islam Nusantara

Kerajaan Islam pertama yang diakui secara luas di Nusantara adalah Samudra Pasai di Aceh. Di Pulau Jawa, komunitas Muslim pesisir berkembang menjadi Kesultanan Demak, yang berdiri saat Majapahit mengalami kemunduran akibat konflik internal.

Peralihan kekuasaan ini menandai titik penting kenapa Islam jadi agama mayoritas di Indonesia. Islam tidak menghapus budaya lama, tetapi beradaptasi dan menyatu dengan tradisi lokal.

Faktor Ekonomi, Politik, dan Spiritualitas

Sejarawan mencatat, pada abad ke-14 hingga 17, dunia Islam tengah berada di puncak kejayaan ekonomi. Kerajaan Islam terhubung dalam jaringan perdagangan internasional rempah dan sutra. Dengan memeluk Islam, raja-raja Nusantara memperoleh keuntungan politik dan ekonomi melalui kemitraan global.

Namun, penerimaan Islam di tingkat masyarakat tidak hanya didorong elite. Islam masuk melalui jalur budaya dan spiritualitas. Nilai tasawuf, cerita rakyat, serta pendekatan damai membuat ajaran Islam mudah diterima oleh masyarakat yang sejak lama menjunjung spiritualisme.

Antropolog Amerika Clifford Geertz bahkan membagi masyarakat Muslim Jawa ke dalam tiga kelompok: priyayi, santri, dan abangan. Klasifikasi ini menunjukkan bagaimana Islam berkembang berdampingan dengan tradisi lokal tanpa konflik besar.

Kolonialisme dan Bertahannya Islam

Ketika Belanda datang dengan agama Protestan, tidak ada misi besar untuk menyebarkan agama seperti yang dilakukan Portugis atau Spanyol. Fokus Belanda adalah perdagangan dan eksploitasi ekonomi. Akibatnya, Islam yang telah mengakar kuat tetap bertahan dan berkembang hingga masa modern.

Kombinasi sejarah damai, akulturasi budaya, jaringan perdagangan global, dan minimnya tekanan kolonial menjadi jawaban utama kenapa Islam jadi agama mayoritas di Indonesia hingga hari ini.

 

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#islam di indonesia #kerajaan islam #sejarah Islam Nusantara #cheng ho