Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Islam Masuk Nusantara Sejak Abad ke-7, Bukan Abad ke-13: Jejak Dakwah Awal hingga Lahirnya Jakarta

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Senin, 16 Februari 2026 | 15:00 WIB
Islam masuk Nusantara sejak abad ke-7. Fakta sejarah dakwah awal, wali, hingga lahirnya Jakarta jarang diajarkan di sekolah. Pinterest
Islam masuk Nusantara sejak abad ke-7. Fakta sejarah dakwah awal, wali, hingga lahirnya Jakarta jarang diajarkan di sekolah. Pinterest

Radar Tulungagung – Narasi tentang Islam masuk Nusantara selama ini kerap disederhanakan sebagai peristiwa abad ke-13 atau ke-14 melalui pedagang Gujarat. Padahal, sejumlah ulama dan sejarawan menegaskan Islam telah hadir jauh lebih awal, bahkan sejak abad ke-7 Masehi, beriringan dengan masa awal lahirnya Islam itu sendiri di Jazirah Arab.

Penegasan ini penting untuk meluruskan pemahaman publik. Indonesia memang baru berdiri sebagai negara pada 17 Agustus 1945. Namun, jauh sebelum itu, wilayah Nusantara telah menjadi ruang perjumpaan berbagai agama dan peradaban. Islam tidak datang belakangan setelah Hindu-Buddha, melainkan hadir hampir bersamaan melalui jalur dakwah dan perdagangan.

Dalam sejumlah catatan sejarah Islam klasik, nama Sa'ad bin Abi Waqas disebut pernah terlibat dalam ekspedisi dakwah hingga ke wilayah Barus (Baros), pesisir barat Sumatra, sekitar abad ke-7 Masehi. Fakta ini memperkuat argumen bahwa Islam masuk Nusantara sejak fase sangat awal, bukan sekadar pengaruh abad pertengahan.

Dakwah, Bukan Sekadar Perdagangan

Berbeda dengan anggapan populer, para pendatang Arab ke Nusantara bukan hanya pedagang. Mereka datang dengan bekal ilmu dan misi dakwah. Banyak di antara mereka berasal dari Hadramaut, Yaman, hingga wilayah Arab lainnya. Mereka berdagang sambil menyebarkan nilai tauhid, akhlak, dan ajaran Islam, kemudian membangun komunitas Muslim lokal.

Proses ini berlangsung berabad-abad. Baru pada abad ke-13, Islam memasuki fase penguatan. Bukan sebagai awal kedatangan, melainkan tahap pendalaman ajaran. Saat itu, banyak masyarakat Nusantara telah mengenal Islam, namun belum memahami praktik ibadah secara utuh. Karena itulah, para ulama diutus untuk memperkuat pemahaman fikih, tauhid, dan kehidupan sosial Islam.

Peran Ulama Timur Tengah dan Wali Awal

Dalam tradisi Islam, ulama yang memiliki ilmu dan kedekatan spiritual dengan Allah disebut wali. Pada rentang abad ke-13 hingga 15, sejumlah ulama dari Mesir, Palestina, Persia, Maghrib, hingga Turki datang ke Nusantara. Salah satu tokoh sentralnya adalah Ahmad Jumadil Kubra, ulama besar asal Mesir yang dikenal sebagai ahli dakwah dan fikih.

Dari jalur dakwah inilah kemudian lahir generasi ulama Nusantara. Salah satu garis keturunannya melahirkan Sunan Gunung Jati, tokoh penting penyebaran Islam di Jawa Barat dan pesisir utara Jawa. Namun perlu dicatat, Sunan Gunung Jati bukan termasuk wali generasi pertama. Ia merupakan generasi lanjutan dari proses dakwah panjang sebelumnya.

Prabu Siliwangi dan Islamisasi Sunda

Dalam sejarah Jawa Barat, peran Prabu Siliwangi kerap menjadi perdebatan. Melalui pernikahannya dengan Nyai Subanglarang, seorang santri Muslim, Islam mulai masuk ke lingkungan elite Pajajaran. Dari keturunan inilah muncul tokoh-tokoh penting yang kelak berperan dalam penyebaran Islam di Cirebon dan sekitarnya.

Nama Cirebon sendiri diyakini berasal dari kata “Caruban”, yang berarti percampuran berbagai etnis Arab, Cina, dan lokal menjadi satu komunitas. Ini menunjukkan Islam berkembang secara damai dan multikultural.

Baca Juga: Wajib Rakit Lokal Mobil Listrik 2026, Ini Daftar Model yang Terancam Naik Harga

Portugis, Kristenisasi, dan Lahirnya Jakarta

Situasi berubah drastis ketika Portugis datang ke Nusantara pada awal abad ke-16. Berbekal misi Gold, Glory, Gospel, mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan agama Kristen secara agresif. Setelah menaklukkan Malaka pada 1511, Portugis bergerak ke Sunda Kelapa dan membangun benteng serta rumah ibadah.

Respons datang dari kekuatan Islam lokal. Atas perintah Sunan Gunung Jati, pasukan Islam bergerak membebaskan Sunda Kelapa. Peristiwa itu terjadi pada 22 Juni 1527, bertepatan dengan 22 Ramadan 933 Hijriah. Kota Sunda Kelapa kemudian diganti namanya menjadi Jayakarta, yang bermakna “kemenangan yang sempurna”.

Nama Jayakarta inilah yang kelak berkembang menjadi Jakarta. Hingga kini, tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari jadi Jakarta, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Sejarah panjang ini menegaskan satu hal penting: Islam masuk Nusantara bukan lewat paksaan, melainkan melalui dakwah, akhlak, dan kekuatan spiritual yang mengakar kuat hingga hari ini.

 

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#Islam masuk ke Indonesia #Sejarah Islam Indonesia #Wali Songo #sejarah jakarta