RADAR TULUNGAGUNG - Candi Boyolangu Tulungagung kembali menjadi sorotan publik setelah muncul pembahasan mengenai kaitannya dengan Gayatri Rajapatni, tokoh penting di balik kejayaan Majapahit.
Banyak masyarakat meyakini Candi Boyolangu Tulungagung adalah candi Gayatri, ibu suri Majapahit yang disebut sebagai arsitek politik penyatuan Nusantara.
Namun benarkah bangunan bata merah itu benar menjadi tempat pendharmaan Gayatri Rajapatni, atau sekadar candi pemujaan Prajnaparamitha?
Candi Boyolangu terletak di Desa Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Secara arsitektur, bangunan ini bercorak Majapahit dengan material bata merah.
Strukturnya terdiri dari tiga tingkat berbentuk mandala yang makin mengecil ke atas.
Bagian paling mencolok adalah arca Prajnaparamitha di puncak candi.
Arca Prajnaparamitha dan Dugaan Gayatri
Arca di puncak candi berukuran hampir setinggi manusia dewasa.
Meski kedua tangannya telah hilang, posisi mudra yang tersisa menunjukkan dharmacakra mudra, simbol memutar roda Dharma.
Dalam tradisi Buddha Mahayana, Prajnaparamitha melambangkan kebijaksanaan tertinggi.
Gayatri Rajapatni sendiri memang dipuji sebagai Prajnaparamitha dalam naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca.
Gayatri adalah putri Raja Singhasari dan istri pendiri Majapahit, Raden Wijaya.
Ia juga ibu dari Tribhuwana Tunggadewi serta nenek dari Hayam Wuruk.
Dalam politik Majapahit, Gayatri dianggap sebagai sosok sentral yang merancang strategi penyatuan wilayah Janggala dan Panjalu.
Sebagian peneliti menduga Gayatri berhasil “mengakali” kutukan Mpu Bharaddah yang diyakini menghancurkan raja-raja yang mencoba menyatukan Jawa.
Ia tidak naik takhta langsung, melainkan menempatkan putrinya sebagai ratu dan menunjuk Gajah Mada sebagai pelaksana Sumpah Palapa.
Benarkah Candi Gayatri?
Dalam Negarakertagama disebutkan adanya rencana pembangunan Candi Wisesapura di Bhayalanö sebagai tempat pendharmaan Gayatri.
Nama Bhayalanö diduga merujuk pada Boyolangu.
Namun sejumlah sejarawan masih memperdebatkan hal tersebut.
Ada pendapat yang menyebut Bhayalanö berada di wilayah Pasuruan karena berkaitan dengan rute perjalanan Hayam Wuruk menuju Lumajang.
Meski begitu, di Boyolangu memang terdapat candi besar yang khusus memuja Prajnaparamitha.
Inilah yang menguatkan dugaan bahwa Candi Boyolangu Tulungagung adalah Candi Gayatri.
Namun ada kejanggalan.
Ciri arca Prajnaparamitha di Boyolangu menunjukkan gaya Singhasari abad ke-13, terutama pada motif teratai yang tumbuh langsung dari akar tanpa vas.
Padahal pembangunan candi diperkirakan berlangsung sekitar 1369–1389 Masehi, era akhir Majapahit.
Perbedaan gaya ini memunculkan dugaan arca tersebut dipindahkan dari lokasi lain, mungkin dari Kamal Pandak yang disebut sebagai pusat batas magis Mpu Bharaddah.
Jejak Perusakan 1965
Candi Boyolangu juga menyimpan kisah kelam.
Pada peristiwa 1965–1966, muncul rencana perusakan karena dugaan adanya harta terpendam.
Sebagian struktur sempat dirusak sebelum masyarakat menghentikannya.
Kepala arca Prajnaparamitha ditemukan sudah terpenggal sejak penggalian awal oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1914.
Catatan penelitian Belanda menyebut situs ini pernah disebut Punden Gilang dan dianggap sakral oleh warga.
Ritual masih dilakukan hingga kini, terutama pada malam Jumat dan malam 1 Suro.
Pengunjung bahkan datang dari Malaysia, Thailand hingga Belanda.
Antara Sejarah dan Keyakinan
Terlepas dari perdebatan akademis, masyarakat Tulungagung meyakini roh Gayatri masih bersemayam di kawasan candi.
Sebagian bahkan menyebut adanya penjaga gaib seperti singa putih dan sosok senopati.
Namun secara historis, belum ada bukti pasti bahwa arca tersebut benar arca medium roh Gayatri dalam upacara sraddha 1362 Masehi.
Yang jelas, Candi Boyolangu Tulungagung merupakan situs penting peninggalan era Singhasari-Majapahit.
Ia menjadi saksi bagaimana politik, agama, dan mitologi berpadu dalam sejarah Jawa Timur.
Gayatri Rajapatni sendiri dikenang bukan sebagai ratu yang berkuasa secara formal, melainkan sebagai “penguasa tanpa takhta”.
Seorang perempuan visioner yang meletakkan fondasi kejayaan Majapahit.
Apakah Candi Boyolangu benar Candi Gayatri masih menjadi misteri.
Namun satu hal pasti, situs ini mengingatkan bahwa sejarah besar Nusantara tidak hanya dibangun oleh raja dan panglima perang, tetapi juga oleh strategi cerdas seorang ibu suri.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina