RADAR TULUNGAGUNG – Jembatan Plengkung Tulungagung menjadi salah satu bangunan bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menyimpan banyak cerita menarik.
Dibangun pada tahun 1925 pada masa pemerintahan kolonial Belanda, jembatan yang membentang di atas Sungai Ngrowo tersebut tak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga diselimuti berbagai kisah legenda dan mitos yang berkembang di masyarakat.
Hingga saat ini, Jembatan Plengkung Tulungagung masih menjadi ikon yang dikenal luas oleh warga.
Usianya yang telah melampaui 90 tahun membuat bangunan tersebut menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan Kota Marmer dari masa kolonial hingga sekarang.
Di balik kemegahannya, terdapat cerita unik mengenai proses pembangunan Jembatan Plengkung Tulungagung.
Konon, sebelum pembangunan dimulai, pemerintah kolonial Belanda mendapat masukan dari sesepuh setempat untuk menggelar sayembara bagi siapa saja yang mampu melompati Sungai Ngrowo.
Sayembara Melompati Sungai Ngrowo
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sayembara tersebut digelar karena Sungai Ngrowo memiliki lebar sekitar 45 meter.
Sesepuh setempat meyakini bahwa orang yang mampu melompati sungai selebar itu merupakan sosok sakti.
Apabila ditemukan orang yang berhasil melakukannya, maka jembatan yang dibangun diyakini akan terlindungi dan tetap kokoh berdiri dalam waktu lama.
Bagi pemerintah kolonial Belanda, usulan tersebut tidak dianggap sebagai masalah.
Bahkan, pembangunan jembatan dinilai menguntungkan karena dapat menghubungkan pusat pemerintahan yang berada di sisi timur sungai dengan kawasan perdagangan dan Pasar Ngemplak yang berada di sisi barat.
Pada masa itu, wilayah Tulungagung masih berstatus kadipaten sehingga keberadaan akses penghubung menjadi kebutuhan penting untuk menunjang aktivitas pemerintahan maupun ekonomi.
Sayembara kemudian diumumkan kepada masyarakat. Namun hingga sore hari tidak ada seorang pun yang berhasil melompati Sungai Ngrowo. Banyak peserta yang mencoba, tetapi berakhir gagal dan tercebur ke sungai.
Meski demikian, pembangunan jembatan tetap dilanjutkan hingga akhirnya berdiri megah dan menjadi salah satu infrastruktur penting di Tulungagung.
Mitos Makhluk Gaib Penunggu Jembatan
Selain kisah pembangunan yang unik, Jembatan Plengkung Tulungagung juga dikenal memiliki berbagai cerita mistis yang diwariskan secara turun-temurun.
Seorang warga menuturkan bahwa kawasan sekitar jembatan dipercaya menjadi tempat bersemayam sejumlah makhluk gaib.
Di sisi utara jembatan, masyarakat meyakini terdapat sosok sinden yang konon pernah membunuh tentara Belanda.
Selain itu, terdapat pula cerita mengenai keberadaan naga hijau yang dipercaya menjaga kawasan tersebut.
Sementara di sisi selatan jembatan, beredar kisah tentang puluhan tentara Jepang yang tewas dalam pertempuran pada masa penjajahan.
Tak hanya itu, masyarakat juga mempercayai adanya sebuah bendera yang tidak kasat mata.
Meski demikian, berbagai cerita tersebut tidak pernah dikaitkan dengan gangguan terhadap aktivitas masyarakat di sekitar jembatan.
Menurut cerita yang berkembang, kondisi tersebut tidak lepas dari doa dan perlindungan spiritual yang diberikan oleh tokoh agama setempat, yakni Kiai Abdul Fattal.
Bahkan disebutkan bahwa selama puluhan tahun nyaris tidak pernah terdengar adanya kecelakaan besar yang terjadi di kawasan jembatan tersebut.
Pusaka dan Status Cagar Budaya
Cerita lain yang tak kalah menarik menyebutkan bahwa di bawah Jembatan Plengkung Tulungagung tersimpan sejumlah pusaka, termasuk emas.
Namun, masyarakat percaya benda-benda tersebut tidak boleh diambil karena memiliki penjaga gaib.
Keberadaan pusaka itu diyakini bertujuan menjaga kekokohan bangunan agar tetap berdiri tegak hingga sekarang.
Karena itu, apabila suatu saat dilakukan pembongkaran atau renovasi besar, masyarakat meyakini proses tersebut harus dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti tata cara tertentu.
Meski telah berusia lebih dari sembilan dekade dan memiliki nilai sejarah yang tinggi, hingga kini Jembatan Plengkung Tulungagung belum ditetapkan sebagai cagar budaya.
Padahal salah satu syarat utama penetapan cagar budaya adalah bangunan berusia minimal 50 tahun dan memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, maupun kebudayaan.
Dengan sejarah panjang yang dimiliki, Jembatan Plengkung Tulungagung tidak hanya menjadi penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah serta warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.***
Editor : Vidya Sajar Fitri