Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pendidikan Indonesia yang Membuka Akses Sekolah untuk Rakyat dan Mengubah Masa Depan Bangsa

Fadhilah Salsa Bella • Jumat, 19 Juni 2026 | 17:25 WIB
Kisah Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional yang memperjuangkan hak belajar bagi seluruh rakyat Indonesia (Pinterest).
Kisah Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional yang memperjuangkan hak belajar bagi seluruh rakyat Indonesia (Pinterest).

RADAR TULUNGAGUNG- Nama Ki Hajar Dewantara tidak bisa dipisahkan dari sejarah pendidikan Indonesia. Sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional ini telah meninggalkan warisan besar yang hingga kini masih dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Di masa penjajahan Belanda, pendidikan merupakan hak istimewa yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu, terutama kaum bangsawan dan keluarga berada. Sementara itu, sebagian besar rakyat pribumi tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak.

Melihat kondisi tersebut, Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia tanpa memandang status sosial. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar perjuangannya dalam membangun sistem pendidikan yang lebih adil bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lahir dari Keluarga Bangsawan Yogyakarta

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tahun 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga Keraton Pakualaman yang memberinya kesempatan memperoleh pendidikan yang tidak mudah diakses oleh masyarakat pribumi pada masa itu.

Ia menempuh pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School), sekolah khusus yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu pada era kolonial Belanda.

Meski berasal dari keluarga bangsawan, Ki Hajar Dewantara tidak menutup mata terhadap kenyataan yang dialami masyarakat sekitar. Ia melihat banyak anak-anak pribumi yang tidak memiliki kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Pengalaman tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan merupakan kunci utama kemajuan bangsa.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 Per Liter, Pemkab Tulungagung Minta OPD Hemat Kendaraan dan Perjalanan Dinas

Melawan Ketidakadilan Lewat Tulisan

Saat beranjak dewasa, Ki Hajar Dewantara aktif menyuarakan kritik terhadap pemerintahan kolonial melalui berbagai tulisan di surat kabar.

Salah satu tulisannya yang paling terkenal berjudul Als Ik Eens Nederlander Was atau Seandainya Aku Seorang Belanda. Tulisan tersebut berisi kritik tajam terhadap kebijakan kolonial yang dianggap tidak adil terhadap rakyat Indonesia.

Melalui tulisan itu, ia mempertanyakan mengapa rakyat pribumi harus ikut menanggung perayaan kemerdekaan Belanda, sementara mereka sendiri masih hidup dalam penjajahan.

Akibat keberaniannya tersebut, Ki Hajar Dewantara diasingkan ke Belanda. Namun masa pengasingan justru semakin memperkuat tekadnya untuk memperjuangkan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mendirikan Taman Siswa

Setelah kembali ke Tanah Air, Ki Hajar Dewantara memilih melanjutkan perjuangannya melalui jalur pendidikan.

Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang terbuka bagi anak-anak pribumi dari berbagai kalangan.

Taman Siswa tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menanamkan rasa cinta tanah air, penghargaan terhadap budaya bangsa, serta kebebasan berpikir.

Sekolah ini menjadi simbol perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang membatasi akses belajar bagi masyarakat pribumi.

Baca Juga: Weton Jawa Selasa Wage Dipercaya Memiliki Karakter Teguh dan Tidak Mudah Menyerah, Primbon Sebut Jalan Rezekinya Terbuka Lebar

Filosofi Pendidikan yang Tetap Relevan

Ki Hajar Dewantara juga dikenal melalui filosofi pendidikannya yang sangat terkenal hingga saat ini.

"Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani."

Filosofi tersebut memiliki makna bahwa seorang pendidik harus mampu menjadi teladan saat berada di depan, membangun semangat saat berada di tengah, dan memberikan dorongan ketika berada di belakang.

Bagian terakhir dari filosofi tersebut, yaitu "Tut Wuri Handayani", hingga kini digunakan sebagai semboyan resmi dunia pendidikan Indonesia.

Warisan yang Tak Pernah Hilang

Ki Hajar Dewantara membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Melalui pendidikan, pemikiran, dan tulisan, ia berhasil memberikan perubahan besar bagi masa depan bangsa.

Selain menekankan pentingnya pendidikan yang merata, ia juga mengajarkan bahwa guru bukan sekadar pengajar. Guru adalah pembimbing, teladan, dan sumber inspirasi bagi peserta didik.

Pemikiran tersebut tetap relevan di era modern, termasuk di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi pendidikan saat ini.

Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959. Meski demikian, semangat perjuangannya tetap hidup dalam setiap ruang kelas, setiap guru yang mengajar, dan setiap anak yang belajar.

Warisan terbesar yang ditinggalkannya adalah keyakinan bahwa pendidikan merupakan hak semua orang dan menjadi jalan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya. Berkat dedikasi dan perjuangannya, Ki Hajar Dewantara dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Baca Juga: Primbon Jawa Sebut Weton Senin Legi Punya Kepribadian Bijaksana dan Disukai Banyak Orang, Benarkah Rezekinya Mengalir dari Hubungan Sosial?

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#Bapak Pendidikan Nasional #Taman Siswa #sejarah pendidikan Indonesia #Tut Wuri Handayani #ki hajar dewantara