Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tan Malaka, Tokoh yang Pertama Menggagas Republik Indonesia: Kisah Sang Bapak Republik yang Lama Terlupakan

Fadhilah Salsa Bella • Jumat, 19 Juni 2026 | 14:59 WIB
Tan Malaka dikenal sebagai Bapak Republik Indonesia yang pertama menggagas negara Indonesia merdeka melalui pemikirannya (Pinterest).
Tan Malaka dikenal sebagai Bapak Republik Indonesia yang pertama menggagas negara Indonesia merdeka melalui pemikirannya (Pinterest).

RADAR TULUNGAGUNG - Kemerdekaan Indonesia yang dinikmati saat ini tidak lahir begitu saja. Jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan, sejumlah tokoh telah mencurahkan pemikiran dan perjuangannya demi mewujudkan Indonesia merdeka. Salah satu tokoh yang memiliki peran besar namun sering terlupakan adalah Tan Malaka.

Nama Tan Malaka memang tidak sepopuler Soekarno atau Mohammad Hatta. Namun, pemikirannya mengenai konsep negara Republik Indonesia telah muncul jauh sebelum kemerdekaan benar-benar terwujud. Karena gagasan dan kontribusinya tersebut, ia dikenal sebagai Bapak Republik Indonesia.

Anak Desa yang Memiliki Kecerdasan Luar Biasa

Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Sumatera Barat, pada 2 Juni 1897. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang aktif dan gemar berpetualang. Salah satu kegemarannya adalah berenang di sungai yang deras, sesuatu yang sering membuat keluarganya khawatir.

Di balik sifatnya yang usil dan penuh keberanian, Tan Malaka memiliki kecerdasan luar biasa. Prestasinya di sekolah membuat guru-guru dan masyarakat sekitar kagum.

Namun, kondisi ekonomi keluarganya yang sederhana sempat mengancam masa depannya. Beruntung, masyarakat kampungnya bergotong royong mengumpulkan dana agar Tan Malaka bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Kesempatan tersebut membawanya menempuh pendidikan di Belanda, sebuah perjalanan yang kemudian mengubah jalan hidupnya.

Baca Juga: Kisah BJ Habibie: Dari Anak Parepare hingga Jadi Bapak Teknologi Indonesia, Sukses Taklukkan Jerman dan Bangun Industri Pesawat Nasional

Menemukan Kesadaran Politik di Eropa

Saat tinggal di Eropa, Tan Malaka menghabiskan banyak waktu membaca berbagai buku pemikiran politik, filsafat, dan sosial.

Dari buku-buku itulah ia mulai memahami berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi di dunia, termasuk penjajahan yang dialami bangsa Indonesia.

Kesadaran tersebut membuatnya yakin bahwa ilmu pengetahuan dan gagasan dapat menjadi senjata untuk melawan kolonialisme.

Baginya, buku adalah peluru dan kata-kata adalah senjata yang mampu membangkitkan kesadaran rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Tan Malaka memutuskan kembali ke tanah air dan mulai terlibat dalam gerakan politik melawan penjajahan Belanda.

Hidup dalam Pelarian dan Menggunakan Puluhan Nama Samaran

Aktivitas politik yang dilakukan Tan Malaka membuat pemerintah kolonial menganggapnya sebagai ancaman.

Akibatnya, ia terus diburu dan harus menjalani kehidupan dalam pelarian selama bertahun-tahun.

Dalam masa pelariannya, Tan Malaka diketahui menggunakan sekitar 23 nama samaran, berpindah-pindah di 11 negara, serta menguasai delapan bahasa asing.

Untuk bertahan hidup, ia menjalani berbagai pekerjaan, termasuk menjadi pengetik dan pekerja administrasi.

Meski hidup dalam tekanan, masa pelarian justru melahirkan karya terbesar dalam hidupnya.

Baca Juga: Setahun Pakai Volta 401, Pengguna Ungkap Kelebihan dan Kekurangan Motor Listrik Ini, Baterai Masih Aman di 8.600 Km

Menulis Buku yang Menggagas Republik Indonesia

Saat berada di pengasingan, Tan Malaka menulis buku berjudul Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia.

Buku tersebut menjadi salah satu karya penting dalam sejarah perjuangan bangsa karena secara jelas mengemukakan gagasan mengenai negara Republik Indonesia yang merdeka.

Pemikiran dalam buku itu kemudian menginspirasi banyak tokoh pergerakan nasional dan menjadi salah satu fondasi ideologis perjuangan kemerdekaan.

Banyak kalangan menilai karya tersebut berperan besar dalam menyalakan semangat perjuangan rakyat Indonesia.

Berbeda Pandangan dengan Soekarno dan Hatta

Menjelang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka memiliki pandangan yang berbeda dengan Soekarno dan Hatta terkait strategi perjuangan.

Ia menilai kemerdekaan harus diperoleh melalui perlawanan yang tegas terhadap penjajah, sementara sebagian tokoh memilih jalur diplomasi dalam menghadapi situasi politik saat itu.

Perbedaan pandangan tersebut membuat Tan Malaka tidak terlibat langsung dalam proses pembacaan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia merdeka, namanya perlahan tenggelam di bawah bayang-bayang tokoh-tokoh besar lainnya.

Meski demikian, kontribusi Tan Malaka tidak dapat dihapus dari sejarah bangsa. Gagasan, pemikiran, dan keberaniannya menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju Indonesia merdeka.

Hingga kini, Tan Malaka dikenang sebagai seorang revolusioner yang melampaui zamannya. Ia membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui ide, pemikiran, dan keberanian untuk bermimpi besar tentang masa depan bangsa.

Baca Juga: Kisah Tirto Utomo Pendiri Aqua: Pernah Dianggap Gila karena Jual Air Putih dalam Botol, Kini Jadi Raja Air Minum Kemasan Indonesia

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#Tan Malaka #Bapak Republik Indonesia #sejarah Tan Malaka #Naar de Republiek Indonesia #tokoh kemerdekaan Indonesia