Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Yogyakarta, Berawal dari Perpecahan Mataram hingga Menjadi Daerah Istimewa dan Kota Pelajar

Davina Ar Raafika • Rabu, 15 Juli 2026 | 18:50 WIB
Sejarah Yogyakarta bermula dari Perjanjian Giyanti 1755, berkembang menjadi Daerah Istimewa, Kota Pelajar, dan pusat budaya Indonesia. (Pinterest)
Sejarah Yogyakarta bermula dari Perjanjian Giyanti 1755, berkembang menjadi Daerah Istimewa, Kota Pelajar, dan pusat budaya Indonesia. (Pinterest)

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Sejarah Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Kerajaan Mataram, Perjanjian Giyanti pada 1755, hingga lahirnya Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I. Dalam sebuah video dokumenter, dijelaskan bahwa kota ini berkembang menjadi pusat pemerintahan, kebudayaan, pendidikan, sekaligus memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan Yogyakarta dimulai dari perpecahan Kerajaan Mataram akibat konflik internal dan campur tangan Belanda. Dari peristiwa itu lahirlah Kesultanan Yogyakarta yang kemudian tumbuh menjadi salah satu wilayah paling berpengaruh di Pulau Jawa.

Selain mengulas sejarah berdirinya kesultanan, video tersebut juga membahas filosofi pembangunan Keraton Yogyakarta, asal-usul nama Yogyakarta, hingga statusnya sebagai Daerah Istimewa.

Berawal dari Kerajaan Mataram

Dalam penjelasan video disebutkan bahwa wilayah Yogyakarta pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Mataram, kerajaan besar yang memiliki pengaruh kuat dari budaya Hindu-Buddha.

Seiring waktu, konflik internal mulai muncul di lingkungan kerajaan.

Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Belanda melalui politik pecah belah yang memperburuk perselisihan di dalam Kerajaan Mataram.

Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan

Puncak konflik terjadi melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755.

Perjanjian itu membagi wilayah Mataram menjadi dua kekuasaan.

Bagian timur menjadi Kasunanan Surakarta, sedangkan wilayah barat berubah menjadi Kesultanan Yogyakarta.

Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam lahirnya Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan baru.

Sultan Hamengku Buwono I Mendirikan Kesultanan

Video menjelaskan bahwa Pangeran Mangkubumi menjadi tokoh utama dalam pembentukan Kesultanan Yogyakarta.

Setelah memisahkan diri dari Surakarta, ia kemudian dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono I.

Ia dikenal sebagai pendiri Kesultanan Yogyakarta sekaligus sosok yang meletakkan dasar pemerintahan baru di wilayah tersebut.

Baca Juga: Raffi Ahmad Bantah Keras Isu Kasus Korupsi Blue-Ray Cargo, Siapkan Langkah Hukum untuk Pulihkan Nama Baik

Keraton Dibangun di Kawasan Strategis

Dalam memilih pusat pemerintahan, Sultan Hamengku Buwono I menetapkan kawasan hutan beringin atau Pachetokan sebagai lokasi pembangunan keraton.

Lokasi tersebut dipilih karena berada di kawasan strategis yang terletak di antara Gunung Merapi dan Laut Selatan.

Pemilihan tempat itu bukan hanya mempertimbangkan aspek geografis, tetapi juga memiliki makna filosofis.

Nama Yogyakarta Sarat Makna

Video juga mengulas asal-usul nama Yogyakarta.

Nama tersebut disebut berasal dari Ayodya, kota legendaris dalam kisah Ramayana yang melambangkan kedamaian dan keadilan.

Kemudian ditambahkan kata Hadiningrat, yang memiliki makna kemakmuran dan keagungan.

Penamaan tersebut menjadi simbol harapan terhadap pemerintahan yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Tata Kota Mengikuti Filosofi Jawa

Pembangunan Keraton Yogyakarta juga mengikuti konsep kosmologi Jawa.

Dalam video dijelaskan adanya sumbu imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi di bagian utara, Keraton sebagai pusat pemerintahan, hingga Laut Selatan di bagian selatan.

Konsep tersebut menjadi bagian dari filosofi tata ruang yang hingga kini masih dikenal sebagai ciri khas Yogyakarta.

Menjadi Ibu Kota Sementara Republik Indonesia

Peran penting Yogyakarta tidak berhenti pada masa kerajaan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Yogyakarta ditetapkan sebagai ibu kota sementara Republik Indonesia pada 4 Januari 1946.

Keputusan tersebut diambil karena kondisi Jakarta saat itu dinilai belum kondusif.

Video menempatkan peristiwa ini sebagai salah satu babak penting dalam sejarah nasional.

Baca Juga: Kisah Tirto Utomo Pendiri Aqua, Pernah Diejek karena Jual Air Putih dalam Botol

Status Daerah Istimewa sebagai Bentuk Penghargaan

Atas dukungan Kesultanan Yogyakarta terhadap Republik Indonesia, pemerintah kemudian menetapkan wilayah tersebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta.

Status tersebut diberikan melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950.

Menurut penjelasan video, penetapan itu merupakan bentuk penghargaan atas kontribusi Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam dalam mendukung berdirinya Republik Indonesia.

Dikenal sebagai Kota Pelajar

Selain memiliki sejarah panjang, Yogyakarta juga dikenal sebagai Kota Pelajar.

Julukan tersebut muncul karena kota ini menjadi pusat pendidikan yang menarik mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam video disebutkan salah satu institusi pendidikan yang menjadi daya tarik adalah Universitas Gadjah Mada (UGM).

Keberadaan berbagai lembaga pendidikan membuat Yogyakarta menjadi tujuan utama bagi masyarakat yang ingin melanjutkan studi.

Tetap Menjaga Budaya di Tengah Modernisasi

Video juga menyoroti perkembangan Yogyakarta sebagai pusat budaya dan pariwisata.

Berbagai kesenian tradisional seperti gamelan, wayang, dan batik terus dilestarikan.

Selain itu, destinasi seperti Keraton Yogyakarta, Malioboro, dan Candi Prambanan disebut menjadi daya tarik wisata yang memperkuat identitas kota.

Pada bagian akhir, video menyimpulkan bahwa Yogyakarta mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Kota ini dinilai tetap mempertahankan akar budaya Jawa sambil berkembang sebagai kota yang inklusif, ramah, serta memiliki peran penting dalam sejarah dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Editor : Davina Ar Raafika
Sumber : Yt Sang Legenda
Sejarah Yogyakarta Asal usul Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta Kesultanan Yogyakarta Perjanjian Giyanti