RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Cara menghitung naga dina dan patine dina masih menjadi pengetahuan yang dipelajari sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini. Perhitungan dalam primbon Jawa tersebut kerap dijadikan pedoman ketika seseorang akan menggelar hajat besar, mencari rezeki, hingga menentukan arah perjalanan tertentu.
Dalam tradisi Jawa, naga dina diartikan sebagai arah kekuatan atau kejayaan suatu hari. Sementara patine dina dipercaya sebagai arah yang kurang baik dan sebaiknya dihindari ketika seseorang memiliki kepentingan penting.
Pengetahuan mengenai kedua perhitungan tersebut masih digunakan oleh masyarakat yang memegang tradisi weton dan perhitungan neptu.
Naga Dina Disebut Sebagai Kekuatan Hari
Dalam penjelasan primbon Jawa, naga dina juga dikenal sebagai jayane dina atau lungguhe dina.
Maknanya adalah arah tertentu yang dianggap menjadi pusat kekuatan dari suatu hari berdasarkan hitungan weton.
Arah inilah yang dipercaya membawa energi baik dalam menjalankan berbagai aktivitas.
Sebaliknya, patine dina diartikan sebagai "matinya hari" atau kuburane dina.
Karena itu, arah tersebut biasanya dihindari ketika seseorang akan melakukan kegiatan yang dianggap penting.
Misalnya saat mengarak pengantin, pindah rumah, berdagang, atau keperluan besar lainnya.
Mengetahui Neptu Hari dan Pasaran
Sebelum menghitung naga dina maupun patine dina, seseorang harus memahami nilai neptu hari dan pasaran Jawa.
Nilai neptu hari terdiri dari:
Minggu bernilai 5
Senin bernilai 4
Selasa bernilai 3
Rabu bernilai 7
Kamis bernilai 8
Jumat bernilai 6
Sabtu bernilai 9
Sedangkan nilai neptu pasaran meliputi:
Legi bernilai 5
Pahing bernilai 9
Pon bernilai 7
Wage bernilai 4
Kliwon bernilai 8
Setelah mengetahui nilai tersebut, jumlah neptu hari dan pasaran kemudian digabungkan.
Contoh Perhitungan Naga Dina
Sebagai contoh digunakan weton Sabtu Legi.
Sabtu memiliki neptu 9 dan Legi bernilai 5, sehingga total neptunya menjadi 14.
Perhitungan naga dina dimulai dari arah timur atau wetan, kemudian berlanjut ke selatan, barat, dan utara secara berurutan.
Hitungan dilakukan berulang hingga mencapai angka 14.
Dari perhitungan tersebut, angka 14 jatuh pada arah selatan atau kidul.
Dengan demikian, naga dina untuk weton Sabtu Legi berada di arah selatan.
Artinya, arah selatan dipercaya menjadi pusat kekuatan atau kejayaan hari tersebut.
Cara Menentukan Patine Dina
Setelah mengetahui naga dina, langkah berikutnya adalah menghitung patine dina.
Perhitungan dilakukan menggunakan jumlah neptu yang sama, yaitu 14.
Pertama, angka 14 dihitung berdasarkan urutan hari.
Dari hitungan tersebut diperoleh hasil Sabtu.
Kemudian, angka 14 kembali dihitung berdasarkan urutan pasaran dan menghasilkan Kliwon.
Dengan demikian, patine dina dari Sabtu Legi adalah Setu Kliwon.
Weton Setu Kliwon memiliki jumlah neptu 17, yaitu hasil penjumlahan Sabtu bernilai 9 dan Kliwon bernilai 8.
Nilai 17 kemudian dihitung kembali berdasarkan arah mata angin yang dimulai dari timur.
Setelah perhitungan selesai, angka 17 jatuh pada arah timur.
Artinya, arah timur menjadi patine dina atau arah yang sebaiknya dihindari bagi pemilik weton Sabtu Legi ketika memiliki hajat besar.
Dijadikan Pedoman dalam Menentukan Langkah
Menurut penjelasan dalam tradisi Jawa, perhitungan ini digunakan sebagai bentuk kehati-hatian.
Sebagai contoh, seseorang yang hendak berdagang pada hari Sabtu Legi dipercaya sebaiknya tidak menuju arah timur.
Sebab, arah tersebut dianggap sebagai patine dina atau arah yang kurang menguntungkan.
Sebaliknya, arah selatan dipercaya menjadi arah yang membawa kekuatan atau keberuntungan pada hari tersebut.
Meski tidak semua masyarakat masih menerapkannya, perhitungan naga dina dan patine dina tetap menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang terus dipelajari hingga sekarang.
Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa sejak dahulu memiliki berbagai pedoman dalam menentukan langkah dan mengambil keputusan penting dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : mbahyadichannel4123, You Tube, Diolah dari berbagai sumber