Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Apa Itu Naga Dina dan Patine Dina? Begini Cara Menghitungnya Menurut Primbon Jawa

Ingge Nayla Ayu Karina • Sabtu, 18 Juli 2026 | 20:10 WIB
Naga dina dan patine dina merupakan bagian dari hitungan weton Jawa. Simak cara menghitung dan arti keduanya menurut primbon Jawa.
Naga dina dan patine dina merupakan bagian dari hitungan weton Jawa. Simak cara menghitung dan arti keduanya menurut primbon Jawa.

 

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Naga dina dan patine dina menjadi salah satu bagian penting dalam perhitungan weton yang masih dipercaya sebagian masyarakat Jawa. Perhitungan ini biasanya digunakan sebagai pedoman sebelum menggelar acara besar, melakukan perjalanan, hingga mencari rezeki.

 

Dalam tradisi primbon Jawa, naga dina diartikan sebagai arah kekuatan atau kejayaan suatu hari. Sementara patine dina merupakan arah yang dianggap kurang baik dan sebaiknya dihindari saat menjalankan keperluan penting.

 

Pengetahuan tersebut masih diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa yang hingga kini masih dipelajari.

 

Naga Dina Disebut Sebagai Jayane Dina

 

Naga dina juga dikenal dengan istilah jayane dina atau lungguhe dina. Maksudnya adalah arah tertentu yang dipercaya menjadi tempat bersemayamnya kekuatan suatu hari.

 

Arah inilah yang kerap dijadikan patokan oleh sebagian masyarakat ketika hendak melakukan aktivitas penting.

 

Sebaliknya, patine dina diartikan sebagai "matinya hari" atau kuburane dina.

 

Karena itu, arah tersebut umumnya dihindari saat seseorang memiliki hajat besar, seperti mengarak pengantin, pindah rumah, maupun memulai usaha.

 

Menggunakan Dasar Perhitungan Neptu

 

Untuk mengetahui naga dina dan patine dina, seseorang harus memahami neptu hari dan pasaran Jawa terlebih dahulu.

 

Nilai neptu hari terdiri atas:

 

Minggu: 5

 

Senin: 4

 

Selasa: 3

 

Rabu: 7

 

Kamis: 8

 

Jumat: 6

 

Sabtu: 9

 

 

Sedangkan nilai pasaran Jawa meliputi:

 

Legi: 5

 

Pahing: 9

 

Pon: 7

 

Wage: 4

 

Kliwon: 8

 

 

Setelah nilai hari dan pasaran diketahui, keduanya dijumlahkan untuk menentukan hitungan berikutnya.

 

Contoh Perhitungan Menggunakan Weton Sabtu Legi

 

Sebagai contoh, digunakan weton Sabtu Legi.

 

Sabtu memiliki neptu 9 dan Legi bernilai 5. Jika dijumlahkan, total neptunya menjadi 14.

 

Angka 14 tersebut kemudian dihitung berdasarkan arah mata angin yang dimulai dari timur atau wetan.

 

Urutan arah yang digunakan adalah timur, selatan, barat, dan utara secara berulang.

 

Setelah dilakukan perhitungan hingga angka ke-14, hasilnya jatuh pada arah selatan.

 

Dengan demikian, naga dina untuk weton Sabtu Legi berada di arah selatan.

 

Arah tersebut dipercaya sebagai tempat kekuatan atau kejayaan hari tersebut.

 

Cara Menentukan Patine Dina

 

Setelah mengetahui naga dina, langkah berikutnya adalah menghitung patine dina.

 

Perhitungan dilakukan menggunakan angka yang sama, yaitu 14.

 

Angka tersebut terlebih dahulu dihitung berdasarkan urutan hari hingga diperoleh hasil Sabtu.

 

Selanjutnya, perhitungan dilakukan pada urutan pasaran hingga menghasilkan Kliwon.

 

Dari hasil tersebut diperoleh weton Setu Kliwon.

 

Setu Kliwon memiliki jumlah neptu 17, yang berasal dari Sabtu bernilai 9 dan Kliwon bernilai 8.

 

Angka 17 kemudian dihitung kembali berdasarkan arah mata angin, dimulai dari timur.

 

Hasil akhirnya menunjukkan bahwa angka tersebut jatuh pada arah timur.

 

Artinya, patine dina untuk weton Sabtu Legi berada di arah timur.

 

Digunakan Sebagai Pedoman Kehidupan

 

Dalam tradisi masyarakat Jawa, arah patine dina dipercaya sebaiknya dihindari ketika seseorang memiliki keperluan penting.

Baca Juga: Primbon Jawa Ungkap Rahasia Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina, Begini Cara Menghitungnya Berdasarkan Weton

Misalnya saat hendak berdagang, bepergian, menggelar hajatan, atau melakukan perpindahan tempat tinggal.

 

Sebaliknya, arah naga dina dianggap sebagai arah yang memiliki energi atau kekuatan lebih baik pada hari tersebut.

 

Meski tidak semua masyarakat Jawa masih menggunakan perhitungan ini, naga dina dan patine dina tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya dan warisan leluhur yang masih dipelajari hingga sekarang.

 

Keberadaan hitungan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa sejak dahulu memiliki berbagai pedoman simbolis dalam menentukan langkah dan mengambil keputusan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
Sumber : mbahyadichannel4123, youtube, DIOLAH
Naga Dina dan Patine Dina Cara Menghitung Naga Dina Neptu Hari dan Pasaran Jawa Weton Jawa Primbon Jawa