Filosofi Jawa tentang Nafsu dan Akhirat, Pesan agar Bangsa Indonesia Tidak Menjadi Bodoh

Ingge Nayla Ayu Karina • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 19:50 WIB
Filosofi Jawa menjelaskan makna nafsu, Indraloka, dan Ariloka serta pesan agar masyarakat tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa pemahaman.
Filosofi Jawa menjelaskan makna nafsu, Indraloka, dan Ariloka serta pesan agar masyarakat tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa pemahaman.

 

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Sebuah tayangan berisi wejangan spiritual Jawa kembali menarik perhatian publik setelah membahas makna nafsu, kehidupan akhirat, hingga pesan agar masyarakat Indonesia tidak menjadi bangsa yang mudah terpengaruh dan kehilangan akal sehat.

 

Dalam penjelasannya, narasumber menyoroti fenomena sebagian masyarakat yang dinilai terlalu mudah mengikuti sesuatu tanpa memahami makna dan tujuannya.

 

Ia mencontohkan berbagai tindakan yang dianggap tidak rasional, seperti berebut benda atau sesuatu yang diyakini membawa berkah tanpa disertai pemahaman yang benar.

 

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan pentingnya menjaga nalar dan tidak menjadi pribadi yang mudah terbawa arus.

 

"Bangsa Indonesia jangan sampai menjadi bangsa yang bodoh," demikian pesan yang disampaikan dalam wejangan tersebut.

 

Kritik terhadap Sikap Mengikuti Tanpa Memahami

 

Dalam penjelasannya, narasumber mengungkapkan bahwa seseorang seharusnya menggunakan akal sehat sebelum mempercayai atau mengikuti sesuatu.

 

Ia menilai masih ada sebagian masyarakat yang mudah menerima suatu keyakinan atau tindakan tanpa terlebih dahulu memahami esensi dan tujuan sebenarnya.

 

Fenomena tersebut disebut sebagai bentuk dominasi nafsu yang membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir jernih.

 

Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi juga mampu memilah mana hal yang baik dan mana yang tidak.

 

Konsep Nafsu dalam Filosofi Jawa

 

Wejangan tersebut kemudian membahas mengenai konsep nafsu dalam pandangan spiritual Jawa.

 

Disebutkan bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur nafsu, yakni positif dan negatif.

 

Kedua unsur tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan hidup.

 

Menurut penjelasan itu, manusia diharapkan mampu melepaskan sifat-sifat negatif yang bersumber dari nafsu.

 

Jika nafsu negatif berhasil dikendalikan, maka yang tersisa adalah unsur positif yang akan membawa manusia menuju tingkat kehidupan spiritual yang lebih tinggi.

 

Penjelasan tentang Indraloka dan Ariloka

 

Dalam ajaran yang disampaikan, dijelaskan pula mengenai konsep Indraloka dan Ariloka.

 

Indraloka secara umum diibaratkan sebagai alam kasukman atau alam akhirat dalam pemahaman masyarakat.

 

Sementara itu, Ariloka dipahami sebagai tingkatan yang lebih tinggi setelah manusia berhasil mengendalikan berbagai dorongan negatif dalam dirinya.

 

Perjalanan spiritual tersebut digambarkan sebagai proses penyucian diri.

 

Seseorang yang mampu menyingkirkan sifat buruk diyakini akan mencapai kehidupan yang lebih baik secara spiritual.

 

Pada tingkatan tersebut, manusia disebut hanya menyisakan unsur positif dalam dirinya.

 

Pesan Moral bagi Masyarakat

 

Selain membahas konsep spiritual, wejangan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga akal sehat dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Masyarakat diingatkan agar tidak mudah terprovokasi, tidak mudah percaya terhadap sesuatu tanpa pemahaman, serta mampu mengendalikan hawa nafsu.

 

Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi sosial saat ini, ketika arus informasi berkembang sangat cepat dan berbagai fenomena mudah menyebar melalui media digital.

 

Kemampuan berpikir kritis dan menggunakan logika dinilai menjadi salah satu kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak pada tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

 

Filosofi Jawa tentang Pengendalian Diri

 

Dalam tradisi Jawa, pengendalian diri menjadi salah satu ajaran yang sering ditekankan.

Baca Juga: Rahasia Weton Pon Menurut Primbon Jawa: Jangan Usir Burung Perkutut yang Masuk Rumah, Ini Makna Spiritualnya

Seseorang dianggap mampu mencapai kehidupan yang lebih baik apabila dapat mengendalikan nafsu dan mengutamakan kebijaksanaan.

 

Ajaran tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehidupan spiritual, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sosial.

 

Karena itu, pesan agar masyarakat tidak menjadi bangsa yang bodoh dimaknai sebagai ajakan untuk terus belajar, berpikir jernih, dan tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa pemahaman yang benar.

 

Wejangan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik berawal dari kemampuan manusia dalam mengendalikan dirinya sendiri.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
Sumber : Titah Gusti Official, You Tube, DIOLAH
Indraloka dan Ariloka Makna Nafsu Menurut Filosofi Jawa Ajaran Spiritual Jawa Wejangan Kejawen Filosofi Pengendalian Diri Jawa