Filosofi Jawa Ungkap Makna Nafsu dan Akhirat, Manusia Diingatkan Jangan Mudah Terjebak Kebodohan

Ingge Nayla Ayu Karina • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 19:53 WIB
Filosofi Jawa menjelaskan makna nafsu, Indraloka, dan Ariloka serta mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa pemahaman.
Filosofi Jawa menjelaskan makna nafsu, Indraloka, dan Ariloka serta mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa pemahaman.

 

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Wejangan mengenai filosofi Jawa kembali menjadi perhatian setelah membahas pentingnya mengendalikan nafsu dan menggunakan akal sehat dalam menjalani kehidupan. Dalam penjelasan tersebut, masyarakat juga diingatkan agar tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa memahami makna yang sebenarnya.

 

Pesan tersebut disampaikan melalui pembahasan mengenai kehidupan spiritual menurut pandangan Jawa, mulai dari konsep nafsu, Indraloka, hingga Ariloka yang umum dihubungkan dengan kehidupan setelah kematian.

 

Dalam pemaparannya, narasumber menilai masih banyak orang yang mudah percaya dan mengikuti suatu hal hanya karena dianggap membawa berkah atau memiliki nilai tertentu.

 

Padahal, menurutnya, setiap orang perlu menggunakan akal sehat dan pemahaman sebelum mempercayai atau melakukan sesuatu.

 

Wejangan agar Tidak Menjadi Bangsa yang Bodoh

 

Salah satu pesan utama dalam pembahasan tersebut adalah peringatan agar masyarakat Indonesia tidak menjadi bangsa yang mudah dipengaruhi.

 

Narasumber mencontohkan berbagai fenomena ketika sebagian orang mengikuti sesuatu secara berlebihan tanpa memahami esensi dan tujuannya.

 

Sikap tersebut dinilai sebagai bentuk kurangnya kemampuan berpikir kritis.

 

Karena itu, masyarakat diingatkan untuk tidak hanya mengikuti arus, tetapi juga memahami alasan di balik setiap tindakan yang dilakukan.

 

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam ajakan agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa yang bodoh dan tetap mengedepankan akal sehat.

 

Konsep Nafsu dalam Pandangan Spiritual Jawa

 

Dalam filosofi Jawa, manusia disebut memiliki unsur nafsu yang memengaruhi perjalanan hidupnya.

 

Nafsu tersebut dibagi menjadi dua bagian, yakni unsur positif dan unsur negatif.

 

Keberadaan kedua unsur itu dianggap menentukan kualitas spiritual seseorang.

 

Menurut penjelasan yang disampaikan, manusia diharapkan mampu mengendalikan dan melepaskan sifat-sifat negatif yang berasal dari dorongan nafsu.

 

Apabila unsur negatif berhasil ditinggalkan, maka yang tersisa hanyalah unsur positif yang akan membawa seseorang menuju tingkatan spiritual yang lebih tinggi.

 

Makna Indraloka dalam Filosofi Jawa

 

Pembahasan selanjutnya mengarah pada konsep Indraloka.

 

Dalam penjelasan tersebut, Indraloka disebut sebagai alam kasukman yang secara umum sering dipahami sebagai alam akhirat.

 

Konsep ini menggambarkan fase perjalanan spiritual manusia setelah berhasil mengendalikan berbagai dorongan negatif dalam dirinya.

 

Indraloka tidak hanya dimaknai sebagai tempat, tetapi juga sebagai simbol peningkatan kualitas jiwa manusia.

 

Karena itu, perjalanan menuju Indraloka dianggap memerlukan proses pengendalian diri yang panjang.

 

Ariloka Diibaratkan Sebagai Surga

 

Setelah melewati fase Indraloka, manusia diyakini akan memasuki tingkatan yang lebih tinggi, yaitu Ariloka.

 

Dalam penjelasan tersebut, Ariloka secara umum diibaratkan sebagai surga.

 

Tahapan ini disebut sebagai kondisi ketika manusia telah meninggalkan berbagai sifat buruk dan hanya menyisakan unsur positif dalam dirinya.

 

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa dalam filosofi Jawa, perjalanan spiritual sangat berkaitan dengan proses penyucian diri dan pengendalian hawa nafsu.

 

Semakin mampu seseorang mengendalikan dorongan negatif, maka semakin tinggi pula kualitas spiritual yang dimilikinya.

 

Pesan Moral bagi Kehidupan Modern

 

Wejangan tersebut tidak hanya membahas persoalan spiritual, tetapi juga mengandung pesan moral yang relevan dengan kehidupan saat ini.

 

Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai fenomena sosial, masyarakat diminta untuk tetap menggunakan logika dan kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai hal.

Baca Juga: Filosofi Jawa tentang Nafsu dan Akhirat, Pesan agar Bangsa Indonesia Tidak Menjadi Bodoh

Kemampuan berpikir kritis dianggap penting agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh tindakan yang belum tentu memiliki dasar yang benar.

 

Selain itu, pengendalian nafsu juga dipandang sebagai salah satu kunci untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

 

Filosofi Jawa tersebut pada akhirnya mengajarkan bahwa kebijaksanaan, pengendalian diri, dan penggunaan akal sehat merupakan bekal utama bagi manusia dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun dalam perjalanan spiritual yang diyakini masyarakat Jawa.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
Sumber : Titah Gusti Official, You Tube, DIOLAH
Ajaran Spiritual Jawa Filosofi Jawa Tentang Nafsu dan Akhirat Makna Indraloka dan Ariloka Pengendalian Nafsu Dalam Kejawen Wejangan Filosofi Jawa Tentang Kehidupan