RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Filosofi Kejawen kembali menjadi perbincangan setelah muncul penjelasan mengenai pentingnya mengendalikan nafsu serta menggunakan akal sehat dalam menjalani kehidupan. Wejangan tersebut juga menyoroti fenomena masyarakat yang dinilai mudah mengikuti sesuatu tanpa memahami maknanya secara mendalam.
Dalam pemaparannya, narasumber menyampaikan bahwa manusia tidak seharusnya melakukan sesuatu hanya karena ikut-ikutan atau menganggap suatu hal sebagai berkah tanpa memahami esensi sebenarnya.
Fenomena tersebut disebut sebagai bentuk lemahnya nalar dan kecenderungan mengikuti dorongan nafsu.
Karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak mudah terbawa arus dan tetap mengedepankan pemikiran yang jernih.
"Bangsanya jangan sampai menjadi bangsa yang bodoh," menjadi salah satu pesan utama dalam wejangan tersebut.
Kritik terhadap Sikap yang Mudah Mengikuti Tren
Dalam penjelasannya, narasumber menyinggung berbagai fenomena di masyarakat yang dianggap menunjukkan rendahnya sikap kritis.
Ia menilai masih banyak orang yang rela melakukan sesuatu hanya karena mengikuti orang lain, tanpa memahami tujuan maupun manfaat yang sebenarnya.
Sikap seperti itu dipandang dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir rasional.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi maupun fenomena sosial yang berkembang.
Nafsu Menjadi Bagian Penting dalam Kehidupan Manusia
Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep nafsu dalam filosofi Jawa.
Disebutkan bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur nafsu, yakni nafsu positif dan nafsu negatif.
Kedua unsur tersebut diyakini memengaruhi perilaku serta perjalanan spiritual manusia.
Menurut ajaran tersebut, tujuan manusia bukan menghilangkan seluruh nafsu, melainkan mengendalikan dan melepaskan unsur-unsur negatif yang ada di dalam dirinya.
Jika hal tersebut berhasil dilakukan, maka manusia hanya akan menyisakan unsur positif yang dapat membawa kehidupan menjadi lebih baik.
Indraloka Dipahami sebagai Alam Kasukman
Dalam wejangan itu juga dijelaskan mengenai konsep Indraloka.
Secara umum, Indraloka disebut sebagai alam kasukman atau alam spiritual yang sering dipahami sebagai gambaran kehidupan akhirat.
Konsep tersebut menggambarkan tahapan perjalanan manusia setelah berhasil mengendalikan dorongan-dorongan negatif dalam dirinya.
Indraloka dipandang sebagai fase penting dalam proses penyempurnaan jiwa.
Karena itu, seseorang harus mampu menata dirinya terlebih dahulu sebelum mencapai tingkatan spiritual yang lebih tinggi.
Ariloka Diibaratkan Sebagai Surga
Setelah melalui tahapan Indraloka, manusia diyakini dapat mencapai Ariloka.
Dalam penjelasan tersebut, Ariloka secara umum diartikan sebagai surga.
Tahapan ini menggambarkan kondisi ketika manusia telah berhasil meninggalkan sifat-sifat buruk dan hanya menyisakan energi positif dalam dirinya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa filosofi Jawa menempatkan pengendalian diri sebagai bagian penting dalam perjalanan spiritual manusia.
Semakin seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya, maka semakin tinggi pula kualitas kehidupannya secara batin.
Pesan Moral bagi Kehidupan Modern
Selain membahas konsep spiritual, wejangan tersebut juga mengandung pesan yang relevan dengan kondisi saat ini.
Baca Juga: Filosofi Jawa Ungkap Makna Nafsu dan Akhirat, Manusia Diingatkan Jangan Mudah Terjebak Kebodohan
Di era perkembangan informasi yang begitu cepat, masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya dan tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa pemahaman yang jelas.
Kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi bekal penting agar seseorang tidak mudah terjebak dalam tindakan yang merugikan dirinya sendiri.
Filosofi Kejawen tersebut pada akhirnya mengajarkan bahwa manusia perlu menjaga keseimbangan antara akal, hati, dan nafsu.
Dengan pengendalian diri yang baik, seseorang diyakini dapat menjalani kehidupan yang lebih bijaksana serta mencapai ketenangan batin dalam perjalanan spiritualnya.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : Titah Gusti Official, You Tube, DIOLAH