RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Ramalan Jayabaya 2026 kembali banyak diperbincangkan karena sejumlah tafsir mengaitkan jangka Jayabaya dengan potensi bencana, perubahan kekuatan global, krisis sosial, hingga kondisi Indonesia. Namun, ramalan tersebut bukan kepastian mengenai apa yang akan terjadi pada masa depan.
Prabu Jayabaya dikenal sebagai Raja Panjalu atau Kediri yang disebut memerintah sekitar 1135 hingga 1159 Masehi. Dalam tradisi Jawa, Jayabaya memiliki gelar abiseka yang menandai legitimasi spiritual sekaligus politik seorang raja.
Dalam berbagai naskah kuno, Jayabaya digambarkan sebagai pemimpin bijak dan dikaitkan dengan penjelmaan Sang Hyang Wisnu. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Kediri disebut memasuki masa keemasan, baik dalam stabilitas politik maupun kehidupan sosial.
Peninggalan sastra pada masa tersebut kemudian dikaitkan dengan jangka Jayabaya, kumpulan ramalan simbolik mengenai perjalanan zaman dan nasib tanah Jawa. Ramalan itu dipercaya sebagian masyarakat karena sejumlah bagian dianggap memiliki kemiripan dengan peristiwa yang kemudian terjadi dalam sejarah.
Baca Juga: Xiaomi TV A Pro 43 2026 Bikin Kaget, Layar QLED 4K dan Frame Metal
Ramalan Jayabaya yang Dikaitkan dengan Teknologi dan Sejarah
Salah satu bagian yang sering disebut adalah kalimat “besuk yen wis ana kreta tanpa jaran”, yang dimaknai sebagai kelak akan ada kereta tanpa kuda.
Pada masa Jayabaya, kuda menjadi simbol penting dalam transportasi. Karena itu, gambaran kendaraan yang bergerak tanpa tenaga hewan dianggap sulit dibayangkan. Dalam tafsir modern, kalimat tersebut kemudian dikaitkan dengan perkembangan kereta api, mobil, motor, pesawat hingga kendaraan listrik.
Ada pula ungkapan “tanah Jawa kalungan wesi” atau Jawa yang dikalungi besi. Tafsir masa kini menghubungkannya dengan rel kereta api, jalan raya, jembatan, gedung, pabrik dan kawasan industri yang berkembang di Pulau Jawa.
Namun, ungkapan itu juga ditafsirkan secara simbolis. Besi tidak hanya dipahami sebagai benda fisik, tetapi dapat dimaknai sebagai gambaran belenggu sistem dan kekuasaan ekonomi ketika tanah serta sumber daya semakin dikuasai segelintir pihak.
Ramalan lain yang sering dikaitkan dengan teknologi adalah “prau mlaku ing dhuwur awang-awang”, yang dimaknai sebagai perahu berjalan di atas langit. Dalam tafsir modern, ungkapan tersebut dikaitkan dengan pesawat terbang.
Sementara itu, ungkapan mengenai sungai yang kehilangan kedalaman dan bumi yang menyusut sering dibaca sebagai gambaran kerusakan lingkungan akibat eksploitasi, penggundulan hutan, pertambangan, reklamasi dan pembangunan.
Baca Juga: Xiaomi TV S Mini LED 2026 Resmi Diperkenalkan, Punya 880 Local Dimming Zone dan 144 Hz
Ramalan 2026 dan Risiko Bencana
Salah satu bagian yang banyak dikaitkan dengan masa depan adalah ungkapan “Nembe ketemu rupah karah, Pulau Jawa pecah dadi loro”. Sebagian penafsir menghubungkannya dengan kemungkinan gempa besar dan tsunami yang dapat mengubah kondisi pesisir.
Dalam transkrip, bagian tersebut dikaitkan dengan keberadaan zona megathrust di Indonesia, terutama Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. Megathrust Selat Sunda disebut memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,7.
Namun, hubungan antara ungkapan Jayabaya dan kejadian bencana masa depan merupakan tafsir, bukan kepastian.
Ramalan 2026 juga dikaitkan dengan ungkapan “Landa Cina kari sejodoh”. Dalam tafsir modern, kalimat tersebut dibaca sebagai simbol pergeseran dominasi global dari Barat, khususnya Amerika Serikat, menuju Cina.
Selain itu, tahun 2026 dalam versi ramalan yang beredar disebut akan diwarnai tujuh peristiwa besar, mulai dari krisis ekonomi, bencana beruntun, konflik sosial, wabah penyakit baru, krisis kepemimpinan, perubahan iklim ekstrem hingga kebangkitan spiritual.
Meski demikian, ramalan Jayabaya tidak dapat diposisikan sebagai jadwal pasti masa depan. Ramalan tersebut hidup melalui tafsir, kecenderungan dan pembacaan terhadap pola sejarah.
Jayabaya juga tidak semata-mata dipandang sebagai peramal. Ia dikenal sebagai raja, patron sastra dan pemikir yang menggunakan simbol serta bahasa kias untuk menggambarkan zamannya.
Karena itu, ramalan Jayabaya 2026 lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi tafsir budaya Jawa. Maknanya dapat menjadi bahan refleksi mengenai kekuasaan, perilaku manusia, lingkungan dan perubahan zaman, bukan kepastian bahwa seluruh peristiwa yang disebut akan benar-benar terjadi.
Baca Juga: Xiaomi TV 43 Inci Ini Sudah Dipakai 7 Bulan, Begini Kualitasnya
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest