RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM- Megathrust Jawa 2026 dalam narasi yang beredar dikaitkan dengan ajaran Jawa tentang tanda perubahan zaman. Namun, isi narasi tersebut menegaskan bahwa megathrust bukan kepastian bencana yang harus ditakuti, melainkan peringatan agar manusia lebih sadar, waspada, dan memahami kondisi alam.
Dalam ajaran Jawa kuno, kondisi tanah yang menyimpan kekuatan besar disebut lemah nyimpendyo. Narasi tersebut menggambarkan keadaan itu sebagai tanah yang menyimpan energi besar. Ketika bumi berada dalam fase tersebut, pesan leluhur yang ditekankan bukan soal kehancuran, melainkan eling lan waspodo, atau sadar dan waspada.
Narasi itu kemudian menghubungkan konsep tersebut dengan megathrust, yakni zona tumbukan lempeng bumi di selatan Pulau Jawa. Lempeng Indo-Australia disebut terus menyusup ke bawah lempeng Eurasia. Gerakan yang berlangsung perlahan tetapi menyimpan tekanan besar kemudian dijadikan gambaran mengenai energi yang terpendam.
Baca Juga: Xiaomi TV 43 Inci Ini Sudah Dipakai 7 Bulan, Begini Kualitasnya
Wilayah Megathrust Jawa yang Disebut
Dalam narasi tersebut, zona megathrust Jawa disebut membentang dari selatan Banten hingga Selat Sunda, selatan Jawa Barat, selatan Jawa Tengah, hingga selatan Jawa Timur.
Wilayah tersebut disebut sebagai seismic gap, yakni area yang dalam narasi dipandang belum melepaskan energi. Dalam istilah Jawa kuno yang digunakan narator, kondisi itu disebut wewengkon sing durung ngeculke doyo, atau wilayah yang belum melepaskan energi.
Selain penjelasan mengenai kondisi geologi, narasi juga memasukkan perspektif spiritual Jawa. Bumi disebut sebagai ibu pertiwi, bukan sekadar benda mati. Ketika keseimbangan terganggu, kondisi tersebut dimaknai sebagai bentuk peringatan alam.
Energi megathrust dalam perspektif spiritual yang disampaikan narator disebut sebagai doyo pambalik keseimbangan, atau energi untuk mengembalikan keseimbangan. Narasi itu menekankan bahwa kondisi tersebut tidak dimaknai sebagai murka ataupun kutukan.
Jayabaya, Semar, dan Sabdo Palon
Narasi juga mengaitkan fenomena tersebut dengan penafsiran terhadap Kitab Jayabaya. Disebutkan sebuah ungkapan, “naliko bumi gumregah lan segoro ora sare, manungso kudu eling marang lakune”. Maknanya, ketika bumi bergerak dan laut tidak tenang, manusia harus menyadari perilakunya.
Namun, narasi tersebut juga menyebut Jayabaya tidak memberikan waktu pasti mengenai kapan kondisi itu terjadi. Yang disebut adalah kondisi atau tanda zaman, seperti perubahan alam, aktivitas laut selatan, dan manusia yang dianggap semakin jauh dari keseimbangan kehidupan.
Fase tersebut kemudian disebut sebagai zaman topolan Pancobo, yang dimaknai sebagai masa ujian, bukan kehancuran.
Selain Jayabaya, sosok Semar juga ditempatkan sebagai simbol keselamatan dalam falsafah Jawa. Semar disebut sebagai pamomong jagat atau pengasuh dunia. Pesan yang ditekankan adalah “sing srawung karo alam bakal dilindungi alam”, yakni manusia yang hidup selaras dengan alam akan dilindungi alam.
Sementara itu, Sabdo Palon disebut sebagai pangrekso tanah Jawi, atau penjaga tatanan Jawa. Pesan yang dikaitkan dengannya adalah “ojo dumeh, ojo ngeremehake tondo”, yang berarti jangan sombong dan jangan meremehkan pertanda.
Gempa kecil, perubahan laut, dan pergeseran musim dalam narasi tersebut disebut sebagai tetenger alam, atau tanda-tanda alam.
Baca Juga: Xiaomi TV S Mini LED 2026 Resmi Diperkenalkan, Punya 880 Local Dimming Zone dan 144 Hz
Pesan untuk Menghadapi Megathrust
Narasi tersebut juga memberikan sejumlah sikap yang disebut sebagai cara menghadapi ancaman tanpa panik. Pertama adalah eling, yakni menyadari bahwa manusia merupakan bagian dari bumi, bukan penguasa bumi.
Kedua, waspada tanpa takut. Masyarakat diminta tetap siaga, mengikuti informasi resmi pemerintah, dan mengenali wilayah tempat tinggal masing-masing.
Ketiga adalah noto batin atau menjaga kondisi batin agar pikiran tetap jernih ketika menghadapi keadaan darurat. Keempat, noto laku, yakni menjalani kehidupan secara sederhana dan tidak serakah.
Terakhir adalah doa dan adab. Doa dalam narasi tersebut diposisikan bukan untuk melawan alam, tetapi untuk menjaga ketenangan jiwa.
Pada akhirnya, Megathrust Jawa 2026 dalam narasi tersebut tidak disebut sebagai kepastian bencana. Istilah wewaler lan pepeling digunakan sebagai pesan peringatan agar manusia lebih sadar terhadap alam.
Pesan yang ditekankan adalah eling lan waspodo, bukan kepanikan. Dalam ajaran Jawa yang dikutip narator, alam disebut tidak pernah ingkar, sementara manusia yang kerap mengingkari keseimbangan.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest