RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM- Ramalan Jayabaya 2026 dalam sebuah narasi spiritual Jawa dikaitkan dengan perjalanan dua tokoh politik, yakni Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Narasi tersebut menafsirkan 2026 sebagai fase pengujian pemimpin, ketika sosok yang diremehkan disebut berpeluang mengalami perubahan nasib.
Dedi Mulyadi memang menjabat Gubernur Jawa Barat, sementara Gibran Rakabuming merupakan Wakil Presiden Republik Indonesia. Status tersebut juga tercatat dalam sumber resmi pemerintah daerah Jawa Barat dan laman resmi Wakil Presiden.
Namun, berbagai klaim mengenai weton, energi spiritual, hingga prediksi perjalanan kedua tokoh pada 2026 merupakan tafsir dalam narasi video, bukan fakta yang dapat dipastikan secara objektif.
Baca Juga: Xiaomi TV 43 Inci Ini Sudah Dipakai 7 Bulan, Begini Kualitasnya
Tafsir Jayabaya tentang Tahun 2026
Dalam narasi tersebut, 2026 disebut sebagai tahun ketika “topeng mulai jatuh”. Tahun itu digambarkan sebagai masa pengujian pemimpin sekaligus pembuktian watak.
Narator menyebut fase tersebut sebagai masa pemisahan antara penampilan dan isi, pemurnian kekuasaan, serta perubahan derajat. Ungkapan yang digunakan adalah “lintang gumebyar”, dengan penjelasan bahwa banyaknya bintang di langit tidak berarti semuanya mampu bersinar.
Pesan tersebut kemudian diarahkan kepada Dedi Mulyadi dan Gibran. Dedi disebut sebagai sosok yang pernah diremehkan dengan julukan “gubernur konten”, sedangkan Gibran dikaitkan dengan julukan “plonga-plongo”.
Dalam narasi spiritual Jawa itu, hinaan justru ditafsirkan sebagai salah satu tanda awal pengujian dan perubahan nasib.
Dedi Mulyadi kemudian dikaitkan dengan weton Minggu Wage. Narasi menyebut weton tersebut sebagai simbol pemikul beban dan tanggung jawab sosial. Neptunya disebut berjumlah 9.
Menurut tafsir yang disampaikan, sosok dengan weton tersebut sering disalahpahami atau diremehkan, tetapi dianggap memiliki daya tahan kuat. Dedi juga disebut memiliki kedekatan dengan rakyat sehingga gaya kepemimpinannya dipandang sederhana.
Narasi selanjutnya menyebut ungkapan “sing bakal munggah kudu diremuk luwih disik”, yang dimaknai sebagai orang yang akan naik harus melewati tekanan terlebih dahulu.
Baca Juga: Xiaomi TV S Mini LED 2026 Resmi Diperkenalkan, Punya 880 Local Dimming Zone dan 144 Hz
Tafsir Weton Dedi Mulyadi dan Gibran
Berbeda dengan Dedi, Gibran disebut memiliki weton Kemis Legi dengan neptu 13. Dalam narasi, weton tersebut dikaitkan dengan kepemimpinan formal dan kemunculan yang cepat di ruang publik.
Angka 13 disebut sebagai simbol ujian mental dan kedewasaan. Sosok dengan weton tersebut digambarkan cepat mendapatkan panggung, tetapi sekaligus menghadapi tuntutan publik yang besar.
Julukan terhadap Gibran kemudian ditafsirkan sebagai bentuk tuntutan agar dirinya menunjukkan kemampuan dan isi kepemimpinan, bukan sekadar mengandalkan nama.
Untuk 2026, narasi tersebut menyebut Dedi akan menghadapi ujian konsistensi, sedangkan Gibran disebut menghadapi ujian kedalaman karakter dan sikap.
Dedi digambarkan mengalami kenaikan secara perlahan, tetapi memiliki akar dukungan yang kuat. Sementara Gibran disebut sudah berada di posisi tinggi sehingga sorotan dan ujiannya dinilai lebih besar.
Baca Juga: Xiaomi TV A Pro 43 2026 Dibanderol Rp3,5 Jutaan, Ada Fitur yang Bikin Kecewa
Prediksi Nasib yang Disebut dalam Narasi
Bagian berikutnya secara khusus membahas prediksi terhadap Dedi Mulyadi. Tahun 2026 disebut sebagai masa penguatan simbol dan penyatuan dukungan dari kelompok bawah.
Narasi menggunakan istilah “munggah tanpo rame”, yang dimaknai sebagai naik tanpa banyak keramaian. Dedi disebut tidak akan menguat melalui skandal, melainkan melalui kepercayaan masyarakat.
Sementara itu, Gibran disebut memasuki fase penentuan arah dan karakter. Narasi menyatakan bahwa ia perlu menunjukkan sikap mandiri dan ketegasan agar tuntutan publik terhadap dirinya dapat dijawab.
Perlu ditegaskan, prediksi tersebut merupakan isi dan tafsir spiritual dalam video, bukan ramalan yang dapat dipastikan akan terjadi.
Pada bagian akhir, narasi kembali menekankan gagasan bahwa pemimpin tidak selalu lahir dari pujian. Dedi disebut diuji keteguhan jalannya, sedangkan Gibran diuji kedalaman isinya.
Dengan demikian, ramalan Jayabaya 2026 dalam video tersebut lebih banyak digunakan untuk membaca perjalanan kepemimpinan melalui simbol, weton dan falsafah Jawa. Pembaca perlu membedakan antara tafsir spiritual tersebut dengan fakta mengenai posisi dan aktivitas kedua tokoh yang dapat diverifikasi melalui sumber resmi.
Baca Juga: Lulus, Tapi Kompeten?
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest