Ramalan Jayabaya tentang Zaman Penuh Bencana hingga Munculnya Ratu Adil

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 19:15 WIB
Ramalan Jayabaya menggambarkan masa penuh bencana dan ketidakadilan sebelum munculnya Ratu Adil atau Satria Piningit (Pinterest).
Ramalan Jayabaya menggambarkan masa penuh bencana dan ketidakadilan sebelum munculnya Ratu Adil atau Satria Piningit (Pinterest).

RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM- Ramalan Jayabaya kembali menjadi perhatian karena memuat gambaran tentang masa penuh bencana, ketidakadilan, serta munculnya zaman baru setelah kondisi yang disebut sebagai masa paling berat. Dalam narasi tersebut, ramalan Prabu Jayabaya dikaitkan dengan kehidupan Nusantara dan harapan masyarakat terhadap hadirnya sosok Ratu Adil atau Satria Piningit.

Prabu Jayabaya disebut sebagai Raja Kediri yang memerintah sekitar 1135 hingga 1157. Nama lengkapnya dalam narasi adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sriwarno Suara Madhusudana Awatara Anindita Sutri Singa Parakrama Uttunggadewa.

Masa pemerintahan Jayabaya digambarkan sebagai periode kejayaan Kediri. Sejumlah peninggalan yang disebut dalam narasi antara lain Prasasti Hantang tahun 1135, Prasasti Talent tahun 1136, Prasasti Jepun tahun 1144, serta Kakawin Bharatayuddha tahun 1157.

Prasasti Hantang atau Prasasti Ngantang juga disebut memuat semboyan “Panjalu Jayati” yang berarti Kediri menang. Prasasti tersebut dikaitkan dengan piagam usaha dan anugerah bagi penduduk Desa Ngantang yang tetap setia kepada Kediri dalam perang melawan Jenggala.

Baca Juga: Xiaomi TV 43 Inci Ini Sudah Dipakai 7 Bulan, Begini Kualitasnya

Ramalan tentang Masa Penuh Bencana

Dalam narasi, ramalan Jayabaya digambarkan sebagai ramalan mengenai keadaan Nusantara pada suatu masa di masa depan. Salah satu bagian menyebut akan datang masa yang penuh bencana.

Gunung-gunung disebut akan meletus, bumi berguncang, sedangkan laut dan sungai meluap. Masa tersebut digambarkan sebagai periode penuh penderitaan, kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian.

Kondisi sosial dalam ramalan juga disebut mengalami pembalikan nilai. Orang-orang licik digambarkan berkuasa, sementara orang baik justru mengalami penindasan.

Namun, masa tersebut tidak disebut sebagai akhir dari seluruh kehidupan. Setelah periode paling berat, narasi menyebut akan datang zaman baru yang penuh kemegahan dan kemuliaan.

Zaman baru itu disebut sebagai zaman keemasan Nusantara dan dikaitkan dengan munculnya sosok Ratu Adil atau Satria Piningit.

Ramalan tersebut disebut masih diperhatikan banyak orang hingga ratusan tahun setelah masa Jayabaya. Dalam narasi, Presiden Soekarno juga disebut pernah menyinggung kepercayaan masyarakat terhadap Ratu Adil.

Kutipan Soekarno tentang Ratu Adil

Narasi kemudian mengutip pernyataan Soekarno dalam Indonesia Menggugat pada 1930. Dalam kutipan tersebut, Soekarno mempertanyakan alasan rakyat terus percaya dan menunggu kedatangan Ratu Adil.

Soekarno mengaitkan harapan tersebut dengan kondisi rakyat yang menderita. Ia menggambarkan harapan terhadap pertolongan seperti seseorang yang berada dalam kegelapan dan terus menunggu terbitnya matahari.

Kutipan itu menunjukkan bagaimana gagasan mengenai Ratu Adil tidak hanya muncul dalam pembicaraan mengenai ramalan, tetapi juga pernah digunakan Soekarno untuk menjelaskan harapan rakyat pada masa perjuangan.

Baca Juga: Xiaomi TV S Mini LED 2026 Resmi Diperkenalkan, Punya 880 Local Dimming Zone dan 144 Hz

Lima Gambaran Kondisi Masyarakat

Bagian selanjutnya dalam narasi menyebut sejumlah ungkapan yang dikaitkan dengan ramalan Jayabaya.

Pertama, “wongkang laku walau munggah pangkat”, yang dalam narasi dimaknai sebagai banyak orang jahat yang justru naik pangkat.

Kedua, “wong cilik akeh kang kepencil”. Ungkapan ini diartikan sebagai banyak rakyat kecil yang tersingkir.

Ketiga, “wong kang mulyo di kunjoro”, yang dimaknai sebagai banyak orang mulia justru dipenjara.

Keempat, “kan curang garang”, yang dalam narasi diartikan sebagai orang yang berlaku curang justru berkuasa.

Kelima, “wongkang jujur malah ajur”. Ungkapan tersebut dimaknai sebagai orang jujur yang justru mengalami nasib sengsara.

Narasi juga sempat menyebut klaim mengenai tahun 2021 sebagai tahun yang dikaitkan dengan kiamat. Namun, bagian tersebut tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana klaim itu seharusnya dipahami.

Secara keseluruhan, ramalan Jayabaya dalam narasi menggambarkan siklus kehidupan masyarakat yang bergerak dari masa penuh bencana dan ketidakadilan menuju harapan akan zaman baru. Sosok Ratu Adil atau Satria Piningit ditempatkan sebagai bagian penting dari gambaran perubahan tersebut.

Ramalan itu sendiri disampaikan sebagai bagian dari tradisi dan keyakinan yang berkembang di masyarakat. Karena itu, gambaran mengenai bencana, kondisi sosial, maupun datangnya zaman keemasan merupakan isi narasi dan tafsir yang disampaikan, bukan kepastian mengenai peristiwa masa depan.

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : Pinterest
Prabu Jayabaya Satria Piningit Ratu Adil Ramalan Jayabaya Kerajaan Kediri