SURABAYA - Asal Usul Kota Surabaya lekat dengan legenda pertarungan dua hewan buas, yakni Sura yang digambarkan sebagai hiu penguasa laut dan Baya sebagai buaya penguasa sungai. Kisah tersebut menceritakan perselisihan keduanya dalam memperebutkan wilayah perburuan hingga akhirnya nama Surabaya dipercaya berkaitan dengan pertarungan dahsyat tersebut.
Legenda ini menjadi salah satu cerita rakyat yang dikenal masyarakat Jawa Timur. Dalam kisahnya, Sura dan Baya sama-sama digambarkan sebagai hewan kuat yang memiliki wilayah kekuasaan masing-masing.
Baya, Buaya Penguasa Sungai
Diceritakan, dahulu kala di wilayah sebelah utara Jawa Timur terdapat sebuah sungai yang dihuni seekor buaya raksasa bernama Baya. Ia dikenal sebagai pemangsa ganas sekaligus penguasa sungai.
Baca Juga: Jakarta Jober 2026 Buka 3.857 Lowongan Kerja dari 37 Perusahaan
Baya sangat pandai berburu. Keberadaannya membuat berbagai binatang yang hidup di sekitar hutan dan tepian sungai merasa takut. Hampir setiap hari Baya mencari mangsa untuk memenuhi kebutuhan makanannya.
Sungai tersebut kemudian bermuara ke laut yang luas. Di laut itu tinggal seekor hiu ganas bernama Sura. Ia dikenal sebagai penguasa laut yang ditakuti ikan-ikan di sekitarnya.
Namun, Sura mulai merasa bosan karena setiap hari hanya menyantap ikan. Ia kemudian penasaran dengan sungai yang bermuara ke laut tempat tinggalnya.
Baca Juga: 6 Aplikasi Pencari Kerja Terbaik, Ada Fitur CV hingga Chat HRD
Suatu hari, Sura berenang menuju sungai. Di tepian, ia melihat seekor anak kijang sedang minum. Sura kemudian menangkapnya dan mendapatkan makanan selain ikan.
Sejak saat itu, Sura mulai sering berburu di sungai. Akibatnya, jumlah mangsa Baya semakin berkurang.
Sura dan Baya Membuat Perjanjian
Baya akhirnya mengetahui keberadaan Sura setelah melihatnya menangkap seekor anak monyet. Ia marah karena merasa wilayah perburuannya telah dimasuki.
Keduanya kemudian terlibat pertengkaran. Sura beranggapan semua binatang bebas mencari makanan di sungai, sedangkan Baya menganggap sungai tersebut merupakan wilayah kekuasaannya.
Baca Juga: Cara Daftar Kartu Prakerja Lewat HP, Simak Langkah Buat Akun hingga Login
Pertarungan berlangsung lama hingga keduanya kelelahan. Karena sama-sama kuat, tidak ada yang berhasil menjadi pemenang.
Akhirnya, Sura dan Baya sepakat menghentikan pertarungan. Mereka membuat perjanjian bahwa muara menjadi batas wilayah perburuan. Sura kembali ke laut, sedangkan Baya tetap berada di sungai.
Pertarungan Sura dan Baya Kembali Terjadi
Beberapa bulan kemudian, Sura kembali merasa ingin menyantap daging. Ia diam-diam masuk ke sungai dan berburu tanpa sepengetahuan Baya.
Baca Juga: PPG Kemenag 2026, Kuota 356 Ribu, Pendaftaran Disebut Mulai 1 April
Baya kembali curiga karena jumlah mangsa di wilayahnya berkurang. Ia kemudian menyusun sebuah rencana untuk membuktikan bahwa Sura telah melanggar perjanjian.
Baya menangkap seekor kijang, melukai kakinya, lalu meletakkannya di tepi sungai. Setelah itu, Baya bersembunyi dan menunggu Sura datang.
Sura melihat kijang tersebut dan berniat membawanya ke laut. Namun, ketika hendak membawa mangsanya, Baya muncul dan menghadangnya.
Baca Juga: PPG Daljab Kemenag 2026, Guru Wajib Cek EMIS dan SIAGA Sebelum Terlambat
Pertengkaran kembali terjadi. Baya menuduh Sura melanggar perjanjian, sementara Sura menganggap kesepakatan sebelumnya tidak lagi berlaku.
Perkelahian pun kembali pecah. Keduanya bertarung dengan sengit hingga mengalami luka. Dalam pertarungan tersebut, Baya berhasil menggigit ekor Sura sampai putus.
Sura akhirnya melarikan diri menuju laut. Sejak kejadian itu, Sura disebut tidak lagi berani mendekati sungai.
Dalam legenda tersebut, tempat pertarungan antara Sura dan Baya kemudian disebut Surabaya. Kisah pertarungan dua hewan tersebut menjadi cerita rakyat yang dikaitkan dengan asal-usul nama Kota Surabaya.
Baca Juga: Kartu Prakerja Beralih ke Kementerian Ketenagakerjaan, Tunggu Proses Transisi
Course: YouTube @dongengkita
Editor : Agnes Adelia Hernanda