Sejarah Malang: Jejak Kanjuruhan hingga Jadi Kota Pendidikan dan Wisata

Agnes Adelia Hernanda • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 07:50 WIB
Sejarah Malang menyimpan jejak Kerajaan Kanjuruhan hingga transformasinya menjadi kota pendidikan, budaya, dan wisata.
Sejarah Malang menyimpan jejak Kerajaan Kanjuruhan hingga transformasinya menjadi kota pendidikan, budaya, dan wisata.

 

MALANG - Sejarah Malang memiliki perjalanan panjang yang berkaitan dengan Kerajaan Kanjuruhan, perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa, masa kolonial Belanda, perjuangan kemerdekaan, hingga transformasinya menjadi kota pendidikan dan wisata. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui prasasti, situs peninggalan kerajaan, bangunan kolonial, kesenian tradisional, serta perkembangan Malang sebagai pusat pendidikan dan ekonomi di Jawa Timur.
Jejak Kerajaan Kanjuruhan
Pembahasan sejarah Malang tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Kanjuruhan yang berkembang di sekitar wilayah Malang pada abad ke-8. Pemerintah Kota Malang menyebut Prasasti Kanjuruhan atau Prasasti Dinoyo sebagai salah satu bukti penting keberadaan kerajaan tersebut.
Prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi mencatat nama Dewa Singha dan putranya, Liswa atau Limwa, yang kemudian dikenal dengan gelar Gajayana. Pada masa Raja Gajayana, Kanjuruhan disebut mengalami perkembangan dalam bidang pemerintahan, sosial, ekonomi, serta kebudayaan.

Baca Juga: Jakarta Jober 2026 Buka 3.857 Lowongan Kerja dari 37 Perusahaan


Wilayah yang berkaitan dengan Kanjuruhan berada di sekitar kawasan yang kini dikenal sebagai Dinoyo, Merjosari, Tlogomas, dan Ketawanggede. Sejumlah peninggalan seperti Candi Badut dan berbagai artefak menjadi bagian dari jejak peradaban masa tersebut.
Kanjuruhan kemudian berada dalam pengaruh kekuatan politik yang lebih besar di Jawa. Dalam perkembangan berikutnya, kawasan Malang berkaitan dengan berbagai kerajaan, termasuk Singasari dan Majapahit. Karena itu, sejarah Malang tidak hanya mencatat satu periode kerajaan, tetapi menjadi bagian dari rangkaian perubahan kekuasaan di Jawa.
Malang pada Masa Kolonial
Perubahan besar terjadi ketika pemerintahan kolonial Belanda mulai mengembangkan wilayah Malang. Pemkot Malang mencatat VOC menguasai wilayah Malang pada 1767. Perkembangan selanjutnya semakin terlihat dengan hadirnya administrasi kolonial, pembangunan permukiman, fasilitas umum, serta infrastruktur.

Baca Juga: 6 Aplikasi Pencari Kerja Terbaik, Ada Fitur CV hingga Chat HRD

 

Salah satu tonggak penting terjadi pada 1879 ketika kereta api mulai beroperasi di Malang. Kehadiran jalur tersebut mendorong pertumbuhan kota dan perubahan tata ruang. Malang kemudian ditetapkan sebagai gemeente atau kotapraja pada 1 April 1914.

Perkembangan perkebunan juga menjadi bagian dari sejarah ekonomi Malang. Tanah yang subur mendukung aktivitas pertanian dan perkebunan, sementara pembangunan jalan serta jalur kereta membantu distribusi hasil produksi dan menghubungkan Malang dengan daerah lain.
Dari Kota Sejarah Menjadi Kota Pendidikan
Memasuki abad ke-20, Malang berkembang semakin modern. Pendidikan, perdagangan, infrastruktur, dan berbagai fasilitas publik tumbuh mengikuti perkembangan penduduk.

Baca Juga: Cara Daftar Kartu Prakerja Lewat HP, Simak Langkah Buat Akun hingga Login


Arah pembangunan tersebut semakin jelas pada 1960-an. Pemkot Malang mencatat perencanaan pembangunan kota diarahkan pada tiga cita-cita, yakni sebagai kota pendidikan atau kota pelajar, kota pariwisata, dan kota industri.
Perkembangan pendidikan kemudian menjadi salah satu identitas utama Malang. Saat ini, Pemkot Malang menyebut kota tersebut memiliki lebih dari 60 perguruan tinggi dan menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Warisan Budaya dan Daya Tarik Wisata
Modernisasi tidak menghilangkan akar budaya Malang. Berbagai kesenian tradisional, termasuk tari topeng Malangan dan kesenian gamelan, tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.

Baca Juga: PPG Kemenag 2026, Kuota 356 Ribu, Pendaftaran Disebut Mulai 1 April


Selain sejarah dan budaya, Malang juga dikenal karena lingkungan alam dan sektor pariwisatanya. Kawasan Malang Raya memiliki akses menuju berbagai destinasi alam dan wisata, sementara keberadaan fasilitas pendidikan, kuliner, serta ruang publik membuat kota ini terus berkembang sebagai tujuan kunjungan.
Jejak kolonial juga masih terlihat melalui sejumlah bangunan dan kawasan bersejarah. Sementara itu, peninggalan dari masa kerajaan menjadi pengingat bahwa perkembangan Malang memiliki akar yang jauh lebih panjang daripada wajah kotanya saat ini.
Sejarah Panjang yang Masih Hidup
Sejarah Malang menunjukkan perubahan sebuah wilayah dari pusat pemerintahan masa kerajaan menjadi kota yang berkembang dalam bidang pendidikan, perdagangan, jasa, dan pariwisata. Dari jejak Kanjuruhan, masa kolonial, perjuangan kemerdekaan hingga perkembangan modern, setiap periode meninggalkan pengaruh terhadap karakter kota.

Baca Juga: PPG Daljab Kemenag 2026, Guru Wajib Cek EMIS dan SIAGA Sebelum Terlambat


Kini, Malang dikenal sebagai kota pendidikan sekaligus kota sejarah dan wisata. Perkembangan tersebut berjalan berdampingan dengan upaya mempertahankan warisan budaya dan peninggalan masa lalu, sehingga sejarah tidak sekadar menjadi catatan, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas kota.

Baca Juga: Kartu Prakerja Beralih ke Kementerian Ketenagakerjaan, Tunggu Proses Transisi

Course: YouTube @LegendaNusantaraaa

Editor : Agnes Adelia Hernanda
#Sejarah Malang #Raja Gajayana #Kota Pendidikan #Wisata Malang #Kerajaan Kanjuruhan