MALANG - Asal usul Kota Malang memiliki kisah panjang yang berkaitan dengan perlawanan terhadap pasukan Mataram pada masa Sultan Agung. Dalam cerita rakyat yang berkembang, Malang digambarkan sebagai wilayah yang sulit ditembus karena dikelilingi pegunungan, hutan, sungai, serta perlawanan masyarakat setempat.
Kisah tersebut bermula ketika Sultan Agung berupaya memperluas pengaruh Mataram ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Surabaya menjadi salah satu kekuatan penting di Jawa Timur yang hendak dilemahkan. Strateginya dilakukan dengan mengepung wilayah-wilayah di sekitar Surabaya sebelum menghadapi pusat kekuatan tersebut secara langsung.
Salah satu jalur yang dipilih adalah jalur tengah menuju wilayah Malang. Pasukan dalam cerita tersebut dipimpin Tumenggung Alap-Alap. Perjalanan mereka bukan perkara mudah karena harus melewati medan pegunungan dan hutan yang berat.
Baca Juga: Jakarta Jober 2026 Buka 3.857 Lowongan Kerja dari 37 Perusahaan
Perjalanan Pasukan Mataram Menuju Malang
Dalam kisah yang menjadi sumber narasi video, jalur tengah digambarkan melewati sejumlah gunung, di antaranya Penanggungan, Arjuno, Anjasmoro, Kawi, dan Kelud. Pasukan juga harus menghadapi sungai-sungai besar serta jalan yang sulit dilalui.
Medan alam menjadi tantangan pertama sebelum pasukan mencapai Malang. Hujan, tanah basah, kabut tebal, dan pepohonan tumbang digambarkan menghambat perjalanan pasukan. Kondisi tersebut membuat perjalanan ribuan prajurit semakin berat.
Cerita serupa mengenai perjalanan Tumenggung Alap-Alap dan pasukan Mataram memang berkembang sebagai bagian dari legenda asal-usul Malang. Salah satu versi yang dimuat iNews menyebut Sultan Agung mengirim sekitar 8.000 pasukan ke Jawa Timur melalui tiga jalur, dengan Tumenggung Alap-Alap memimpin jalur tengah.
Baca Juga: 6 Aplikasi Pencari Kerja Terbaik, Ada Fitur CV hingga Chat HRD
Perlawanan dari Tanah Malang
Sesampainya di wilayah Malang, pasukan Mataram disebut menghadapi perlawanan masyarakat setempat. Dalam versi cerita yang dinarasikan dalam video, Bupati Ronggosukmo menjadi tokoh yang memimpin pertahanan.
Jumlah pasukan Malang disebut lebih sedikit dibandingkan kekuatan Mataram. Namun, masyarakat memanfaatkan kondisi wilayah untuk menghadapi pasukan yang datang. Hutan, jalan sempit, sungai, dan berbagai rintangan alam menjadi bagian dari strategi pertahanan.
Pertempuran kemudian digambarkan berlangsung sengit. Tumenggung Alap-Alap berhadapan dengan pihak Malang yang mempertahankan wilayahnya. Cerita tersebut menempatkan perlawanan masyarakat sebagai bagian penting dalam pembentukan identitas Malang.
Baca Juga: PPG Kemenag 2026, Kuota 356 Ribu, Pendaftaran Disebut Mulai 1 April
Dalam sejumlah versi cerita rakyat, pasukan yang dipimpin Ronggosukmo berhasil menghadang pasukan Mataram. Dari kisah tersebut kemudian berkembang penjelasan mengenai nama Malang yang dikaitkan dengan makna “menghalangi” atau menjadi penghalang.
Dari Malang hingga Malangkuçeçwara
Nama Malang juga memiliki kaitan dengan istilah Malangkuçeçwara. Sejumlah sumber menjelaskan Malangkuçeçwara memiliki makna yang berkaitan dengan keyakinan bahwa Tuhan membantu menaklukkan kebatilan.
Kisah mengenai asal usul Kota Malang kemudian berkembang dalam berbagai versi. Ada versi yang menekankan legenda perlawanan terhadap Mataram, sementara catatan sejarah lainnya menyebut wilayah Malang justru berhasil dikuasai Mataram pada 1614 di bawah Tumenggung Alap-Alap.
Baca Juga: Cara Daftar Kartu Prakerja Lewat HP, Simak Langkah Buat Akun hingga Login
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kisah Malang tidak hanya berbicara tentang satu peristiwa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah dan cerita rakyat berkembang berdampingan.
Bagi masyarakat, legenda tersebut tetap menjadi bagian menarik dari perjalanan nama Malang. Kisah tentang gunung, hutan, pasukan Mataram, dan perlawanan masyarakat memberikan warna tersendiri dalam cerita mengenai salah satu kota penting di Jawa Timur.
Pada akhirnya, asal usul Kota Malang tidak hanya berkaitan dengan sebuah nama. Di baliknya terdapat kisah mengenai wilayah, kekuasaan, perjuangan, dan tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: PPG Daljab Kemenag 2026, Guru Wajib Cek EMIS dan SIAGA Sebelum Terlambat
Course: YouTube @Celowa_story
Editor : Agnes Adelia Hernanda