RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Soekarno merupakan tokoh penting dalam sejarah Indonesia sekaligus presiden pertama Republik Indonesia. Perjalanan hidupnya tidak hanya berkaitan dengan perjuangan menuju kemerdekaan, tetapi juga pendidikan, aktivitas politik, kehidupan keluarga, hingga berbagai kontroversi pada masa pemerintahannya.
Soekarno lahir pada 6 Juni 1901. Sumber sejarah yang dihimpun dalam publikasi akademik Kemendikbud mencatat ia lahir di Surabaya dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Soekarno karena saat kecil ia sering sakit-sakitan.
Masa Kecil dan Pendidikan Soekarno
Soekarno merupakan putra Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Pada masa kecil, ia sempat tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo, di Tulungagung.
Pendidikan Soekarno kemudian membawanya ke sejumlah kota. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) sebelum melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Surabaya. Catatan akademik Kemendikbud menyebut Soekarno menyelesaikan ELS pada 1916 dan kemudian meneruskan pendidikan di HBS.
Di Surabaya, Soekarno tinggal di lingkungan H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam. Dari lingkungan tersebut, ia berkenalan dengan berbagai tokoh pergerakan dan semakin tertarik pada politik.
Setelah menyelesaikan pendidikan di HBS, Soekarno melanjutkan studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung. Ia mengambil bidang teknik sipil dan akhirnya memperoleh gelar insinyur.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo Bukan Cuma Komodo, Ada Pantai, Gua hingga Dunia Bawah Laut
Dari Aktivis hingga Mendirikan PNI
Semasa muda, Soekarno aktif menulis, berpidato, dan terlibat dalam organisasi pergerakan. Pengalaman tersebut ikut membentuk kemampuannya sebagai seorang orator dan pemimpin politik.
Pada 4 Juli 1927, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai tersebut menjadi salah satu kendaraan perjuangan politik untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Aktivitas politik membuat Soekarno berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia beberapa kali ditangkap dan dipenjara serta mengalami pengasingan.
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno bersama Mohammad Hatta memainkan peran utama dalam pembacaan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sehari kemudian, Soekarno ditetapkan sebagai presiden pertama Indonesia.
Kehidupan Keluarga dan Pernikahan
Kehidupan pribadi Soekarno juga menjadi bagian yang banyak dibicarakan dalam sejarah. Ia menikah beberapa kali sepanjang hidupnya.
Salah satu pasangan yang paling dikenal adalah Fatmawati, yang kemudian menjadi ibu negara dan dikenal sebagai tokoh yang menjahit Bendera Pusaka Merah Putih untuk Proklamasi.
Soekarno dan Fatmawati memiliki lima anak, termasuk Guntur Soekarnoputra dan Megawati Soekarnoputri.
Setelah hubungan dengan Fatmawati berakhir, Soekarno menikah dengan Hartini pada 1953. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga memiliki hubungan dan pernikahan dengan sejumlah perempuan lain.
Kehidupan rumah tangga tersebut menunjukkan sisi personal Soekarno yang berbeda dari perannya sebagai pemimpin negara.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo: 5 Destinasi Populer, dari Pulau Padar hingga Kanawa
Politik dan Akhir Kekuasaan Soekarno
Sebagai presiden, Soekarno memimpin Indonesia melalui berbagai fase politik. Salah satu perubahan besar terjadi ketika sistem pemerintahan beralih dari Demokrasi Parlementer menuju Demokrasi Terpimpin pada 1959.
Pada periode tersebut, kekuasaan politik semakin terpusat di sekitar presiden. Ketegangan antara berbagai kekuatan politik dan militer juga meningkat.
Kondisi tersebut berlanjut hingga G30S 1965, yang menjadi titik balik dalam sejarah politik Indonesia. Setelah peristiwa tersebut, posisi Soekarno semakin melemah. Kajian sejarah mencatat Supersemar pada 11 Maret 1966 menjadi salah satu tahapan penting dalam peralihan kekuasaan kepada Soeharto. Pada 1967, MPRS memberhentikan Soekarno dari jabatan presiden dan mengangkat Soeharto sebagai penggantinya.
Soekarno kemudian menjalani masa akhir kehidupannya dalam pengawasan pemerintah. Ia mengalami masalah kesehatan serius, termasuk penyakit ginjal.
Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970 di Jakarta dalam usia 69 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, di dekat makam ibunya.
Perjalanan hidup Soekarno memperlihatkan sosok dengan banyak sisi. Ia dikenal sebagai proklamator dan presiden pertama Indonesia, tetapi sejarah pemerintahannya juga mencatat berbagai perdebatan politik dan kontroversi. Karena itu, memahami Soekarno membutuhkan pembacaan terhadap keseluruhan perjalanan hidupnya, bukan hanya satu bagian dari sejarah.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest