RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Soekarno merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perjalanannya tidak hanya diwarnai perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda, tetapi juga keputusan bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang pada 1942-1945. Kerja sama tersebut menjadi bagian kontroversial dalam perjalanan politik Soekarno, terutama karena Jepang memanfaatkannya untuk kepentingan perang.
Sebelum masa pendudukan Jepang, Soekarno telah aktif dalam pergerakan nasional. Ia dikenal melalui gagasan nasionalisme, aktivitas organisasi, tulisan, serta pidato-pidato yang mengkritik kolonialisme. Perjalanan panjang tersebut kemudian berujung pada pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bersama Mohammad Hatta.
Baca Juga: 15 Wisata Lombok yang Menarik, Ada Rinjani, Gili Trawangan hingga Mandalika
Masa Muda Soekarno dan Pergerakan Nasional
Soekarno lahir pada 6 Juni 1901. Saat remaja, ia tinggal di Surabaya dan berada dalam lingkungan H.O.S. Tjokroaminoto. Lingkungan tersebut mempertemukannya dengan berbagai gagasan politik dan tokoh pergerakan.
Soekarno kemudian melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau yang sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Di Bandung, aktivitas politik dan intelektualnya semakin berkembang. Ia mendirikan Algemene Studie Club yang kemudian menjadi salah satu akar perkembangan gerakan nasionalis.
Pada 1927, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Aktivitas politik tersebut membuat pemerintah kolonial Belanda menangkap dan memenjarakannya. Setelah bebas, Soekarno kembali aktif dalam perjuangan politik dan kemudian mengalami pengasingan.
Pengalaman tersebut tidak menghentikan aktivitas politiknya. Gagasan tentang nasionalisme dan kemerdekaan terus menjadi bagian penting dalam pemikirannya.
Kontroversi Kerja Sama dengan Jepang
Ketika Jepang menguasai Hindia Belanda pada 1942, situasi perjuangan Indonesia berubah. Soekarno kemudian terlibat dalam sejumlah organisasi bentukan Jepang, termasuk Putera, BPUPKI, dan PPKI. Sejumlah tokoh pergerakan memilih memanfaatkan ruang yang tersedia untuk membangun organisasi, menggalang massa, dan mempersiapkan kemampuan bangsa Indonesia.
Putera dibentuk pada 1943 dengan Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur sebagai pemimpinnya. Jepang menggunakan organisasi tersebut untuk kepentingan mobilisasi masyarakat.
Salah satu bagian paling kontroversial adalah keterlibatan Soekarno dalam propaganda mobilisasi tenaga kerja pada masa pendudukan Jepang. Romusha merupakan sistem pengerahan tenaga kerja yang diberlakukan pemerintah pendudukan Jepang dan menimbulkan penderitaan besar bagi masyarakat.
Karena itu, keterlibatan Soekarno pada masa pendudukan Jepang memiliki dua sisi dalam kajian sejarah. Di satu sisi, ia bekerja dalam organisasi yang dibentuk pemerintah pendudukan. Di sisi lain, ruang tersebut digunakan para pemimpin Indonesia untuk membangun jaringan, memobilisasi masyarakat, dan mempersiapkan kemerdekaan.
Soekarno juga terlibat dalam proses persiapan politik menuju Indonesia merdeka. Dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, ia menyampaikan gagasan mengenai dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Baca Juga: Wisata Labuan Bajo: 3 Hari 2 Malam Naik Phinisi, Ada Komodo hingga Pink Beach
Dari Rengasdengklok hingga Proklamasi
Menjelang akhir Perang Dunia II, posisi Jepang semakin terdesak. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, kelompok pemuda mendesak Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan.
Perbedaan pandangan tersebut menyebabkan terjadinya Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Soekarno dan Hatta kemudian kembali ke Jakarta. Pada malam harinya, keduanya bersama Ahmad Soebardjo merumuskan teks Proklamasi di kediaman Laksamana Tadashi Maeda.
Keesokan harinya, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, sekitar pukul 10.00 WIB.
Sehari kemudian, PPKI mengesahkan UUD 1945 serta menetapkan Soekarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.
Dengan demikian, perjalanan Soekarno menuju Proklamasi tidak berlangsung sederhana. Ia pernah menjadi tahanan dan orang buangan pemerintah kolonial, kemudian bekerja melalui organisasi pada masa pendudukan Jepang, sebelum akhirnya memimpin pembacaan Proklamasi.
Kontroversi mengenai hubungan Soekarno dengan Jepang tetap menjadi bagian dari pembahasan sejarah Indonesia. Penilaian terhadap langkah tersebut perlu melihat situasi pendudukan, pilihan strategi para pemimpin pergerakan, serta dampak nyata kebijakan Jepang terhadap masyarakat. Yang tidak berubah dalam catatan sejarah adalah peran Soekarno dalam proses politik menuju kemerdekaan dan pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest