RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Kisah cinta Bung Hatta dan Rahmi menjadi bagian menarik dari kehidupan Mohammad Hatta di luar perjuangannya sebagai tokoh kemerdekaan. Bung Hatta disebut pernah berjanji tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, ia akhirnya menikah dengan Siti Rahmiati atau Rahmi pada 18 November 1945 di Megamendung, Bogor. Saat itu Hatta berusia 43 tahun, sedangkan Rahmi berusia 19 tahun.
Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902. Ia merupakan putra Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Ayahnya meninggal ketika Hatta masih berusia delapan bulan. Hatta kemudian tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan tradisi keagamaan dan pendidikan.
Baca Juga: 10 Wisata Kota Batu yang Unik, Ada BNS, Museum Angkut hingga Alun-Alun
Bung Hatta Memilih Perjuangan Sebelum Pernikahan
Sejak muda, Hatta tidak hanya dikenal sebagai pelajar yang tekun, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional. Ketika berada di Belanda, ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia dan kemudian dipercaya menjadi salah satu pemimpinnya.
Aktivitas politik tersebut membuat Hatta berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia ditangkap pada 1927 dan menjalani proses hukum di Belanda. Hatta kemudian menyampaikan pembelaan yang dikenal dengan judul Indonesia Merdeka.
Setelah kembali ke Indonesia, perjuangan politik Hatta berlanjut. Ia juga mengalami pembuangan oleh pemerintah kolonial. Salah satu tempat pengasingannya adalah Boven Digoel. Di tempat tersebut, Hatta menulis sejumlah karya, termasuk Alam Pikiran Yunani, yang kelak mempunyai arti khusus dalam kisah pernikahannya. Arsip ANRI mencatat buku tersebut sebagai salah satu karya penting Hatta.
Di tengah kesibukannya memperjuangkan kemerdekaan, Hatta memang dikenal memiliki komitmen pribadi untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Meutia Farida Hatta juga pernah menuliskan mengenai sumpah tersebut dalam buku Seratus Tahun Bung Hatta.
Pertemuan Hatta dengan Rahmi
Setelah Indonesia merdeka, Hatta mulai membuka lembaran baru dalam kehidupan pribadinya. Ia kemudian bertemu Rahmi ketika melakukan kunjungan ke Instituut Pasteur di Bandung.
Rahmi merupakan putri H. Abdul Rachim dan Siti Satiah Annie Rahmi. Keluarga Rahmi memiliki hubungan dengan lingkungan pergerakan dan tokoh-tokoh perjuangan pada masa itu. Penelitian mengenai kehidupan Rahmi mencatat bahwa ia menikah dengan Hatta pada 18 November 1945.
Dalam kisah yang berkembang mengenai pertemuan mereka, Hatta tertarik kepada Rahmi setelah melihatnya di Bandung. Bung Karno kemudian membantu mempertemukan Hatta dengan keluarga Rahmi hingga akhirnya proses menuju pernikahan berlangsung.
Pernikahan Hatta dan Rahmi dilaksanakan secara sederhana di Megamendung, Bogor, pada 18 November 1945. Soekarno turut hadir sebagai salah satu saksi. Penelitian mengenai Rahmi mencatat bahwa upacara tersebut dihadiri keluarga dan sejumlah orang dekat.
Salah satu hal yang paling sering dikenang dari pernikahan tersebut adalah mahar berupa buku Alam Pikiran Yunani karya Hatta. Buku itu lahir dari masa pengasingannya di Boven Digoel. Kisah mengenai buku tersebut sebagai mahar juga dicatat dalam tulisan sejarah mengenai rumah tangga Hatta dan Rahmi.
Baca Juga: 13 Wisata Malang Terbaru dan Populer, Ada Arjuna Geopark hingga Paribendo
Rumah Tangga Hatta dan Rahmi
Setelah menikah, Hatta dan Rahmi menjalani kehidupan keluarga selama puluhan tahun. Mereka dikaruniai tiga putri, yakni Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi'ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta. Data Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI mencatat ketiga nama tersebut beserta tanggal kelahirannya.
Rahmi juga mendampingi Hatta dalam berbagai kegiatan sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia. Arsip ANRI, misalnya, menyimpan foto Hatta bersama Rahmi dan putri mereka Meutia ketika kembali dari perjalanan di Sumatra Tengah dan Kepulauan Seribu pada 1953.
Hatta meninggal dunia di Jakarta pada 14 Maret 1980. Rahmi kemudian meninggal pada 13 April 1999. Keduanya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Arsip ANRI juga mencatat makam Bung Hatta di Tanah Kusir serta keberadaan Rahmi dan putri-putrinya dalam berbagai dokumentasi kenegaraan.
Kisah Hatta dan Rahmi kemudian dikenang bukan hanya karena latar belakang Hatta sebagai Proklamator dan Wakil Presiden pertama, tetapi juga karena perjalanan pribadi mereka yang berlangsung setelah masa panjang perjuangan kemerdekaan. Pernikahan keduanya menjadi salah satu bagian dari kehidupan pribadi Bung Hatta yang turut melengkapi perjalanan sejarah sang tokoh.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest