Mohammad Hatta, Proklamator yang Merancang Ekonomi Kerakyatan dan Koperasi

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 21:10 WIB
Mohammad Hatta merupakan proklamator dan wakil presiden pertama Indonesia yang dikenal melalui diplomasi serta gagasan ekonomi kerakyatan dan koperasi (Pinterest).
Mohammad Hatta merupakan proklamator dan wakil presiden pertama Indonesia yang dikenal melalui diplomasi serta gagasan ekonomi kerakyatan dan koperasi (Pinterest).

RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Mohammad Hatta dikenal sebagai proklamator kemerdekaan sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Namun, kiprahnya tidak berhenti pada perjuangan politik. Hatta juga dikenal melalui pemikiran tentang ekonomi kerakyatan, koperasi, pendidikan, demokrasi, dan diplomasi yang turut membentuk perjalanan awal Indonesia.

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902 dengan nama Muhammad Athar. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki latar belakang agama dan perdagangan. Pendidikan sejak usia muda kemudian membentuk minatnya terhadap organisasi, perdagangan, dan pemikiran kebangsaan.

Baca Juga: Sisi Kontroversial Soekarno: Demokrasi Terpimpin hingga Pembubaran Partai

Dari Perhimpunan Indonesia hingga Perjuangan Kemerdekaan

Saat beranjak dewasa, Hatta aktif dalam Jong Sumatranen Bond dan kemudian melanjutkan pendidikan ke Belanda pada 1921. Di sana ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai Indische Vereeniging.

Hatta kemudian dipercaya menjadi ketua Perhimpunan Indonesia. Dari organisasi tersebut, ia semakin aktif menyuarakan gagasan mengenai kemerdekaan Indonesia dan menulis untuk media perjuangan.

Pada 1928, Hatta menyampaikan pembelaan di pengadilan Belanda yang dikenal dengan judul Indonesia Merdeka. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam aktivitas politiknya di masa pergerakan. Hatta kemudian melanjutkan perjuangannya setelah kembali ke Indonesia.

Aktivitas politik membuat Hatta dan Sutan Sjahrir ditangkap pemerintah kolonial Belanda pada 1934. Keduanya kemudian diasingkan ke Boven Digul sebelum dipindahkan ke Banda Neira. Dalam masa pengasingan, Hatta tetap menulis, membaca, mengajar, dan memberikan pendidikan kepada para pemuda.

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Hatta mengambil posisi sebagai penasihat. Ia kemudian terlibat dalam berbagai badan yang dibentuk menjelang kemerdekaan, termasuk BPUPKI dan PPKI. Dalam proses perumusan dasar negara, Hatta juga menjadi salah satu anggota Panitia Sembilan.

Situasi semakin mendesak setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Pada 16 Agustus 1945, Hatta bersama Soekarno dibawa ke Rengasdengklok oleh kelompok pemuda. Setelah kembali ke Jakarta, keduanya terlibat dalam perumusan teks proklamasi.

Pada 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Sehari kemudian, PPKI memilih Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil presiden pertama.

Baca Juga: 10 Wisata Kota Batu yang Unik, Ada BNS, Museum Angkut hingga Alun-Alun

Diplomasi dan Gagasan Ekonomi Kerakyatan

Sebagai wakil presiden, Hatta memainkan peran penting dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia. Ia terlibat dalam berbagai proses diplomasi dengan Belanda, termasuk perundingan yang mengarah pada Konferensi Meja Bundar (KMB).

Pada 27 Desember 1949, Belanda menyerahkan pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Hatta menjadi ketua delegasi Indonesia dalam proses tersebut.

Di bidang ekonomi, Hatta memberikan perhatian besar kepada koperasi. Pada 12 Juli 1947, Kongres Koperasi Indonesia pertama berlangsung di Tasikmalaya. Gagasan koperasi yang mengedepankan gotong royong kemudian semakin kuat dalam pemikiran ekonomi kerakyatan yang dikembangkan Hatta. Pada Kongres Koperasi II tahun 1953, Hatta ditetapkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Bagi Hatta, koperasi berkaitan dengan kerja sama dan kepentingan ekonomi masyarakat. Pemikiran tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah perkembangan koperasi Indonesia.

Baca Juga: 10 Wisata Malang yang Hits, Ada Coban Rondo hingga Sumber Maron

Hatta Mundur dan Tetap Aktif hingga Akhir Hayat

Perbedaan pandangan politik dengan Soekarno semakin terlihat pada pertengahan 1950-an. Hatta kemudian menyampaikan rencana pengunduran dirinya sebagai wakil presiden. Setelah proses di parlemen, ia resmi berhenti dari jabatan tersebut pada 1 Desember 1956. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat pengunduran diri itu sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah pemerintahan Indonesia.

Setelah tidak lagi menjadi wakil presiden, Hatta lebih banyak mencurahkan perhatian pada kegiatan menulis, pendidikan, ekonomi, dan pemikiran kenegaraan.

Ia tetap memberikan pandangan mengenai demokrasi, konstitusi, dan kehidupan berbangsa. Pada 1970, Hatta juga dipercaya menjadi penasihat Presiden Soeharto sekaligus penasihat Komisi Empat yang dibentuk untuk membantu upaya pemberantasan korupsi.

Hatta meninggal dunia pada 14 Maret 1980 di Jakarta dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Ia kemudian dikenang sebagai salah satu tokoh utama dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan hidup Mohammad Hatta menunjukkan bahwa perannya tidak hanya terkait dengan pembacaan Proklamasi. Pemikirannya mengenai demokrasi, diplomasi, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan menjadi bagian penting dari warisan sejarah Indonesia.

Baca Juga: 12 Wisata Malang yang Wajib Dikunjungi, Ada Bromo Hillside hingga Pantai Balekambang

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : Pinterest
Proklamator Indonesia Bung Hatta ekonomi kerakyatan koperasi indonesia mohammad hatta