RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Kalender Jawa masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa hingga sekarang. Selain digunakan untuk mengetahui tanggal dan pasaran, sistem ini juga berkaitan dengan weton, penentuan hari baik, kecocokan pasangan, hingga berbagai tradisi masyarakat. Namun, muncul pertanyaan apakah perhitungan dalam kalender Jawa memiliki dasar ilmiah atau lebih tepat dipandang sebagai warisan budaya.
Pembahasan mengenai hal tersebut disampaikan dalam video kanal Suaka Cerita yang mengulas sejarah, sistem perhitungan, serta penggunaan kalender Jawa. Dalam pembahasannya, kalender Jawa disebut memiliki unsur astronomi dan matematika yang dapat dijelaskan secara logis. Sementara itu, kepercayaan mengenai pengaruh weton terhadap karakter, rezeki, dan jodoh berada dalam ranah tradisi.
Kalender Jawa dan Siklus Pasaran
Kalender Jawa berkembang sebagai sistem penanggalan yang digunakan di lingkungan Mataram Islam dan kemudian bertahan dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa.
Salah satu keunikannya terletak pada sistem pasaran. Berbeda dengan kalender yang menggunakan siklus tujuh hari, kalender Jawa mengenal siklus lima hari yang terdiri atas Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Siklus lima hari tersebut berjalan bersamaan dengan siklus tujuh hari. Karena itu, kombinasi antara hari dan pasaran akan kembali pada posisi yang sama setelah 35 hari. Perhitungannya berasal dari 7 hari dikalikan 5 pasaran.
Kombinasi hari dan pasaran inilah yang dikenal masyarakat sebagai weton.
Baca Juga: Apa Tahapan Penyidikan Kasus Korupsi Sebelum Penetapan Tersangka? Dari Saksi hingga Ahli
Cara Menghitung Weton dan Neptu
Dalam video tersebut diberikan contoh seseorang yang lahir pada 21 Maret 2000. Tanggal tersebut disebut jatuh pada hari Selasa dengan pasaran Legi.
Untuk menghitung neptu, masing-masing hari dan pasaran memiliki nilai. Selasa mempunyai nilai 3, sedangkan Legi bernilai 5.
Dengan demikian, neptu kelahiran tersebut adalah 3 + 5 = 8. Weton orang tersebut kemudian disebut Selasa Legi dengan neptu 8.
Dalam tradisi Primbon Jawa, angka neptu selanjutnya digunakan dalam berbagai perhitungan, termasuk untuk menggambarkan karakter seseorang, kecocokan pasangan, serta keberuntungan.
Mana yang Bisa Dijelaskan Secara Ilmiah?
Tidak semua bagian kalender Jawa berada pada wilayah yang sama. Dari sisi astronomi, sistem kalender yang menggunakan pergerakan Bulan memiliki pola yang dapat diamati dan dihitung.
Siklus Bulan juga digunakan dalam berbagai sistem kalender lain. Perubahan fase Bulan memiliki keteraturan yang dapat dipelajari melalui ilmu astronomi.
Sementara itu, sistem pasaran memiliki pola matematika yang jelas. Gabungan siklus tujuh hari dan lima hari menghasilkan pengulangan setiap 35 hari. Pola tersebut dapat dijelaskan menggunakan konsep matematika mengenai siklus dan keteraturan bilangan.
Dengan demikian, aspek penanggalan dan pola pengulangan kalender dapat dipelajari secara matematis maupun astronomis.
Baca Juga: Mengapa Hubungan dengan Pelanggan Penting bagi Usaha Kuliner? Bukan Sekadar Menjual Makanan
Weton dan Nasib Belum Terbukti Secara Ilmiah
Persoalannya berbeda ketika kalender Jawa digunakan untuk menentukan karakter, rezeki, atau kecocokan jodoh seseorang.
Dalam kepercayaan Jawa, weton sering digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk berbagai keputusan. Namun, hubungan antara tanggal kelahiran dengan karakter dan keberuntungan seseorang belum terbukti secara ilmiah.
Karakter manusia pada umumnya dipengaruhi banyak faktor, seperti lingkungan, pendidikan, pengalaman hidup, serta kondisi sosial. Karena itu, angka neptu tidak dapat dijadikan bukti ilmiah bahwa seseorang pasti memiliki karakter atau masa depan tertentu.
Hal serupa berlaku untuk anggapan bahwa ketidakcocokan weton dapat menyebabkan kegagalan rumah tangga atau kebangkrutan usaha. Pernyataan semacam itu lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari kepercayaan dan tradisi masyarakat.
Pada akhirnya, kalender Jawa memiliki dua sisi yang menarik. Sistem penanggalan, siklus pasaran, dan pola matematikanya dapat dipelajari secara rasional. Namun, tafsir mengenai nasib, karakter, rezeki, dan jodoh merupakan bagian dari tradisi Primbon Jawa yang belum memiliki pembuktian ilmiah.
Meski demikian, kalender Jawa tetap memiliki nilai penting sebagai warisan budaya. Keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan cara menghitung waktu, tetapi juga merefleksikan filosofi dan cara pandang masyarakat Jawa yang diwariskan lintas generasi.
Baca Juga: SMAN 1 Situbondo Lolos Grand Final Surabaya, Jaga Sportivitas dan Suporter Meriah
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest