RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Keris Pamangkang Jagat dan Pegat Wajo merupakan dua jenis keris yang memiliki ketidaksempurnaan pada bilah akibat proses pembuatan yang tidak sempurna. Meski sama-sama dikaitkan dengan kegagalan teknik penempaan atau penyatuan logam, keduanya memiliki perbedaan bentuk kerusakan dan pandangan dalam tradisi perkerisan Jawa. Pamangkang Jagat dipercaya sebagian kalangan memiliki tuah baik, sedangkan Pegat Wajo justru dianggap kurang baik untuk dimiliki dan dalam kepercayaan tertentu disarankan untuk dilarung.
Baca Juga: Weton Jumat Wage Menurut Primbon Jawa: Watak, Jodoh, Rezeki, dan Kariernya
Keris Pamangkang Jagat, Bilah Retak yang Dianggap Bertuah
Keris Pamangkang Jagat dikenal karena adanya retakan atau celah pada bagian bilah. Dalam tradisi perkerisan, keris ini banyak menarik perhatian orang yang lebih mengutamakan kepercayaan terhadap kekuatan gaib dibandingkan nilai seni dan kesempurnaan bentuknya.
Sebagian penggemar keris meyakini Pamangkang Jagat mempunyai daya magis lebih kuat dibandingkan keris yang bilahnya tidak mengalami cacat. Namun, anggapan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
Retakan pada Pamangkang Jagat bukanlah bagian yang sengaja dibuat oleh empu. Kondisi tersebut dapat muncul ketika lapisan besi, bahan pamor, atau material logam lain tidak menyatu secara sempurna selama proses pembuatan.
Cacat itu terkadang baru terlihat setelah bilah menjalani proses penyepuhan atau nyepuhe. Pada tahap tersebut, bilah yang sebelumnya tampak utuh bisa memperlihatkan retakan akibat ketidaksempurnaan penyatuan material.
Mengapa Pamangkang Jagat Dianggap Istimewa?
Dari sudut pandang teknik pembuatan, keris Pamangkang Jagat dapat dipandang sebagai hasil pengerjaan yang tidak sempurna. Dalam tradisi tertentu, keris dengan kondisi tersebut bahkan dianggap kurang baik untuk dimiliki.
Meski demikian, muncul kepercayaan berbeda di kalangan penggemar keris. Pamangkang Jagat justru dianggap memiliki tuah khusus dan dipercaya cocok bagi orang-orang tertentu.
Menurut kepercayaan yang berkembang, keris ini bersifat selektif dalam memilih pemilik. Sosok yang dianggap sesuai biasanya merupakan orang dengan kekuasaan atau tanggung jawab kepemimpinan, seperti lurah, bupati, maupun pemimpin wilayah lainnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan Pamangkang Jagat tetap dicari oleh sebagian kolektor. Akan tetapi, keyakinan mengenai kecocokan pemilik dan kekuatan gaibnya tetap merupakan bagian dari tradisi esoteris, bukan fakta yang dapat dipastikan.
Baca Juga: Weton Jumat Wage Menurut Primbon Jawa: Ramalan Jodoh, Rezeki, dan Kariernya
Keris Pegat Wajo, Kerusakan pada Lapisan Baja
Berbeda dengan Pamangkang Jagat, keris Pegat Wajo memiliki karakteristik kerusakan yang berkaitan dengan penyatuan lapisan logam pada bilah.
Pegat Wajo disebut terjadi pada bagian pertemuan sathen dengan lapisan baja. Cacat ini dijumpai pada bilah keris yang menggunakan lapisan baja, bukan pada sembarang bagian pertemuan besi dan bahan pamor.
Bentuk kerusakannya juga berbeda. Jika Pamangkang Jagat dikenal dengan retakan atau celah pada bilah, Pegat Wajo dijelaskan sebagai bagian logam yang mengelupas secara horizontal. Kondisi tersebut dikaitkan dengan proses pengerjaan yang menyebabkan material logam tidak menyatu secara sempurna.
Dengan demikian, perbedaan keduanya tidak hanya terletak pada bentuk cacat, tetapi juga pada bagian bilah yang mengalami ketidaksempurnaan.
Dalam pembahasan mengenai keris tradisional Jawa, pemahaman terhadap karakteristik bilah menjadi hal penting untuk membedakan jenis keris, termasuk yang memiliki cacat akibat proses pembuatan.
Perbedaan Tuah Pamangkang Jagat dan Pegat Wajo
Perbedaan paling mencolok antara Pamangkang Jagat dan Pegat Wajo terletak pada penilaian tradisional terhadap tuahnya.
Pamangkang Jagat kerap dikaitkan dengan tuah baik dan dipercaya mempunyai kekuatan khusus oleh sebagian kalangan. Sebaliknya, Pegat Wajo dianggap kurang baik untuk dimiliki. Dalam kepercayaan tertentu, keris dengan kondisi tersebut bahkan disarankan untuk dilarung.
Perbedaan penilaian itu memperlihatkan bahwa dalam tradisi perkerisan, kondisi fisik bilah tidak selalu dipandang sebatas persoalan teknik pembuatan. Sebagian masyarakat juga menghubungkannya dengan makna simbolis dan kepercayaan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Meski begitu, anggapan mengenai baik atau buruknya tuah keris tidak dapat dijadikan ukuran objektif untuk menilai benda pusaka. Penilaian tersebut bergantung pada tradisi, pandangan budaya, dan keyakinan masing-masing.
Pada akhirnya, Keris Pamangkang Jagat dan Pegat Wajo sama-sama menunjukkan pentingnya ketelitian dalam proses pembuatan keris. Pamangkang Jagat ditandai retakan atau celah pada bilah, sedangkan Pegat Wajo berkaitan dengan pengelupasan pada pertemuan lapisan logam. Memahami perbedaan keduanya membantu masyarakat mengenali ragam karakteristik keris sekaligus membedakan fakta teknis dari kepercayaan yang menyertainya.
Baca Juga: Weton Jumat Wage Menurut Primbon Jawa, Satria Wirang yang Dipercaya Berjaya di Usia 48–54 Tahun
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest