Kalender Jawa Sultan Agung: Sejarah, Nama Weton, dan Makna Hari Baik yang Masih Dipercaya

Agnes Adelia Hernanda • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 01:45 WIB
Kalender Jawa Sultan Agung menyimpan sejarah, nama weton, pasaran, dan tradisi menentukan hari baik yang masih dipercaya masyarakat.
Kalender Jawa Sultan Agung menyimpan sejarah, nama weton, pasaran, dan tradisi menentukan hari baik yang masih dipercaya masyarakat.

 

JAKARTA - Kalender Jawa Sultan Agung merupakan sistem penanggalan yang memadukan tradisi Hindu, Islam, dan unsur penanggalan lain yang berkembang pada masa lalu. Diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada 1613–1645, kalender Jawa tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga berperan dalam penyelarasan upacara adat dengan hari besar Islam. Hingga kini, kalender Jawa masih digunakan sebagian masyarakat untuk menentukan hari pernikahan, khitanan, mendirikan rumah, hingga berbagai kegiatan penting lainnya.
Sejarah Kalender Jawa pada Masa Sultan Agung
Sebelum kalender Jawa diperkenalkan, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari India dan didasarkan pada pergerakan matahari. Sementara itu, kalender Islam atau Hijriah menggunakan perhitungan peredaran bulan. Perbedaan tersebut membuat sejumlah perayaan adat kerajaan tidak selalu bertepatan dengan hari besar Islam.
Sultan Agung kemudian memperkenalkan sistem penanggalan baru yang mempertahankan kesinambungan hitungan tahun Saka, tetapi mengadopsi sistem perhitungan berdasarkan peredaran bulan. Sistem ini dikenal sebagai kalender Jawa atau kalender Sultan Agungan.

Baca Juga: 5 Jenis Burung Perkutut Katuranggan Paling Diburu Kolektor, Ada yang Dipercaya Bawa Pulung


Penerapannya memungkinkan Kesultanan Mataram menyelaraskan penyelenggaraan upacara kerajaan dengan perayaan keagamaan Islam. Kalender tersebut digunakan di sebagian besar wilayah kekuasaan Mataram, meskipun tidak seluruh wilayah Nusantara mengadopsinya.
Perbedaan Kalender Jawa dan Kalender Hijriah
Meski sama-sama menggunakan peredaran bulan sebagai dasar perhitungan, kalender Jawa dan kalender Hijriah memiliki perbedaan dalam sejumlah ketentuan. Salah satunya berkaitan dengan pergantian hari dan penetapan awal bulan.
Dalam kalender Jawa, pergantian hari berlangsung saat matahari terbenam. Sementara itu, penentuan awal bulan Hijriah berkaitan dengan pengamatan hilal atau rukyat serta ketentuan yang digunakan oleh masing-masing otoritas keagamaan.

Baca Juga: 21 Jenis Burung Perkutut Katuranggan Paling Dicari, Kenali Ciri Fisik dan Tuahnya


Kalender Jawa juga mempunyai siklus tahun tersendiri. Satu tahun umumnya terdiri atas 354 hari, sedangkan tahun tertentu memiliki 355 hari. Sistem delapan tahunan yang disebut windu menjadi bagian penting dalam perhitungan kalender tersebut.
Mengenal Nama Hari dan Pasaran Jawa
Salah satu ciri khas kalender Jawa adalah penggunaan dua siklus hari, yakni saptawara dan pancawara. Saptawara merupakan siklus tujuh hari yang terdiri atas Ahad atau Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.
Adapun pancawara merupakan siklus lima pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Perpaduan kedua siklus tersebut menghasilkan istilah weton, yang kerap digunakan masyarakat Jawa untuk mengenali hari kelahiran seseorang.

Baca Juga: Keris Pamengkang Jagad untuk Pengusaha, Diklaim Bisa Jadi Magnet Pembeli dan Pelindung Usaha


Sistem pasaran juga memiliki kaitan dengan aktivitas perdagangan pada masa lalu. Penamaan seperti Pasar Legi, Pasar Pon, dan Pasar Kliwon menunjukkan bagaimana siklus tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Selain kedua siklus itu, tradisi penanggalan Jawa mengenal siklus lain, seperti sadewara. Namun, penggunaannya berbeda-beda menurut konteks dan tradisi yang berkembang di sejumlah wilayah.
Nama Bulan Jawa dan Maknanya
Kalender Jawa Islam memiliki 12 bulan yang namanya sebagian besar merupakan adaptasi dari penanggalan Hijriah dengan penyesuaian pelafalan dalam bahasa Jawa. Nama-nama tersebut meliputi Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela atau Apit, serta Besar.

Baca Juga: Keris Omyang Jimbe dan Pamengkang Jagad, Benarkah Punya Tuah Sakti? Ini Penjelasannya


Beberapa bulan berkaitan dengan momentum keagamaan. Pasa berhubungan dengan Ramadan, Mulud dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sedangkan Ruwah berkaitan dengan tradisi menjelang Ramadan yang di sejumlah daerah diisi dengan doa dan penghormatan kepada leluhur.
Penanggalan ini juga mengenal perubahan fase bulan sebagai bagian dari pemaknaan tradisional terhadap perjalanan kehidupan manusia. Makna tersebut berkembang dalam kebudayaan Jawa dan tidak harus dipahami sebagai penjelasan ilmiah mengenai kehidupan seseorang.
Kalender Jawa untuk Menentukan Hari Baik
Hingga sekarang, kalender Jawa masih menjadi rujukan sebagian masyarakat dalam menentukan hari baik untuk pernikahan, khitanan, pendirian rumah, perjalanan, dan kegiatan lainnya. Perhitungan weton serta neptu hari dan pasaran kerap digunakan untuk mempertimbangkan kecocokan waktu menurut tradisi setempat.

Baca Juga: Keris Pamengkang Jagad Berpamor Banyumili, Ini Ciri-Ciri yang Diulas Ki Gondrong


Sebagian masyarakat meyakini perhitungan tersebut memiliki makna simbolis dan spiritual. Namun, pandangan terhadap kesakralan kalender Jawa berbeda-beda, bergantung pada keyakinan, pengalaman, dan lingkungan budaya masing-masing.
Secara historis, kalender Sultan Agungan memperlihatkan upaya Kesultanan Mataram mempertemukan tradisi pra-Islam dengan kebudayaan Islam. Sistem penanggalan tersebut bukan sekadar alat menghitung hari, melainkan juga bagian dari perjalanan sejarah, identitas budaya, dan tradisi masyarakat Jawa yang bertahan hingga masa kini.
Deskripsi (Meta Description):
Kalender Jawa Sultan Agung menyimpan sejarah, nama weton, pasaran, dan tradisi menentukan hari baik yang masih dipercaya masyarakat.

Baca Juga: 5 Khasiat Keris Pamengkang Jagat, dari Pengasihan hingga Jodoh


Tags:
Kalender Jawa
Sultan Agung
Weton Jawa
Hari Pasaran
Hari Baik
Tambahkan lead yang lebih menarik
Perjelas perbedaan kalender Jawa-Hijriah
Rapikan bagian nama bulan Jawa

Baca Juga: Keris Pamangkang Jagat vs Pegat Wajo, Sama-Sama Cacat tapi Beda Tuah

Course: YouTube @adainfo22

Editor : Agnes Adelia Hernanda
#Hari Baik #Weton Jawa #Sultan Agung #Kalender Jawa #Hari Pasaran