Legenda Gunung Kelud, Kisah Lembu Suro yang Dikhianati Raja Brawijaya

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:26 WIB
Legenda Gunung Kelud mengisahkan Lembu Suro yang memenangkan sayembara, tetapi dikhianati Prabu Brawijaya (Pinterest).
Legenda Gunung Kelud mengisahkan Lembu Suro yang memenangkan sayembara, tetapi dikhianati Prabu Brawijaya (Pinterest).

RADARTULUNGSGUNG,JAWAPOS.COM– Legenda Gunung Kelud menyimpan kisah tentang Lembu Suro, sosok berkepala kerbau yang memenangkan sayembara untuk menikahi putri Kerajaan Majapahit. Namun, kemenangan itu justru membawanya pada pengkhianatan Raja Brawijaya dan Putri Diah Ayu Pusparini. Cerita rakyat dari Jawa Timur ini berkembang sebagai kisah asal-usul Gunung Kelud sekaligus pengingat tentang janji, keadilan, dan akibat dari sebuah pengkhianatan.

Gunung Kelud sendiri merupakan salah satu gunung berapi di Jawa Timur yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.731 meter di atas permukaan laut dan telah mengalami sejumlah erupsi. Di balik keberadaan gunung tersebut, masyarakat mengenal cerita turun-temurun tentang Lembu Suro.

Baca Juga: Pemerintah Perpanjang Bantuan Pangan 3 Bulan Hingga Akhir 2026,Paralel Dengan Persiapan Uang Pensiun

Sayembara Raja Brawijaya untuk Putrinya

Pada zaman kejayaan Kerajaan Majapahit, hiduplah seorang raja bernama Prabu Brawijaya. Ia memiliki putri cantik bernama Diah Ayu Pusparini. Kecantikan sang putri membuat banyak pemuda tertarik dan datang untuk melamarnya.

Namun, berbagai lamaran tersebut selalu ditolak oleh Putri Diah. Keadaan itu membuat Prabu Brawijaya bersedih. Sang raja ingin putrinya segera menikah dengan pria yang dianggap pantas, sehingga ia kemudian mencari cara untuk menentukan calon menantu.

Prabu Brawijaya akhirnya mengadakan sayembara yang terbuka bagi para pemuda. Peserta harus mampu merentangkan busur sakti Kyai Garuda Yaksa dan mengangkat gong bernama Kyai Sekar Delima. Siapa pun yang berhasil menyelesaikan kedua tantangan itu berhak menikahi Putri Diah Ayu Pusparini.

Sayembara tersebut menarik perhatian banyak pemuda dari berbagai daerah. Satu per satu peserta mencoba menunjukkan kekuatannya. Namun, tidak ada yang berhasil menaklukkan kedua benda sakti tersebut.

Lembu Suro Memenangkan Sayembara

Ketika Prabu Brawijaya hampir menghentikan sayembara tanpa pemenang, datang seorang peserta yang memiliki penampilan berbeda. Sosok tersebut bernama Lembu Suro dan memiliki kepala menyerupai kerbau.

Kedatangannya membuat orang-orang terkejut. Prabu Brawijaya pun menghadapi dilema. Ia merasa harus memberikan kesempatan kepada Lembu Suro agar tetap dianggap adil terhadap seluruh peserta. Namun, apabila sosok itu menang, sang raja harus menyerahkan putrinya untuk dinikahi.

Lembu Suro akhirnya mendapat kesempatan mengikuti sayembara. Dengan kekuatannya, ia berhasil merentangkan busur Kyai Garuda Yaksa. Ia kemudian melanjutkan tantangan kedua dan sukses mengangkat gong Kyai Sekar Delima.

Keberhasilan tersebut menjadikan Lembu Suro sebagai pemenang. Sesuai ketentuan sayembara, ia berhak menikahi Putri Diah Ayu Pusparini.

Akan tetapi, kemenangan itu tidak membuat sang putri bahagia. Ia merasa sedih karena tidak menginginkan pernikahan tersebut. Prabu Brawijaya juga menghadapi persoalan karena sebelumnya telah menjanjikan putrinya kepada pemenang sayembara.

Baca Juga: Legenda Lembu Suro dan Kutukan Gunung Kelud, Kisah Putri Kili Suci yang Menolak Menikah

Siasat di Balik Sumur Gunung Kelud

Menjelang pernikahan, Putri Diah berusaha mencari jalan agar rencana tersebut dibatalkan. Ia kemudian mengajukan syarat tambahan kepada ayahnya, yakni meminta Lembu Suro membuat sumur di puncak gunung untuk keperluan mandi.

Prabu Brawijaya menyetujui permintaan tersebut dan menyampaikan syarat itu kepada Lembu Suro. Tanpa ragu, Lembu Suro menerima tantangan tersebut dan mulai menggali tanah di puncak gunung.

Setelah bekerja keras, ia akhirnya berhasil menyelesaikan sumur yang diminta. Namun, Putri Diah kembali mengajukan syarat. Lembu Suro diminta masuk ke dalam sumur untuk memeriksa apakah airnya beraroma harum.

Lembu Suro menyetujui permintaan itu tanpa menaruh curiga. Ketika ia sudah berada di dasar sumur, Prabu Brawijaya memerintahkan para prajurit untuk menimbun lubang tersebut dengan tanah.

Para prajurit menjalankan perintah raja. Tanah terus dimasukkan hingga Lembu Suro tidak mampu menyelamatkan diri. Ia akhirnya terkubur hidup-hidup akibat siasat yang dibuat untuk menggagalkan pernikahannya.

Kutukan Lembu Suro kepada Kerajaan

Sebelum meninggal, Lembu Suro melontarkan kutukan kepada Prabu Brawijaya. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, ia mengancam akan membalas ketidakadilan yang dialaminya dan menghancurkan kerajaan.

Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari legenda Gunung Kelud yang diwariskan secara turun-temurun di Jawa Timur. Cerita Lembu Suro juga kerap dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat mengenai erupsi gunung tersebut.

Meski demikian, hubungan antara kutukan Lembu Suro dan letusan Gunung Kelud merupakan bagian dari cerita rakyat, bukan penjelasan ilmiah tentang aktivitas vulkanik. Erupsi gunung berapi terjadi akibat proses geologi, termasuk pergerakan magma dan tekanan gas di dalam bumi.

Legenda ini menyampaikan pesan mengenai pentingnya menepati janji, bersikap adil, dan tidak mengkhianati orang lain. Di sisi lain, kisah Putri Diah juga mengingatkan bahwa pernikahan seharusnya tidak dipaksakan. Cerita Lembu Suro tetap menjadi bagian dari kekayaan tradisi lisan yang melekat pada masyarakat di sekitar Gunung Kelud.

Baca Juga: Legenda Lembu Suro dan Asal-usul Gunung Kelud, Berawal dari Sayembara Putri Majapahit

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : Pinterest
Legenda Gunung Kelud Lembu Suro cerita rakyat Jawa Timur kerajaan majapahit prabu brawijaya