JAKARTA - Asal usul penduduk Jawa kembali menjadi perbincangan menarik setelah sejumlah kitab kuno mengungkap kisah migrasi besar ke Pulau Jawa jauh sebelum masehi. Catatan ini menyebutkan bahwa sebelum kerajaan-kerajaan besar berdiri, wilayah yang kini menjadi pulau terpadat di Indonesia itu telah lebih dulu dihuni oleh pendatang dari luar negeri. Kisah tersebut termuat dalam sumber-sumber kuno yang dikutip dari *Babad Tanah Jawi* karya Soejito Abimanyu.
Baca Juga: Misteri Legenda Pesugihan Monyet di Tulungagung, Konsekuensi Mengerikan di Balik Ritual Ngujang
Dalam naskah kuno tersebut, asal usul penduduk Jawa dikaitkan dengan perpindahan manusia dari wilayah asing, bahkan disebut berasal dari Turki dan kawasan Dekhan di India. Peristiwa ini diyakini terjadi ratusan tahun sebelum masehi, saat Pulau Jawa masih berupa hamparan hutan lebat yang dihuni binatang buas dan belum memiliki struktur pemerintahan seperti kerajaan.
Kitab kuno mencatat bahwa wilayah Singosari di Malang, Jawa Timur, menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah awal Pulau Jawa. Kawasan ini disebut-sebut sebagai pusat awal kehidupan manusia dan cikal bakal berkembangnya peradaban sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.
Migrasi Besar dari Negeri Asing
Menurut kisah dalam naskah kuno, perpindahan penduduk pertama dilakukan oleh Raja Rum sekitar tahun 450 sebelum masehi. Namun misi tersebut gagal total karena kondisi Pulau Jawa yang masih liar dan tidak ramah bagi manusia. Para utusan akhirnya kembali tanpa hasil setelah mendapati tanah yang belum bisa dihuni.
Upaya kedua dilakukan sekitar tahun 350 sebelum masehi. Dalam gelombang ini, dikisahkan sebanyak 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan dikirim ke Pulau Jawa di bawah pimpinan Aji Kiler. Pulau yang kala itu dikenal sebagai Nusa Kendang digambarkan tertutup hutan lebat dengan tanah datar yang ditumbuhi tanaman bernama jawi. Dari sinilah, menurut cerita, nama Tanah Jawi atau Jawa berasal.
Lokasi pendaratan para pendatang masih menjadi perdebatan. Namun sejumlah sumber memperkirakan mereka mendarat di wilayah Semampir, daerah yang kini berada dekat Surabaya. Sayangnya, gelombang kedua ini juga mengalami kegagalan. Dari puluhan ribu orang, hanya tersisa sekitar 40 pasang yang mampu bertahan hidup.
Gelombang Ketiga dan Awal Permukiman
Kegagalan tersebut tidak menghentikan upaya migrasi. Raja Rum kembali mengirim gelombang ketiga dengan persiapan lebih matang. Para pendatang kali ini dibekali alat pertanian dan perlengkapan perlindungan diri untuk menghadapi serangan binatang buas. Selain itu, seorang pemimpin diangkat dari kalangan mereka, dikenal sebagai Raja Kana, untuk mencegah perpecahan dan pelarian.
Gelombang ketiga ini disebut berhasil menempati Pulau Jawa dengan lebih aman. Mereka mulai membuka hutan dan menyebar ke wilayah pedalaman. Dari sisi kepercayaan, kelompok ini diyakini menganut animisme, kepercayaan awal yang memandang alam dan roh sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Kedatangan Kaum Hindu dan Cikal Bakal Kerajaan
Sejarah juga mencatat adanya perpindahan penduduk lain sekitar tahun 100 sebelum masehi. Kelompok ini berasal dari kaum Hindu di India yang terdiri atas petani dan pedagang. Konflik keyakinan disebut menjadi alasan utama mereka meninggalkan tanah asal dan mencari wilayah baru untuk menetap.
Kelompok ini kemudian menetap di daerah Pasuruan dan Probolinggo. Secara bertahap, mereka membentuk koloni di wilayah selatan Pulau Jawa dengan pusat di Singosari. Dari sinilah muncul embrio kekuasaan yang kelak berkembang menjadi kerajaan.
Meski belum jelas siapa pemimpin awal di Singosari, sebuah naskah menyebut adanya sosok perempuan yang berkuasa di Kediri, dikenal sebagai Nyai Kedi. Kerajaannya diperkirakan berdiri sekitar tahun 900 masehi. Keturunan Hindu dari wilayah ini kemudian masuk ke dalam Kerajaan Medang atau Kamulan, yang juga dikenal dengan nama lain seperti Medan, Kemulan, Ngastina, atau Gajah Hoya.
Kisah dalam kitab kuno ini memang masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Namun catatan tersebut memperkaya narasi tentang asal usul penduduk Jawa dan menunjukkan bahwa Pulau Jawa telah menjadi tujuan migrasi dan pusat peradaban sejak ribuan tahun lalu.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina