TULUNGAGUNG- Lima petinju Tulungagung yang dikirimkan untuk berlaga pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur (Jatim) VIII tahun 2023 harus rela pulang dengan tangan hampa.
Bukan karena performa yang menurun, melainkan insiden meninggalnya petinju asal Kabupaten Bondowoso pada gelaran tersebut berakibat seluruh pertandingan tinju harus dihentikan total.
Pemberhentian itu adalah instruksi langsung dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pasca meninggalnya petinju Bondowoso saat bertanding pada Porprov III lalu.
Akibat dari keputusan tersebut, secara umum, seluruh pertandingan cabang olahraga (cabor) tinju dibatalkan dan tidak ada satu pun petinju se-Jatim yang bisa mendapatkan medali. Termasuk lima petinju asal Tulungagung.
Ketua Umum Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Tulungagung, Santoso mengatakan, dari lima petinju yang dikirimkan, sebenarnya empat orang atlet meraih kemenangan di hari pertama pertandingan.
Bahkan, pada perjalanannya, dua atlet sudah masuk ke tahap semifinal dan sangat berpotensi untuk meraih medali emas atau minimal mendapatkan medali perunggu.
“Kalau kita melihat pertandingan kemarin, atlet kita yang masuk semifinal itu satu kelas dengan atlet Bondowoso yang meninggal kemarin. Seharusnya, dua petinju kita ini bisa mendapatkan medali jika melihat potensi lawan yang dihadapi,” ungkap Santoso.
Santoso mengungkapkan bahwa pastinya ada rasa kecewa, khususnya bagi para atlet atas kegagalan mendapatkan medali porprov tahun ini.
Namun, karena itu merupakan instruksi langsung dari gubernur, maka keputusan itu haruslah dihormati semua pihak, termasuk pengurus besar (PB) porprov, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), hingga Pertina Jatim.
Santoso menyebut gagalnya mendapatkan medali juga dirasakan seluruh petinju Jatim yang ambil bagian dalam porprov kemarin.
Dari 22 kelas cabor tinju yang dipertandingkan, tidak ada satu pun yang diberikan medali meskipun sudah ada beberapa kelas yang sudah memasuki babak semifinal.
Editor : Didin Cahya Firmansyah