TULUNGAGUNG - Minggu (29/12/2024) pagi sang mentari enggan menampakkan wajahnya di langit Tulungagung.
Bahkan sebagian Langit di wilayah kota Tulungagung malah diselimuti mendung dan hujan gerimis.
Tapi kondisi itu tidak menyurutkan peserta Last Sunday Run and Ride (LSR) untuk tetap gowes dan lari di pusat kota Tulungagung.
Ya, hari minggu terakhir Desember ini komunitas lari dan sepeda di Tulungagung berkumpul untuk memeriahkan event LSR yang digelar Escapade Society dan Tulungagung Runners.
Event yang mengambil start -finish di Foresthree Coffee ini juga didukung media lokal Jawa Pos Radar Tulungagung, media terbesar di Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek.
Selain itu juga didukung Gun² Sport, Zetfit Club dan beberapa sponsor lainnya.
Menurut Ikhwan Fahrurozi penyelenggara LSR, event di hari minggu terakhir Desember ini diikuti sekitar 300 peserta.
“Acara pagi ini didominasi pelari dari Tulungagung,” ungkapnya.
Ikhwan mengatakan, jejak perjalanan LSR ini awalnya diprakarsai sekelompok pesepeda Fixed Gear di seputaran Jakarta yang rutin bersepeda bersama.
Ide LSR muncul sebagai kegiatan bersama pesepeda pada hari Minggu terakhir di pengujung tahun.
Pesepeda penggerak LSR mempunyai visi awal akan kota yang ramah, aman, dan nyaman untuk bersepeda.
Kala itu berawal di Jakarta dan kemudian berkembang ke kota-kota lain di Indonesia, termasuk di Tulungagung. “Nah di Tulungagung LSR digabung dengan running,” katanya.
Ikhwan melanjutkan, sedangkan semangat LSR adalah gerakan urban cycling untuk keselamatan dan berbagi jalan dengan pengguna jalan lainnya melewati sudut-sudut kota.
“Pada tahun ini di Tulungagung kami selipkan running dengan tujuan yg sama yakni berbagi jalan,” ujarnya.
Ikhwan menambahkan, adanya event pihaknya berharap kepada masyarakat Tulungagung khususnya pengguna jalan untuk saling menghormati sesama pengguna jalan.
“Jangan menang-menangan atau egois,” katanya.
Hal senada diungkapkan Fajar Sulihtiawan. Menurut bapak satu anak ini yang juga manajer Foresthree Coffee acara seperti ini memang harus sering digelar di Tulungagung agar masyarakat di kota marmer bisa saling menghormati antar pengguna jalan.
Dan yang tak kalah penting pemerintah atau pemangku kebijakan di Tulungagung juga harus peduli.
“Salah satunya harus menyediakan sarana prasana atau tempat olahraga yang memadai bagi masyarakat Tulungagung,” tuturnya.
Fajar menambahkan, tapi kenyataan yang ada saat ini di Tulungagung belum ada tempat olahraga yang cukup representatif bagi warganya. “Semoga bupati baru nanti memperhatikan ini semua,” katanya. ***
Editor : Dharaka R. Perdana