TULUNGAGUNG - Paul Pogba, pemain sepakbola profesional asal Prancis, yang bermain sebagai gelandang tengah, akhirnya buka suara usai masa sulitnya tersebar luas.
Dalam wawancara terbuka, Pogba menyebut dirinya merasa sendirian saat tengah berada di titik paling rendah dalam karier, ditinggal oleh kedua orang terdekatnya, sang istri dan teman-teman dekat.
Baca Juga: Real Madrid vs PSG: Duel Sarat Gengsi di Semifinal Piala Dunia Antar klub
Momen krisis itu bermula ketika Pogba menerima sanksi larangan bermain selama empat tahun akibat dugaan pelanggaran doping.
Sanksi ini bukan hanya berdampak negatif pada kariernya di lapangan, tapi juga pada kehidupan pribadinya.
“Saya sadar bahwa cinta dan persahabatan yang saya kira nyata ternyata semu. Saya benar-benar sendirian saat jatuh.” Ungkapannya langsung mengundang empati dan dukungan dari fans global.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Tak Hadir di Pemakaman Diogo Jota, Ternyata Terungkap Alasan Sebenarnya
Namun tak hanya cerita duka, Pogba juga berbicara soal masa rehabilitasi dan perjuangan pribadinya.
Ia menyatakan bahwa proses hukum, termasuk banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), memberinya harapan baru.
Hukuman awal yang mencapai empat tahun memang berat, namun setelah banding, durasinya dipangkas menjadi 18 bulan.
Pogba telah kembali ke lapangan sejak Maret 2025 bersama klubnya AS Monaco.
Reaksi publik beragam, banyak yang memuji kejujurannya, sementara sebagian penggemar berharap Pogba bisa kembali membuktikan kualitasnya di lapangan.
Bagi pecinta sepak bola, ungkapan Pogba menjadi pengingat bahwa figur publik terlepas dari kesuksesan juga berjuang secara emosional.
Baca Juga: Real Madrid Lolos ke Perempat Final Piala Dunia Antarklub 2025 setelah Laga Dramatis Lawan Juventus
Pakar psikologi olahraga menyoroti pentingnya jaringan dukungan saat atlet sedang menghadapi krisis.
Kini, Paul Pogba semkin fokus membangun kembali performa dan reputasinya. Ia berharap bisa memberi inspirasi, bahwa dari titik terendah sekalipun, seseorang bisa bangkit dan jadi lebih kuat.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz