TULUNGAGUNG – Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga running atau lari semakin digemari oleh berbagai kalangan di Tulungagung.
Tidak hanya dilakukan oleh atlet atau penggiat kebugaran, tetapi juga oleh pelajar, pekerja kantoran, hingga komunitas ibu-ibu di Tulungagung.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah warga Tulungagung benar-benar menjadikan running sebagai hobi, atau hanya sekadar ikut-ikutan tren demi eksistensi?
Di sepanjang jalan kota, terutama saat Car Free Day (CFD) Tulungagung yang digelar tiap Minggu pagi di sekitar kawasan Alun-Alun, pemandangan warga yang mengenakan sepatu lari dan pakaian olahraga sudah jadi hal biasa.
Bahkan, banyak dari mereka tergabung dalam komunitas lari seperti Tulungagung Runners, TA Jogging Club, atau kelompok pelari independent yang aktif berbagi progres di media sosial.
Menurut Iqbal, salah satu anggota komunitas lari lokal, minat terhadap olahraga ini meningkat tajam sejak pandemi.
“Awalnya hanya untuk menjaga imun tubuh, tapi lama-lama jadi ketagihan. Selain sehat, running juga jadi sarana bersosialisasi,” ujarnya.
Kegiatan lari tidak lagi hanya dilakukan pagi atau sore hari.
Banyak warga Tulungagung memilih berlari malam hari atau mengikuti event lari lokal dan nasional, seperti fun run, marathon, hingga trail run yang belakangan juga mulai ramai di kawasan pegunungan sekitar Tulungagung seperti di daerah Campurdarat dan Kalidawir.
Dari sisi kesehatan, running memang menawarkan berbagai manfaat, mulai dari membakar kalori, meningkatkan stamina, hingga memperbaiki mood.
Namun tak bisa dipungkiri, tren ini juga dibarengi dengan gaya hidup aktif di media sosial.
Banyak pelari yang memposting pencapaian lari mereka menggunakan aplikasi seperti Strava, yang secara tidak langsung ikut memicu tren dan semangat berkompetisi sehat.
Pengamat sosial budaya lokal, Nur Wulandari, menilai tren ini sebagai sesuatu yang positif.
“Meski banyak yang awalnya ikut-ikutan, lama-lama mereka menyadari manfaatnya. Running jadi bagian dari budaya hidup sehat warga Tulungagung. Apalagi dengan dukungan ruang publik dan komunitas yang aktif, ini bisa jadi tren jangka panjang,” jelasnya.
Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin Tulungagung akan menjadi salah satu kota di Jawa Timur dengan ekosistem olahraga lari yang kuat dan berkelanjutan.
Dukungan dari pemerintah daerah dalam penyediaan fasilitas seperti jogging track dan taman kota yang aman dan nyaman juga menjadi kunci keberlanjutan tren ini.
Running kini bukan sekadar tren sesaat bagi warga Tulungagung, melainkan mulai menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang menyenangkan.
Baik sebagai hobi, kebutuhan kesehatan, maupun gaya hidup modern, running berhasil mencuri perhatian dan menjangkau lintas usia serta profesi.
Tulungagung pun semakin dikenal bukan hanya karena budaya dan kulinernya, tetapi juga semangat warganya dalam membangun kebugaran bersama.(rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah