RADAR TULUNGAGUNG - Kalau kamu baru pertama kali mendengar olahraga padel, mungkin langsung membayangkannya mirip dengan tenis. Wajar, karena keduanya sama-sama dimainkan dengan raket dan bola.
Meski begitu, padel punya aturan dan gaya permainan yang cukup berbeda dari tenis. Bahkan, olahraga ini kini sedang naik daun di Eropa dan mulai populer di Asia, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Kemenangan Timnas Indonesia U23 Atas Korea Selatan Harga Mati, Imbang atau Kalah Otomatis Tersingkir
Padel pertama kali muncul di Meksiko pada tahun 1969, kemudian berkembang pesat di Spanyol dan Amerika Latin.
Tenis jauh lebih tua, berasal dari Prancis abad ke-12, lalu modernisasi aturan dilakukan di Inggris pada abad ke-19.
Meskipun sama-sama menggunakan raket, namun ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Raket padel berbentuk solid tanpa senar, lebih pendek, ringan, dan punya lubang-lubang kecil.
Sedangkan aket tenis lebih besar dengan senar, cocok untuk pukulan jarak jauh dan bertenaga.
Baca Juga: Mikel Merino Cetak Hat Trick, Spanyol Lumat Turki 6-0 dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona eropa
Padel dimainkan di lapangan 20 x 10 meter dengan dinding kaca/kawat yang bisa memantulkan bola. Sedangkan tenis lebih luas, 23,77 x 8,23 meter (tunggal) tanpa dinding pembatas.
Padel biasanya dimainkan ganda (2 lawan 2), bola bisa memantul ke dinding, bikin permainan lebih taktis.
Tenis bisa tunggal atau ganda, bola harus langsung masuk ke area lawan tanpa bantuan dinding.
Kelebihan Masing-Masing
Padel mudah dipelajari pemula, seru karena pantulan dinding bikin rally lebih panjang, teamwork lebih terasa.
Namun tenis yang mempertah klasik, populer di seluruh dunia, mengasah kekuatan fisik, stamina, dan kecepatan.
Meski mirip, padel dan tenis punya identitas unik. Kalau kamu ingin olahraga cepat, taktis, dan teamwork, padel bisa jadi pilihan.
Tapi kalau suka olahraga dengan tradisi panjang, teknik rumit, dan kompetisi bergengsi, tenis jelas juaranya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana