TULUNGAGUNG - Pengamat sepak bola terkemuka, Tommy Welly alias Bung Towel, memberikan pandangan mendalamnya mengenai kegagalan Timnas Indonesia di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia setelah ditaklukkan Arab Saudi.
Meskipun mengakui bahwa tanggung jawab sebagai pelatih kepala berada di pundak Patrick Kluivert, Bung Towel menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh pada Timnas Indonesia karena faktor kegagalan tidak hanya terpaku pada juru taktik asal Belanda tersebut.
Dalam salah satu wawancara, Tommy Welly, yang akrab disapa Bung Towel, membahas kegagalan Patrick Kluivert membawa Timnas Indonesia mencuri poin dari Arab Saudi.
Baca Juga: 9 Kali Juara Dunia! Marc Marquez Akhirnya Samai Rekor Gelar Valentino Rossi di MotoGP dan Grand Prix
Ia menjelaskan bahwa cara publik menilai sepak bola Timnas Indonesia tergantung pada sudut pandang masing-masing, dan jika fokus utama adalah kemenangan semata, ia menilai cara menikmati sepak bola tersebut sangat dangkal.
"Kalau kita melihat timnas kita yang penting menang, ya sudah sedangkal itu kita menikmati sepak bola, jadi kita tunggu menang saja," ujar Bung Towel.
Alih-alih langsung mengkritik Kluivert atau para pemain Garuda, Bung Towel justru menyoroti reaksi publik yang cenderung menghujat pemain Timnas Indonesia setelah kekalahan.
Sebagai individu yang berkecimpung di dunia sepak bola, baik sebagai pengamat, wartawan, dan pernah terlibat di dalamnya, Bung Towel mengaku mengetahui di mana letak kesalahan dalam pertandingan seperti itu.
Ia menyoroti bahwa Timnas Indonesia gagal mencuri poin ketika menjajal kekuatan Arab Saudi, membuat mereka terdampar di dasar klasemen Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Kluivert Harus Dievaluasi, Tapi Bukan Satu-satunya Faktor
Meskipun PSSI sempat menggaungkan bahwa tidak ada target lolos Piala Dunia untuk Patrick Kluivert, analis sepak bola melihat bahwa mengganti pelatih di tengah jalan (menggantikan ST) logikanya adalah untuk mencari hasil terbaik, yang tentunya adalah lolos ke Piala Dunia 2026.
Oleh karena itu, kegagalan ini memunculkan pertanyaan tentang tanggung jawab.
Bung Towel secara pribadi menyatakan bahwa ia tidak berada dalam posisi untuk mempertahankan atau memecat Kluivert karena ia bukan seorang eksekutif.
Namun, ia dengan tegas menyatakan bahwa evaluasi harus dilakukan, demi kejernihan dalam menilai suatu hal agar tidak bersifat emosional.
Menurut Bung Towel, apabila semangat yang dicari hanyalah mencari kambing hitam, maka kritik pasti akan mengarah ke sana.
Namun, ia menekankan bahwa faktor kegagalan Timnas untuk lolos ke Piala Dunia tidak hanya dibebankan kepada Kluivert saja.
Ada pihak-pihak lain yang juga ikut bertanggung jawab atas hasil tersebut.
Masalah Kualitas dan Nonteknis di Lapangan
Dari segi teknis, Bung Towel menyinggung masalah kualitas pemain di lapangan.
Ia melihat bahwa program naturalisasi yang dilakukan adalah bentuk percepatan atau boosting yang membawa Timnas sampai ke babak ini.
Namun, terlihat jelas di babak keempat ini apakah kualitas yang ada memang sangat menonjol atau tidak, dan ia menyimpulkan bahwa performa yang ditampilkan bukanlah excellent.
Bung Towel secara lugas menyebutkan kelemahan yang tampak, yaitu ketidakmampuan tim untuk menciptakan gol atau melakukan eksekusi dengan baik.
Ia bahkan mengatakan bahwa Indonesia seolah tidak memiliki pemain berkualitas.
Selain itu, Bung Towel sempat menyinggung kekhawatiran nonteknis, seperti penunjukkan wasit dari Kuwait, Ahmad Al Ali.
Namun, ia kemudian mengakui bahwa kekhawatiran tersebut terbantahkan oleh kepemimpinan wasit di lapangan, bahkan saat harus melalui ulasan VAR yang memakan waktu lama.
Bung Towel mengaku salut karena keputusan penalti yang diberikan tetap clear, meskipun ia sempat khawatir VAR akan menarik keputusan karena dugaan offside sebelumnya.
Di sisi lain, terdapat masalah nonteknis yang lebih serius dalam pandangan Bung Towel, yaitu mengenai pernyataan yang diungkapkan oleh manajer tim.
Ia mempertanyakan mengapa seorang manajer tim mengungkapkan hal tersebut secara terbuka.
"Tim manajer ngomong itu, oke enggak itu bukan hal sepele loh, saya baru kali ini ini momen besar momentum besar tapi kok kayak (begitu)" tanyanya.
Bung Towel menilai bahwa tindakan tersebut tidak bijaksana (enggak wise) dan menyiratkan adanya kemungkinan ruang ganti yang tidak kondusif, meskipun ia enggan mengambil konklusi langsung mengenai hal tersebut.***
Editor : Vidya Sajar Fitri