Good Boy, Film Horor dengan Sudut Pandang Hewan Peliharaan: Kesetiaan Seekor Anjing saat Suasana Mencekam
Savina Ayu Wardani• Minggu, 26 Oktober 2025 | 05:35 WIB
Indy adalah anjing retriever yang sudah membersamai Todd (Shane Jensen) sejak ia kecil.
RADAR TULUNGAGUNG - Indy adalah anjing retriever yang sudah membersamai Todd (Shane Jensen) sejak ia kecil.
Bertahun tahun kemudian, Todd sakit parah hingga sering batuk darah. Indy tetap setia mendampinginya. Untuk mencari suasana baru, Todd kemudian pindah ke rumah tua peninggalan kakeknya di hutan.
Indy tak lupa diajak. Kata orang, rumah kakek Todd angker. Dulunya, sang kakek juga punya anjing yang bertingkah aneh. Indy pun mulai menunjukkan tingkah yang sama.
Ia kerap melihat sosok hitam mengintai. Pandangan matanya sering tertuju ke titik kosong. Indy pun sering mengendus dan menggonggong tanpa sebab. Ia juga sering mengamatai ruang kosong yang punya masa lalu kelam di rumah kakek Todd.
Todd kebingungan mengapa anjing kesayangannya bertingkah makin aneh. Kondisi kesehatannya pun makin menurun.
Namun, satu yang pasti. Indy selalu setia menemaninya dan siaga melindungi ketika ia merasakan bahaya dan suasana mencekam di sekitar Todd.
Good Boy berdurasi 78 menit. Relatif lebih pendek dibandingkan horor-horor lain. Namun, selama 78 menit itu, penonton benar-benar diajak fokus pada perspektif seekor anjing yang menyaksikan fenomena supranatural sambil menjaga majikannya.
Angle kamera dibuat rendah dan cenderung bergoyang, mengikuti sudut pandang anjing.
Wajah Indy juga banyak disorot secara close-up. Mata nya yang berair, sikap siaga saat sosok hitam muncul, gonggongan, dan dengkingannya adalah dialog tanpa kata-kata yang mencerminkan naluri menjaga dan melindungi seekor anjing.
Selama film berlangsung, setidaknya sebelum babak akhir, wajah para pemeran manusia sengaja dikaburkan atau bahkan tidak diperlihatkan sama sekali.
Selain untuk mewakili sudut pandang anjing yang rendah, fokus penonton sepenuhnya ditujukan ke Indy, sang pemeran utama. Dengan demikian, penonton bisa lebih total mengikuti cerita.
Indy sendiri merupakan anjing peliharaan sang sutradara, Ben Leonberg. Kedekatan mereka tentu menjadi hal yang mempermudah proses syuting, meskipun proses penyelesaian film memerlukan waktu 3 tahun.
"Saat tahun kedua dan ketiga pembuatan film, ia sudah tahu cara kerja dengan kamera dan apa yang harus dia lakukan," ujar Kari Fischer, produser sekaligus istri Leonberg, kepada People.
Leonberg mengatakan bahwa dia tidak punya treatment khusus untuk mengarahkan Indy. Dia mengandalkan latar suasana yang dibuat seram dan gelap.
Leonberg kemudian menggabungkannya dengan ekspresi natural Indy serta angle syuting close-up ke wajah anjing kesayangannya. Dengan demikian, kesan yang ditangkap adalah si anjing bereaksi pada situasi seram.
"Sebenarnya, semua ada di teknik pembuatan. Ketika penonton melihat suasana atau sesuatu yang seram di layar, mereka memproyeksikan emosi tersebut ke Indy. Kami hanya memberi la instruksi singkat seperti duduk, diam, atau memberi seruan untuk memancingnya bergerak. Selebihnya, kami banyak melakukan penyuntingan," papar Leonberg.
Good Boy memang kental dengan horor yang dibangun atmosferik. Leonberg banyak mengambil ruang-ruang gelap dengan frame yang tidak terlalu lebar.
Ini menciptakan kesan terkungkung dan tak nyaman. Selain itu, Leonberg juga sesekali menyisipkan jumpscare yang menambah sensasi kaget. Satu-satunya CGI yang kentara hanyalah sosok hitam yang dilihat Indy.
Di akhir cerita, penonton (mungkin) akan mengetahui apa gerangan sosok hitam yang mengusik Indy. Selain itu, di bagian akhir, penonton akan melihat kesetiaan sejati anjing pada tuannya.
Meski dari awal hingga pertengahan penuh dengan nuansa horor, Good Boy pada akhirnya adalah film yang bercerita bagaimana seekor anjing membuktikan diri sebagai simbol kesetiaan dan sahabat manusia. ****