Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengapa Nova Arianto Pelatih Timnas U20 Jadi Kunci Masa Depan Garuda Muda? Pengakuannya Bikin Publik Tercengang

Anggi Septian A.P. • Jumat, 21 November 2025 | 04:00 WIB
Kisah Nova Arianto Pelatih Timnas U16 dan misinya membentuk generasi baru Indonesia dengan disiplin keras, mental kuat, dan seleksi dari nol.
Kisah Nova Arianto Pelatih Timnas U16 dan misinya membentuk generasi baru Indonesia dengan disiplin keras, mental kuat, dan seleksi dari nol.

RADAR TULUNGAGUNG – Sosok Nova Arianto yang baru saja dipilih untuk menjadi Pelatih Timnas U20 kembali mencuri perhatian publik setelah wawancaranya mengungkap banyak sisi pribadi dan prinsip kepelatihan yang jarang diketahui.

Bukan hanya tentang taktik dan strategi, tetapi juga perjalanan hidup, nilai-nilai yang diwarisi ayahnya, hingga alasan mengapa dirinya memilih menjadi pelatih setelah pensiun.

Figur Nova dinilai penting karena ia menjadi pilar utama dalam membentuk generasi baru Garuda Muda menuju level Asia.

Dalam perbincangan tersebut, Nova Arianto Pelatih Timnas U20 menegaskan bahwa targetnya bukan hanya menghasilkan gelar, tetapi membentuk karakter, mental, dan disiplin pemain muda agar siap menembus Timnas senior.

Hal itu menjadi tujuan besar yang ia pegang setelah memutuskan masuk dunia kepelatihan di masa akhir kariernya sebagai pemain.

Pada paragraf awal wawancara, Nova Arianto Pelatih Timnas U20 mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi pelatih.

Sejak kecil, fokus utamanya hanya bermain bola, berlatih, dan meningkatkan kemampuan individu.

Baru menjelang masa pensiun ia bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa ia wariskan untuk sepak bola Indonesia? Jawabannya adalah melatih, tugas yang kini dijalaninya dengan totalitas.

Dibentuk Ayah Sejak Kecil

Nova menceritakan bahwa peran sang ayah, Sartono Anwar—pelatih legendaris Indonesia—sangat besar dalam membentuk karakternya.

Nilai-nilai seperti kedisiplinan, kejujuran, etos kerja, dan integritas ditanamkan sejak ia masih kecil, bukan saat ia sudah menjadi pemain profesional.

Sang ayah dikenal keras, suaranya bahkan disebut mampu terdengar satu stadion. Gaya tegas itulah yang membentuk Nova hingga kini.

Ia membawa nilai-nilai itu sebagai prinsip kepelatihan dan menuntut pemainnya memiliki attitude yang baik. Bagi Nova, pemain hebat bukan hanya soal skill, tetapi karakter dan mental.

Peran Indra Sjafri yang Mengubah Jalan Hidup Nova

Nova mengaku sangat berterima kasih kepada Indra Sjafri. Pada 2019, ia mendapat telepon untuk bergabung sebagai asisten pelatih Timnas U22.

Panggilan itu menjadi titik balik besar yang membawa Nova masuk ke tim nasional hingga hari ini.

Sebagai asisten, Nova bertanggung jawab memastikan semua kebutuhan tim terpenuhi—mulai dari ruang makan, pematangan materi meeting, hingga meja, kursi, dan skema disiplin sebelum latihan.

Ia selalu datang paling awal untuk memberi contoh kepada para pemain. Disiplin bukan hanya untuk diucapkan, tetapi ditunjukkan.

Selain itu, ia juga terbiasa menghabiskan waktu menonton video pertandingan sebagai referensi penyusunan game plan dan taktik baru.

Bahkan saat libur, ia tetap mempelajari banyak pertandingan agar selalu menemukan pola-pola yang bisa diterapkan di timnas.

Tantangan Terbesar: Mencari Pemain dari Nol

Mengambil alih tim U16 menjadi tantangan tersendiri bagi Nova. Jika Timnas senior atau U23 bisa memilih pemain dari kompetisi, tim U16 justru harus dibangun dari nol.

Nova menyeleksi pemain dari 34 provinsi. Proses TC dilakukan bertahap dengan enam fase berbeda.

Setiap fase diikuti 34 pemain. Total lebih dari 200 pemain ia lihat sebelum akhirnya memilih 23 nama terbaik yang sesuai dengan filosofi dan gaya bermainnya.

Mayoritas dari mereka berasal dari kompetisi EPA, Piala Suratin, dan liga kelompok usia lain.

Nova menekankan bahwa proses seleksi ini membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan objektivitas yang tinggi.

 

Persiapan Fisik Total untuk Level Asia

Menuju turnamen besar seperti Piala Asia U17, Nova melihat adanya gap kondisi fisik antara pemain Indonesia dan pemain negara lain.

Karena itu, ia menerapkan periodisasi latihan ketat mulai dari penguatan otot, stamina, hingga kesiapan taktikal.

Menurutnya, pemain usia 16–17 tahun sebenarnya memiliki kualitas teknis mirip pemain dari negara lain.

Namun perbedaan mencolok terletak pada mental dan disiplin. “Pemain dengan mental kuat itulah yang akan memenangkan pertandingan,” tegasnya.

Disiplin Ketat: Aturan HP, Tidur Siang, dan Larangan Media Sosial

Nova menerapkan aturan tegas di pemusatan latihan. Ponsel wajib dikumpulkan siang dan malam pukul 21.00.

Pemain juga diwajibkan tidur siang setelah makan. Kamar tak boleh dikunci agar staf bisa mengontrol kondisi pemain.

Ia melarang keras pemain aktif di media sosial selama turnamen.

Nova menilai pujian berlebihan bisa menjadi bumerang dan mengganggu fokus pemain muda. Ia ingin seluruh skuad benar-benar fokus menghadapi Piala Asia.

Bukan Gelar, Tapi Masa Depan

Bagi Nova, kesuksesan bukan diukur dari gelar Piala Asia atau Piala Dunia. Prestasi itu hanyalah titel.

Misi terbesarnya adalah memastikan pemain-pemain U16 suatu hari bisa menembus Timnas senior. Jika banyak dari mereka naik level, barulah ia menganggap dirinya berhasil.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#indra sjafri #nova arianto #timnas Indoneesia #Pelatih Timnas U20 #sepak bola indonesia