RADAR TULUNGAGUNG – Nama Nova Arianto Pelatih Timnas U20 tidak pernah lepas dari sosok besar di balik perjalanan panjangnya, yakni sang ayah, Sartono Anwar.
Cerita perjalanan dua generasi ini bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang nilai disiplin, kerja keras, dan hubungan ayah–anak yang ditempa di lapangan hijau.
Nova, yang kini menjadi figur penting dalam pembinaan Garuda Muda, tumbuh dari keluarga yang menjadikan sepak bola sebagai jalan hidup.
Sejak awal, jiwa sepak bola Nova Arianto Pelatih Timnas U20 menurun langsung dari sang ayah, yang dikenal publik sebagai pelatih legendaris PSIS Semarang.
Nova kecil sudah terbiasa dengan atmosfer latihan, pertandingan, dan nasihat keras seorang pelatih yang juga seorang ayah.
Nilai-nilai itu yang kini ia bawa saat menjadi salah satu sosok paling berpengaruh dalam pembinaan tim nasional kelompok usia.
Sebelum dikenal sebagai Pelatih Timnas U20, Nova pernah menjadi salah satu bek tangguh terbaik yang dimiliki Indonesia.
Posturnya jangkung, gaya bermainnya lugas, disiplin, dan piawai membaca serangan lawan. Ia juga terkenal berbahaya lewat sundulan-sundulan mematikan yang kerap mencetak gol krusial.
Setelah memutuskan gantung sepatu pada 2015, jalan kariernya tak menjauh dari sepak bola. Nova memilih mengikuti jejak ayahnya sebagai pelatih.
Sartono Anwar, Guru Pertama Sekaligus Rival di Lapangan
Sartono Anwar adalah figur besar dalam sejarah sepak bola Indonesia. Ia membawa PSIS Semarang meraih gelar juara Liga Indonesia pada musim 1987—prestasi monumental yang masih dikenang hingga kini.
Karakter keras, disiplin, dan detail-oriented membuat Sartono dihormati banyak pemain.
Namun, perjalanan karier ayah–anak ini tidak selalu berada di sisi yang sama. Pada 2011, sebuah momen bersejarah terjadi.
Sartono Anwar melatih Persibo Bojonegoro, sementara Nova bermain untuk Persib Bandung.
Untuk pertama kalinya, mereka bukan berada dalam satu tim, melainkan saling berhadapan sebagai musuh di lapangan.
Menjelang pertandingan itu, Sartono sempat bercanda kepada Nova, “Jangan cetak gol ya!” Namun, candaan itu buyar ketika Nova justru menjebol gawang Persibo.
Ia bahkan melakukan selebrasi ikonik “suster ngesot” yang menjadi ciri khasnya. Dalam wawancara, Nova menirukan reaksi ayahnya yang hanya bisa tersenyum kecut melihat gol tersebut.
Nova mengaku, suasana itu terasa canggung. “Kami pernah satu tim di Arseto Solo, tapi setelah itu bapak bilang, ‘Sudah ya, kita jangan satu tim lagi. Tidak enak kalau saya melatih kamu,’” ujarnya.
Tokoh-Tokoh yang Membentuk Jalan Kepelatihan Nova
Jika banyak pelatih muda mengambil inspirasi dari figur luar negeri, Nova justru memiliki role model yang sangat dekat: ayahnya sendiri.
Ia kemudian menggabungkan berbagai filosofi pelatih yang pernah bekerja dengannya.
“Saya mengambil 25 persen dari ayah saya, 10 persen dari Shin Tae-yong, dan 15 persen dari Coach Indra Sjafri,” ungkap Nova Arianto Pelatih Timnas U20.
Ia menyadari bahwa tidak ada metode tunggal yang cocok untuk semua pemain.
Karena itu, ia memadukan berbagai gaya pelatih yang pernah membentuk dirinya, mulai dari gaya keras ayahnya, pendekatan teknis Indra Sjafri, hingga intensitas tinggi ala Shin Tae-yong.
Selain dari dalam negeri, Nova juga menyerap ilmu dari pelatih asing yang pernah melatihnya di era Liga Indonesia, termasuk Jackson F. Tiago dan Jacksen Ferreira Tiago.
Perpaduan itu membuatnya memiliki pendekatan kepelatihan yang lebih komplit: disiplin, detail, dan adaptif.
Dari Bek Tangguh Menjadi Arsitek Masa Depan Garuda Muda
Perjalanan Nova Arianto Pelatih Timnas U20 tidak bisa dilepaskan dari reputasinya saat masih menjadi pemain.
Dalam banyak kesempatan, ia mengaku bahwa semua pengalaman itu kini membantunya membaca karakter pemain muda dengan lebih tepat.
Nova memahami bahwa pemain usia muda membutuhkan lebih dari sekadar latihan taktik.
Mereka butuh pembentukan mental, kedisiplinan, dan konsistensi. Ini pula yang ia terapkan ketika dipercaya menangani level usia U19 hingga U20.
Di sisi lain, ia tetap rendah hati menyebut bahwa perjalanan kariernya sebagai pelatih masih panjang.
Nova selalu mengingat pesan ayahnya: sepak bola bukan hanya soal prestasi, tetapi juga soal membangun karakter.
Itulah yang ia bawa dalam setiap metode yang diterapkan di lapangan.
Warisan Dua Generasi Sepak Bola Indonesia
Dimulai dari seorang anak yang sering diajak ayahnya ke lapangan latihan, hingga kini menjadi Nova Arianto Pelatih Timnas U20 yang membina masa depan sepak bola Indonesia, perjalanan hidup Nova adalah kisah tentang warisan, dedikasi, dan cinta pada sepak bola.
Momen ketika ia dilarang mencetak gol oleh ayahnya mungkin hanya sekadar cerita kecil.
Namun, dari situlah publik melihat bahwa perjalanan Nova bukan hanya kisah olahraga, melainkan perjalanan dua generasi yang sama-sama mengabdikan hidupnya untuk sepak bola Indonesia.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.