RADAR TULUNGAGUNG - Janice Tjen menjadi nama yang paling sering dibicarakan dalam kebangkitan tenis putri Indonesia sepanjang 2025.
Tahun ini layak dicatat dengan tinta emas dalam sejarah olahraga nasional, bukan hanya karena raihan medali, tetapi juga karena lahirnya generasi atlet muda dengan lompatan prestasi yang nyaris tak masuk akal.
Di sektor tenis putri, Janice Tjen tampil sebagai simbol harapan baru.
Di awal pembicaraan soal prestasi olahraga 2025, publik sempat dibuat takjub oleh Rizki Juniansyah di angkat besi.
Namun euforia itu terasa semakin lengkap ketika Janice Tjen mencuri perhatian dunia tenis. Bayangkan, di akhir 2024 namanya masih terdampar di ranking 578 WTA.
Posisi yang biasanya identik dengan turnamen kelas bawah dan perjuangan panjang tanpa sorotan.
Namun hanya dalam waktu satu tahun, Janice Tjen mencatat lonjakan ekstrem ke peringkat 56 dunia WTA.
Kenaikan ratusan peringkat dalam satu musim bukanlah progres biasa. Ini adalah anomali statistik yang hanya bisa dicapai oleh petenis dengan kualitas teknis, mental, dan strategi karier di atas rata-rata.
Lompatan Ranking yang Mengguncang WTA
Bagi penggemar tenis profesional, menaikkan peringkat 10 hingga 20 posisi saja membutuhkan konsistensi luar biasa.
Tapi Janice Tjen melakukan sesuatu yang jauh melampaui batas kewajaran. Tahun 2025 menjadi titik balik kariernya. Ia bukan sekadar mengikuti turnamen, melainkan mulai mengoleksi gelar.
Dalam satu musim, Janice Tjen berhasil meraih satu gelar WTA 250 dan satu gelar WTA 125. Prestasi ini tergolong langka, terutama bagi petenis Asia Tenggara yang baru menjalani musim penuh di level profesional.
Kemenangan di turnamen WTA 250 menjadi bukti bahwa ia bukan sekadar sensasi sesaat.
Cahaya Terang di Panggung Grand Slam
Puncak performa Janice Tjen terjadi di US Open 2025. Grand Slam merupakan level tertinggi dalam dunia tenis, tempat para petenis terbaik dunia bertarung.
Tak hanya lolos kualifikasi, Janice Tjen menembus babak utama dan melaju hingga ronde kedua.
Bagi tenis Indonesia yang lama absen dari panggung Grand Slam, pencapaian ini terasa seperti cahaya terang di tengah penantian panjang.
Nama Indonesia kembali terdengar di arena elit tenis dunia, dan Janice Tjen menjadi wajah kebangkitan itu.
Menantang Warisan Legenda Yayuk Basuki
Tenis putri Indonesia memiliki standar emas yang pernah ditetapkan oleh legenda hidup Yayuk Basuki.
Di era 1990-an, Yayuk menembus perempat final Wimbledon dan mencapai ranking 19 dunia WTA. Setelah era tersebut, prestasi tunggal putri Indonesia perlahan meredup.
Kini, Janice Tjen hadir sebagai harapan baru. Masuk 60 besar dunia di usia 23 tahun adalah indikator kuat bahwa ia memiliki potensi untuk menyamai, bahkan melampaui para pendahulunya.
Lonjakan ranking brutal dalam setahun menegaskan bahwa pencapaiannya bukan kebetulan.
Rahasia di Balik Mental Baja
Salah satu faktor kunci kehebatan Janice Tjen terletak pada jalur karier yang ia tempuh. Ia menimba ilmu di NCAA, liga mahasiswa Amerika Serikat, sebelum terjun ke level profesional.
Sistem latihan keras, kompetitif, dan berstandar tinggi membentuk fisik serta mentalnya.
Hasilnya terlihat jelas. Janice Tjen tampil tanpa rasa takut menghadapi petenis dari negara raksasa tenis. Mentalitas Gen Z yang fearless menjadikannya petarung sejati di lapangan.
Nasionalisme di SEA Games 2025
Meski rutin tampil di level dunia, Janice Tjen tetap menunjukkan nasionalisme tinggi. Di SEA Games 2025 Thailand, ia tampil sebagai tulang punggung tim Indonesia.
Hasilnya, dua medali emas dan satu perunggu berhasil dipersembahkan di tengah jadwal yang padat dan melelahkan.
Kesuksesan di level global dan dominasi di level regional melengkapi status Janice Tjen sebagai ratu baru tenis putri Indonesia.
Kini, target besar menanti. Olimpiade Los Angeles 2028 menjadi tujuan utama, dengan ambisi realistis menembus top 30 dunia WTA.
Jalan menuju sana memang terjal, namun melihat rekam jejaknya, Janice Tjen bukan sekadar mengejar sejarah. Ia sedang menuliskannya sendiri.***
Editor : Vidya Sajar Fitri