JAKARTA - Perjalanan Red Sparks tanpa Megawati di Liga Voli Korea musim 2025-2026 semakin terasa menyakitkan. Tim asal Daejeon itu kembali menelan kekalahan telak yang membuat posisi mereka kian terbenam di dasar klasemen sementara. Hingga memasuki pertengahan putaran keempat, Red Sparks masih belum mampu keluar dari jerat hasil buruk yang terus berulang.
Situasi kian memburuk setelah Red Sparks kembali tumbang saat menjamu AI Peppers pada 13 Januari lalu. Bermain di hadapan pendukung sendiri di Daejeon Chungmu Gymnasium, Korea Selatan, tim besutan Ko Hee-jin tampil tanpa daya dan kalah tiga set langsung dengan skor 18-25, 21-25, dan 16-25. Kekalahan ini menjadi yang ketiga secara beruntun, setelah sebelumnya mereka sempat mencatatkan satu kemenangan yang tak cukup untuk mengangkat moral tim.
Terpuruk di Dasar Klasemen
Rentetan hasil negatif tersebut membuat Red Sparks semakin tenggelam di papan bawah klasemen Liga Voli Korea. Inkonsistensi performa dan minimnya daya saing menjadi gambaran nyata kondisi tim musim ini. Red Sparks kerap kesulitan mengimbangi tempo permainan lawan, baik dari sisi serangan maupun pertahanan.
Baca Juga: CPNS 2026 Disiapkan Pemerintah, Fokus Formasi Strategis tapi PAN-RB Tegaskan Belum Ada Pendaftaran
Kondisi ini sangat kontras dibanding musim lalu. Saat masih diperkuat Megawati Hangestri, Red Sparks tampil kompetitif dan konsisten bersaing di papan tengah hingga atas. Bahkan, tim berjuluk Red Force itu berhasil melaju ke babak playoff dan nyaris mencatatkan comeback sensasional dalam perebutan tiket final.
Peran Besar Megawati yang Kini Hilang
Tak bisa dimungkiri, Megawati Hangestri menjadi sosok sentral dalam kebangkitan Red Sparks pada musim 2023-2024. Opposite hitter asal Jember, Jawa Timur, itu langsung memberi dampak besar sejak musim debutnya di Negeri Ginseng. Kehadirannya mengakhiri penantian tujuh musim Red Sparks untuk kembali tampil di babak playoff.
Secara individu, Megawati juga konsisten menembus jajaran 10 besar pencetak poin terbanyak Liga Voli Korea. Ketajaman spike, mental bertanding, serta kemampuannya menjadi penentu di momen krusial menjadikannya tulang punggung lini serang Red Sparks. Kini, setelah kepergiannya, lubang besar di sektor ofensif terasa sulit ditutup.
Baca Juga: CPNS 2026 Disiapkan Pemerintah, Fokus Formasi Strategis tapi PAN-RB Tegaskan Belum Ada Pendaftaran
Rekrutan Pengganti Tak Sesuai Harapan
Upaya Red Sparks mencari pengganti sepadan usai ditinggal Megawati ternyata tak berjalan mulus. Pada draft kuota Asia jelang musim 2025-2026, Ko Hee-jin memilih Wipawi Srithong dari Thailand. Namun keputusan tersebut menuai tanda tanya besar karena Wipawi datang dalam kondisi cedera.
Proses pemulihan yang tak kunjung rampung membuat Red Sparks akhirnya mencoret Wipawi, yang ironisnya belum sempat tampil satu kali pun sepanjang musim. Posisi kuota Asia kemudian diisi pemain asal Mongolia. Sayangnya, kontribusinya sejauh ini belum memberikan dampak signifikan bagi performa tim.
Elisa Zanette Jauh dari Ekspektasi
Red Sparks memang masih memiliki pemain asing asal Italia, Elisa Zanette. Namun kehadiran Zanette belum mampu menjadi solusi atas krisis serangan tim. Dalam laga kontra AI Peppers, tak satu pun pemain Red Sparks mampu mencetak dua digit poin.
Pencetak angka terbanyak hanya Park Eun-jin dengan sembilan poin, disusul Park Ye-min dan Escoffier yang masing-masing mencetak tujuh poin. Sementara itu, Zanette tampil jauh di bawah ekspektasi dengan hanya menyumbang lima poin. Statistik ini mencerminkan betapa tumpulnya lini serang Red Sparks musim ini.
Ko Hee-jin Akui Frustrasi
Kekecewaan mendalam pun tak bisa disembunyikan Ko Hee-jin. Pelatih berusia 45 tahun itu terlihat serius dan frustrasi dalam wawancara usai laga. Ia bahkan mengakui kebingungannya dalam menggambarkan situasi pelik yang kini dialami timnya.
Baca Juga: Bunga KUR BRI 2026 Turun? Ini Simulasi Cicilan Per Bulan & Syarat Penting untuk UMKM
Kondisi Red Sparks tanpa Megawati menjadi bukti betapa besarnya pengaruh sang bintang bagi tim. Tanpa solusi cepat dan perubahan signifikan, musim ini berpotensi menjadi salah satu periode terberat dalam sejarah Red Sparks di Liga Voli Korea.
Editor : Natasha Eka Safrina