JAKARTA – Kehadiran Kelme di Indonesia bukan sekadar langkah bisnis biasa. Di balik keputusan brand olahraga asal Spanyol itu membuka cabang resmi di Tanah Air, terdapat satu faktor kunci yang menjadi pemicu utama: ledakan penjualan jersey Persib Bandung.
Dalam dunia sepak bola modern, pakaian bukan hanya soal seragam pertandingan. Klub profesional membutuhkan rangkaian sportwear lengkap, mulai dari jersey tanding, jersey latihan, pakaian kasual, jaket, polo shirt, hingga perlengkapan pendukung lainnya.
Kebutuhan yang besar inilah yang membuat kerja sama antara klub dan apparel menjadi elemen vital dalam ekosistem industri sepak bola.
Kelme, brand olahraga asal Spanyol yang berdiri sejak 1963, sejatinya bukan pemain baru di Indonesia.
Mereka pernah bekerja sama dengan sejumlah klub Tanah Air, seperti Persebaya Surabaya (2007), PSM Makassar (2017), dan Persik Kediri (2023).
Namun, kerja sama tersebut bersifat terbatas dan tidak berlanjut dalam jangka panjang.
Pertanyaannya, mengapa baru sekarang Kelme begitu serius menancapkan ekspansi di Indonesia?
Strategi Tier 2 dan Pasar Underrated
Secara global, Kelme tidak berada di level Nike, Adidas, atau Puma. Posisi mereka berada satu tingkat di bawah tiga raksasa tersebut.
Lanjutnya, Kelme relatif sulit bersaing langsung untuk menjadi apparel klub-klub elite atau tim nasional tier 1 yang sudah menguasai merek besar.
Strategi yang diambil Kelme adalah menyasar klub dan tim nasional tier 2 atau pasar yang selama ini dianggap underrated, namun memiliki potensi komersial besar.
Pola ini terlihat jelas di Eropa. Di Spanyol, Kelme menjadi apparel RCD Espanyol, bukan Real Madrid atau Barcelona. Di Inggris, Kelme mensponsori Watford FC, klub kasta kedua dengan basis suporter yang solid.
Pendekatan serupa diterapkan di Indonesia melalui kerja sama dengan Persib Bandung.
Secara prestasi internasional, Persib belum menjadi kekuatan besar Asia.
Namun dari sisi basis penggemar, Persib adalah salah satu klub dengan pasar terbesar di Asia Tenggara.
Kombinasi inilah yang menjadi daya tarik utama bagi Kelme.
Baca Juga: PHK Guru PPPK 2026 Terjadi, 14 Guru Deli Serdang Diberhentikan Meski Mengabdi Puluhan Tahun
Persib Bandung, Titik Balik Kelme
Kerja sama Kelme dengan Persib Bandung ternyata menghasilkan respon pasar yang jauh di luar ekspektasi.
Berdasarkan data internal Persib per 21 Desember 2025, penjualan jersey resmi telah menembus lebih dari 28.000 keping.
Angka tersebut menjadi kejutan besar bagi Kelme. Selama ini, produksi untuk pasar Indonesia masih mengandalkan fasilitas mereka di China sebagai basis Asia.
Lonjakan permintaan dari Persib membuat jalur distribusi bertanya. Stok jersey di official store kerap kosong, ukuran tidak lengkap, dan waktu restock bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Situasi ini menjadi alarm penting bagi Kelme. Pengalaman mereka sebelumnya di Indonesia tidak menunjukkan angka penjualan sebesar ini.
Artinya, pasar Indonesia sebenarnya sangat potensial, hanya saja belum digarap dengan pendekatan dan mitra yang tepat.
Keputusan Membuka Cabang Resmi
Melihat kenyataan tersebut, Kelme akhirnya mengambil langkah strategi. Per 12 Januari 2026, Kelme resmi membuka mitra operasional di Indonesia.
Kehadiran cabang ini memungkinkan efisiensi logistik, penyesuaian harga agar lebih kompetitif, serta hubungan langsung dengan konsumen lokal.
Langkah ini juga menandai perubahan sikap Kelme terhadap Indonesia. Dari pasar sekunder, kini Indonesia diposisikan sebagai pasar prioritas Asia Tenggara.
Bagi industri olahraga nasional, keputusan ini menjadi sinyal positif. Indonesia mulai dijadikan pasar komersial besar oleh merek internasional, bukan sekadar objek uji coba.
Efek Domino ke Timnas Indonesia
Ekspansi Kelme ke Indonesia juga semakin kuat dengan kabar kerja sama mereka dengan Timnas Indonesia.
Sejumlah media menyebut pengumuman resmi hanya tinggal menunggu waktu. Jika kerja sama ini terwujud, maka skala permintaan akan melonjak jauh lebih besar dibandingkan Persib.
Persib Bandung dan Timnas Indonesia adalah dua entitas dengan basis penggemar masif.
Kombinasi keduanya menjadikan Indonesia sebagai pasar strategi yang mustahil dilayani hanya melalui impor dari China.
Dalam konteks ini, pembukaan cabang Kelme di Indonesia bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan bisnis.
Tantangan dan Dampak Industri
Masuknya Kelme secara serius tentu menjadi tantangan bagi apparel lokal.
Namun di sisi lain, kehadiran brand internasional berpengalaman juga berpotensi menaikkan standar industri pakaian olahraga nasional, baik dari sisi kualitas, desain, maupun sistem distribusi.
Yang jelas, ekspansi Kelme ke Indonesia tidak terjadi secara kebetulan.
Pengungkapan penjualan Persib Bandung menjadi bukti nyata bahwa sepak bola Indonesia memiliki nilai komersial besar, dan Kelme menjadi salah satu brand internasional pertama yang membaca peluang itu dengan tepat.
Baca Juga: Sinyal Kuat Penerimaan CASN 2026 Muncul, RAPBN dan Bocoran Menteri Keuangan Jadi Petunjuk Besar
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh