SURABAYA - Kabar membanggakan datang untuk Bonek dan seluruh pecinta Persebaya Surabaya. Penantian panjang akhirnya terjawab. Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan hadiah istimewa berupa pembangunan Museum Persebaya Surabaya, lengkap dengan revitalisasi Lapangan Karanggayam dan pengembangan Wisma Karanggayam. Tiga infrastruktur tersebut akan menjadi pusat nostalgia, pembinaan, sekaligus simbol loyalitas Bajul Ijo sepanjang masa.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan bahwa revitalisasi kawasan Karanggayam direncanakan rampung dan dibuka pada pertengahan 2026. Proyek ini disiapkan khusus bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Surabaya, sehingga semangat sepak bola dan kebanggaan warga bisa dirasakan secara luas.
“Ini saya persembahkan buat Bonek Surabaya. Harapannya nanti yang meresmikan juga teman-teman Bonek karena ini milik Bonek,” ujar Eri Cahyadi saat meninjau langsung Lapangan Karanggayam, Kamis, 15 Januari 2026.
Museum Persebaya Jadi Rumah Sejarah Bajul Ijo
Museum Persebaya Surabaya akan menjadi ruang khusus yang merekam perjalanan panjang klub kebanggaan Kota Pahlawan, sekaligus kisah jatuh bangun Bonek sebagai suporter fanatik. Tidak hanya menampilkan sejarah Persebaya dari masa ke masa, museum ini juga akan mendokumentasikan loyalitas Bonek yang setia mendampingi tim dalam kondisi apa pun.
“Di wisma ini nanti tidak hanya ada sejarah Persebaya, tapi juga sejarah Bonek dari awal sampai hari ini. Bagaimana jatuh bangunnya Persebaya, Bonek tetap setia,” lanjut Eri.
Kehadiran Museum Persebaya diharapkan menjadi destinasi wisata olahraga baru di Surabaya, sekaligus pusat edukasi bagi generasi muda tentang nilai loyalitas, sportivitas, dan kebanggaan terhadap klub lokal.
Karanggayam Disulap Jadi Pusat Pembinaan Sepak Bola
Selain museum, revitalisasi Lapangan Karanggayam juga menjadi perhatian utama. Kawasan legendaris yang berada di kompleks Stadion Gelora 10 November itu kini berubah total. Lapangan utama telah rampung dan akan dilengkapi tribun portabel, ruang ganti, toilet, serta fasilitas pendukung lainnya.
“Alhamdulillah, Karanggayam yang dulu seperti hutan sekarang sudah berubah total. Lapangan sudah selesai, tinggal melanjutkan mes dan tambahan bangunan,” ungkap Eri.
Lapangan Karanggayam dan Wisma Karanggayam nantinya terintegrasi dalam satu kompleks. Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat pembinaan talenta sepak bola muda Surabaya, mulai tingkat SD hingga SMA. Anak-anak berprestasi dari kompetisi antar kampung akan mendapatkan coaching clinic langsung dari Persebaya Surabaya.
Persebaya Kian Disorot di Papan Atas
Di sisi lain, perkembangan positif Persebaya Surabaya juga mendapat pengakuan dari rival. Pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, menyebut Persebaya sebagai salah satu tim yang patut diwaspadai di putaran kedua BRI Super League 2025–2026.
Menurut Hodak, selain Dewa United, Persebaya Surabaya memiliki potensi besar mengacaukan peta persaingan papan atas. Perubahan di kursi pelatih serta perombakan pemain asing dinilai memberi energi baru bagi Bajul Ijo.
“Mungkin di putaran kedua Dewa bisa memberi kejutan. Tapi untuk tim lain, Persebaya juga berbahaya. Mereka mengganti pelatih dan mendatangkan beberapa pemain baru,” ujar Hodak.
Saat ini, Persebaya berada di posisi ketujuh klasemen dengan 28 poin dari 17 laga. Meski terpaut cukup jauh dari Persib, konsistensi di putaran kedua berpeluang mendongkrak posisi Bajul Ijo.
Jefferson Silva dan Dejan Tumbas Jadi Opsi Taktik Baru
Masuknya Jefferson Silva ke dalam skuad Persebaya turut membuka kemungkinan taktik baru. Pemain asal Brasil itu memiliki fleksibilitas tinggi, mampu bermain sebagai bek kiri, bek tengah sisi kiri, hingga winger.
“Jefferson adalah pemain yang bisa bermain di beberapa posisi. Semua masih mungkin,” kata Bernardo Tavares.
Kehadiran Jefferson juga membuat peran Dejan Tumbas semakin menarik. Dejan dikenal sebagai pemain serba bisa dan berpotensi menjadi senjata rahasia Persebaya di lini depan maupun sektor lain.
“Dejan bisa bermain di hampir semua posisi, kecuali penjaga gawang,” tambah Bernardo.
Dengan dukungan infrastruktur baru, pengakuan rival, serta fleksibilitas taktik yang semakin kaya, Persebaya Surabaya kian mantap menatap putaran kedua. Museum Persebaya pun menjadi simbol bahwa perjalanan Bajul Ijo bukan sekadar soal pertandingan, tetapi juga sejarah, identitas, dan kebanggaan Bonek sepanjang masa.
Editor : Natasha Eka Safrina