JAKARTA - Persebaya Surabaya menghadapi persoalan serius jelang bergulirnya kembali BRI Liga 1 putaran kedua. Bajul Ijo saat ini tercatat tidak memiliki satu pun striker lokal murni dalam skuad utama, kondisi yang membuat pelatih Bernardo Tavares harus bergerak cepat di bursa transfer paruh musim.
Saat ini Persebaya hanya memiliki tiga penyerang murni yang semuanya berstatus pemain asing, yakni Bruno Moreira (Provodovik), Dejan Tumbas, dan Bruno Paraíba. Masalahnya, tidak semuanya berposisi asli sebagai penyerang tengah, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap ketajaman lini depan di sisa kompetisi.
Persebaya Fokus Berburu Striker Lokal
Setelah mendatangkan tiga pemain asing, manajemen Persebaya kini mengalihkan fokus ke pemain lokal, khususnya striker. Bernardo Tavares secara terbuka mengakui bahwa merekrut penyerang lokal tidak mudah karena banyak pemain incaran masih terikat kontrak hingga akhir musim.
“Beberapa pemain lokal yang kami minati masih terikat kontrak, jadi kami tidak bisa merekrut mereka. Sulit untuk merekrut pemain lokal,” ujar Tavares.
Ia juga menyoroti kebiasaan sistem kontrak di sepak bola Indonesia yang kerap menggunakan kontrak jangka pendek, sehingga membatasi ruang gerak klub di bursa transfer.
Baca Juga: Manajemen Agresif Persebaya Surabaya Ogah Melempem, Joao Tavares atau Mateus Pato Jadi Bomber Utama?
Tavares Andalkan Analisis dan Potensi Internal
Alih-alih memaksakan transfer mahal, Tavares memilih bersikap realistis. Ia mengaku telah melakukan analisis mendalam dengan menonton banyak pertandingan untuk menilai potensi pemain, baik di dalam skuad Persebaya maupun di klub lain.
Selain berburu pemain di luar, Tavares juga menekankan pentingnya memaksimalkan potensi internal klub, termasuk pemain muda dari akademi Persebaya.
“Di saat ini kita harus mengetahui rumah yang kita miliki, akademi, pemain muda, dan tim utama kita,” kata pelatih asal Portugal tersebut.
Langkah ini dinilai lebih strategis untuk menjaga keseimbangan komposisi tim sekaligus menekan risiko transfer yang terlalu mahal.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya