JAKARTA – Como 1907 di bawah asuhan Cesc Fabregas terus melampaui ekspektasi publik sepak bola Italia. Klub yang baru promosi ke Serie A musim lalu kini menjelma menjadi tim kompetitif dengan skuad muda, solid, dan sarat kejutan. Sentuhan jenius Fabregas tak hanya membuat Como stabil, tetapi juga menghadirkan deretan bintang baru yang sebelumnya luput dari sorotan.
Pada musim lalu, Como 1907 di bawah asuhan Cesc Fabregas sukses finis di peringkat 10 besar Serie A. Capaian tersebut langsung menempatkan Lariani sebagai kuda hitam, bahkan menjadi batu sandungan bagi klub-klub mapan seperti AC Milan. Prestasi itu tidak datang secara instan, melainkan hasil dari keputusan strategis mempertahankan pemain kunci dan konsistensi taktik.
Keputusan Krusial Pertahankan Pilar Utama
Salah satu langkah paling berani yang diambil manajemen Como adalah menolak tawaran besar dari klub-klub Premier League. Nico Paz, gelandang serang asal Argentina yang ditebus murah dari Real Madrid seharga 6 juta euro, menjadi poros utama permainan Como dengan catatan enam gol dan sembilan assist. Penampilannya langsung menarik minat Tottenham Hotspur yang dikabarkan siap mengajukan tawaran hingga 70 juta euro.
Selain Paz, winger asal Senegal Assane Diao juga tampil impresif dengan torehan 10 gol dan empat assist. Everton dan Tottenham turut memantau perkembangan sang pemain. Namun, manajemen Como memilih fokus pada proyek jangka panjang ketimbang keuntungan instan. Presiden klub Mirwan Suwarso menegaskan bahwa Como tidak kekurangan dana dan tidak memiliki urgensi menjual pemain kunci dalam waktu dekat.
Skuad Muda Kian Merata dan Kompetitif
Keputusan mempertahankan kerangka utama terbukti tepat. Fabregas tidak perlu merombak sistem permainan dan Como pun tampil konsisten sejak awal musim. Dari tujuh laga awal Serie A, Como hanya sekali menelan kekalahan, yakni saat menghadapi Bologna.
Yang menarik, pemain-pemain muda yang baru didatangkan langsung menyatu dengan sistem. Jesus Rodriguez menjadi salah satu sorotan. Winger muda ini dikenal memiliki dribel kuat, visi permainan tajam, dan keberanian duel satu lawan satu. Sejauh ini, Rodriguez sudah mencatatkan dua gol dan tiga assist di semua kompetisi.
Nama lain yang tak kalah menjanjikan adalah Jaden Adayi. Pemain multifungsi ini mampu bermain di kedua sisi sayap dan dinilai sebagai aset masa depan Como. Konsistensinya sebagai pelapis membuatnya kini menjadi rebutan federasi Belanda dan Ghana. Selain itu, Fabregas juga sukses memoles Anastasius Dovikas, Jacobo Ramon, hingga Alex Valle yang tampil sebagai man of the match saat menghadapi Hellas Verona.
Melesat ke Papan Atas dan Ancaman Nyata Zona Eropa
Kemenangan 3-1 atas Hellas Verona menjadi penegas performa impresif Como 1907 di bawah asuhan Cesc Fabregas. Lariani kini bertengger di peringkat lima klasemen Serie A dengan 16 poin, hanya terpaut dua angka dari Inter Milan di posisi ketiga.
Tak hanya tajam di depan, Como juga solid di belakang. Mereka menjadi salah satu tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit, yakni enam gol, hanya kalah dari AS Roma. Statistik ini membuat Como semakin disegani oleh para pesaingnya dan mulai diperhitungkan dalam perebutan tiket kompetisi Eropa.
Baca Juga: Lucas Cardoso ke Persib Bandung? Rumor Menguat Jelang Laga PSBS Biak
Sentuhan Taktik Ala Guardiola dan Wenger
Keberhasilan Como tak lepas dari kecerdasan taktik Fabregas. Dengan formasi dasar 4-3-3, Como mengandalkan build-up rapi dari belakang, penguasaan bola, dan rotasi posisi gelandang. Skema ini kerap berubah menjadi 4-2-2 saat dua gelandang nomor 8 dan 10 turun menjadi pivot untuk mengontrol permainan.
Fabregas mengakui gaya bermainnya banyak terinspirasi dari Pep Guardiola, namun ia menyebut Arsene Wenger sebagai figur paling berpengaruh dalam perjalanan kariernya sebagai pelatih. Wenger pun memuji perkembangan Como yang dinilainya cerdas, solid, dan memiliki mentalitas kuat meski kalah fisik dari tim-tim besar seperti Juventus.
Target Sejarah Baru Como 1907
Como belum pernah mencicipi kompetisi Eropa sepanjang sejarahnya. Namun, dengan performa saat ini, peluang tersebut terbuka lebar. Fabregas tetap mengingatkan pentingnya konsistensi dan kerendahan hati agar Como tidak bernasib seperti tim kejutan lain yang merosot di akhir musim.
“Saya sangat bangga dengan mentalitas para pemain. Kami harus terus berkembang dengan cara yang benar,” tegas Fabregas. Jika tren positif ini berlanjut, Como 1907 di bawah asuhan Cesc Fabregas berpeluang menorehkan sejarah baru di Serie A.
Editor : Natasha Eka Safrina