JAKARTA – Persija Jakarta kembali berada di persimpangan ujian berat pada lanjutan Super League 2025–2026. Menjelang laga krusial melawan Madura United di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jumat malam, Macan Kemayoran harus menerima kenyataan pahit tampil dalam kondisi tidak ideal. Persija Jakarta dipastikan kehilangan lima pemain penting sekaligus, sebuah situasi yang menguji konsistensi ambisi juara yang sejak awal musim terus digaungkan.
Kondisi pincang Persija Jakarta bermula dari badai cedera yang menghantam lini tengah. Hanif Syahbandi menjadi salah satu nama yang harus menepi dalam waktu panjang. Gelandang bernomor punggung 19 itu didiagnosis mengalami cedera tulang rawan lutut dan telah diputuskan menjalani tindakan operasi. Tim medis memperkirakan Hanif membutuhkan waktu pemulihan hingga enam bulan sebelum bisa kembali merumput.
Selain Hanif, Van Basti Souza juga belum dapat memperkuat tim. Pemain asal Brasil tersebut mengalami robekan ligamen bahu. Meski tidak memerlukan operasi, Souza tetap harus menjalani program rehabilitasi intensif dengan estimasi waktu pemulihan sekitar tiga hingga empat minggu. Absennya dua pilar ini membuat komposisi lini tengah Persija semakin tipis.
“Kami berharap proses pemulihan berjalan lancar. Doakan agar Hanif dan Souza bisa kembali secepat mungkin ke lapangan,” ujar Dokter Tim Persija, Muhammad Andansah.
Sanksi Komdis Persempit Opsi Pemain
Masalah Persija Jakarta tak berhenti pada cedera. Beberapa pemain lainnya juga harus absen akibat sanksi dari Komite Disiplin PSSI. Van Basti Souza sebelumnya juga dijatuhi hukuman larangan bermain dua pertandingan dan denda Rp75 juta akibat gestur tidak pantas ke arah tribun pada laga kontra Persip, 11 Januari 2026.
Pada laga yang sama, Bruno Tubarau turut menerima sanksi tambahan berupa larangan bermain dua pertandingan dan denda Rp10 juta karena dianggap melakukan pelanggaran serius. Situasi semakin pelik karena Fabio Calonego dan Rio Matsumura masih menjalani hukuman dari laga melawan Semen Padang pada Desember 2025.
Akumulasi cedera dan sanksi ini membuat Mauricio Souza harus memutar otak dalam meracik komposisi tim. Namun, pelatih asal Brasil itu memilih tetap tenang. Baginya, kondisi ini justru menjadi ujian karakter dan kesempatan bagi pemain lain untuk menunjukkan kualitas.
Mental Juara Jadi Taruhan
Mauricio Souza menegaskan bahwa mental juara tidak diukur dari kelengkapan skuad semata. Ia menilai keberanian menghadapi situasi sulit menjadi fondasi penting bagi tim yang ingin berbicara banyak dalam perebutan gelar.
“Kondisi ini adalah tantangan. Kami ingin melihat siapa yang siap bertanggung jawab dan memberikan segalanya di lapangan,” ucap Mauricio.
Keyakinan itu juga diperkuat oleh kehadiran beberapa pemain muda dan rekrutan anyar yang mulai mendapat menit bermain. Dalam keterbatasan, Persija Jakarta ingin membuktikan bahwa identitas sebagai tim besar tetap terjaga.
Kritik Jack Mania: Butuh Pemain Pembeda
Di sisi lain, sorotan tajam datang dari Ketua Jakmania, Diky Sumarno. Ia menilai persoalan utama Persija bukan pada starting eleven, melainkan minimnya pemain pembeda dari bangku cadangan.
“Pelapis di Persija jangan hanya jadi pemain pengganti, tapi harus jadi pembeda. Pemain yang bisa memberi solusi saat permainan mentok,” tegas Diky.
Menurutnya, problem tersebut sudah terlihat sejak putaran pertama. Persija tercatat gagal meraih kemenangan dalam beberapa laga kandang krusial, termasuk saat melawan Malut United dan Bali United. Padahal, tim yang menargetkan juara wajib menjadikan kandang sebagai lumbung poin.
Diky juga membandingkan konsistensi Persip yang dinilainya mampu memaksimalkan laga kandang berkat kedalaman skuad dan dukungan suporter. Ia mendorong manajemen Persija Jakarta berani melakukan evaluasi serius pada putaran kedua.
“Kalau kontribusinya minim, ya harus diganti. Kita butuh pemain yang benar-benar memberi dampak, bukan sekadar mengisi bench,” katanya.
Baca Juga: Plafon KUR BRI 2026 Terbaru, Ini Besaran Pinjaman untuk UMKM
Putaran Kedua Jadi Penentuan
Krisis pemain yang dialami Persija Jakarta menjadi alarm bahwa perjalanan musim ini masih panjang. Putaran kedua Super League 2025–2026 akan menjadi pembuktian apakah Persija mampu menjawab tantangan, bukan hanya dengan nama besar, tetapi juga dengan mental juara yang sesungguhnya.
Editor : Natasha Eka Safrina