Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dilema “Trolley Problem” Bikin Geger! Ini Penjelasan Konsekuensialis vs Kategoris dalam Kelas Justice Harvard yang Buka Cara Baru Menilai Benar-Salah

Natasha Eka Safrina • Jumat, 23 Januari 2026 | 16:32 WIB

Trolley Problem bikin debat panas! Kuliah Justice Harvard bongkar konsekuensialis vs kategoris, dari trem hingga kasus kanibalisme.
Trolley Problem bikin debat panas! Kuliah Justice Harvard bongkar konsekuensialis vs kategoris, dari trem hingga kasus kanibalisme.

JAKARTA - Trolley Problem kembali menjadi topik yang ramai dibahas karena mampu “mengaduk” logika moral banyak orang hanya lewat satu skenario sederhana: memilih menyelamatkan lima nyawa atau satu nyawa. Dalam cuplikan kuliah bertema Justice, diskusi moral itu bukan hanya memancing debat panas, tetapi juga mengantar peserta memahami dua cara berpikir etika paling berpengaruh dalam filsafat: konsekuensialis dan kategoris.

Sejak awal, Trolley Problem langsung menempatkan peserta pada situasi ekstrem. Seorang pengemudi trem melaju kencang dan tak bisa berhenti. Di depan ada lima pekerja di jalur utama. Namun, ada jalur samping yang hanya berisi satu pekerja. Peserta diminta memilih: membelokkan trem dan menewaskan satu orang, atau tetap lurus dan menewaskan lima orang.

Mayoritas memilih membelokkan trem. Alasannya sederhana: lebih baik satu orang mati daripada lima orang mati. Prinsip “mengurangi korban” ini terdengar rasional dan bahkan dianggap sebagai bentuk pilihan moral yang paling masuk akal.

Baca Juga: It’s Time To Ride The Kalcer! Warna Terbaru Grand Filano Hybrid Siap Jadi Skutik Idaman Anak Muda Kalcer Abis

Ketika Trolley Problem Berubah: Dorong Orang untuk Selamatkan Lima?

Namun situasi berubah drastis saat skenarionya dimodifikasi. Kali ini peserta bukan pengemudi, melainkan seorang pengamat di atas jembatan. Di bawah, trem akan menabrak lima pekerja. Di samping pengamat berdiri seorang pria bertubuh besar. Jika pria itu didorong jatuh ke rel, tubuhnya akan menghentikan trem dan menyelamatkan lima orang, tetapi ia akan mati.

Menariknya, mayoritas peserta yang sebelumnya setuju “satu untuk lima” mendadak menolak mendorong pria tersebut. Pertanyaan besar pun muncul: ke mana perginya prinsip yang sebelumnya mereka dukung?

Sebagian peserta menilai ada perbedaan penting: membelokkan trem terasa seperti “memilih jalur” dalam situasi darurat, sedangkan mendorong seseorang dianggap sebagai tindakan langsung yang menyerupai pembunuhan. Ada juga yang merasa korban di jembatan “tidak terlibat” sama sekali, sehingga memasukkannya ke dalam situasi dianggap lebih salah.

Baca Juga: Rumor Transfer Arema FC Terbaru Makin Panas! Bongkar Total Skuad, 3 Pemain Grade A Ini Disebut Jadi Kunci Revolusi Singo Edan di Putaran Kedua

Kasus Dokter dan Transplantasi: Moralitas Tidak Sesederhana Angka

Diskusi kemudian berkembang ke kasus medis. Dalam skenario pertama, seorang dokter di IGD menghadapi enam pasien: lima luka sedang dan satu luka parah. Jika dokter fokus menyelamatkan satu yang parah, lima pasien lain bisa meninggal. Mayoritas memilih menyelamatkan lima.

Tetapi skenario berikutnya jauh lebih gelap: seorang ahli bedah transplantasi punya lima pasien yang butuh organ untuk hidup, sementara tidak ada donor. Lalu ada satu orang sehat di ruangan sebelah yang datang hanya untuk check-up. Jika dokter mengambil lima organnya, orang sehat itu mati, tetapi lima pasien selamat.

Di sini, hampir semua peserta menolak. Padahal hitungan “lima selamat, satu mati” tetap sama. Penolakan ini menunjukkan bahwa dalam penilaian moral, manusia sering tidak hanya menghitung akibat, tetapi juga menilai karakter tindakan itu sendiri.

Baca Juga: 10 Kuliner Legendaris Surabaya yang Selalu Diburu, dari Bakmi Ayam Panggang hingga Sego Sambal Iwak Pe

Konsekuensialis vs Kategoris: Dua Cara Berpikir yang Bertabrakan

Dari rangkaian dilema tersebut, muncul dua kerangka moral besar.

Pertama adalah konsekuensialis, yakni cara berpikir yang menilai benar-salah berdasarkan hasil akhir. Jika akibatnya lebih baik untuk lebih banyak orang, maka tindakan dianggap lebih benar. Bentuk paling terkenal dari pendekatan ini adalah utilitarianisme, yang dipopulerkan Jeremy Bentham dengan gagasan “memaksimalkan kebahagiaan” atau the greatest good for the greatest number.

Kedua adalah kategoris, yakni cara berpikir yang menilai tindakan berdasarkan prinsip moral yang dianggap mutlak. Dalam pendekatan ini, ada tindakan yang tetap salah meskipun menghasilkan manfaat besar, seperti membunuh orang tak bersalah.

Kisah Nyata Dudley dan Stephens: “Makan Manusia” Demi Bertahan Hidup

Kuliah ini juga menyinggung kasus nyata abad ke-19: Queen vs Dudley and Stephens. Empat orang selamat dari kapal karam, terdampar tanpa makanan dan air. Setelah berhari-hari kelaparan, kapten Dudley dan Stephens membunuh seorang remaja bernama Richard Parker, lalu memakan tubuhnya demi menyelamatkan diri.

Mereka berdalih “terpaksa” dan demi bertahan hidup. Namun banyak peserta menilai tindakan itu tetap salah karena mengambil nyawa orang lain. Ada juga yang mempertanyakan apakah tindakan itu akan berubah jika dilakukan lewat undian (lottery) atau dengan persetujuan korban.

Dari sini, diskusi meruncing pada tiga isu besar: apakah “hak hidup” bisa dikorbankan demi banyak orang, apakah prosedur adil seperti undian membuat pembunuhan lebih bisa diterima, dan seberapa besar peran “consent” dalam membenarkan sebuah tindakan.

Baca Juga: 6 Tempat Makan dan Nongkrong Paling Populer di Tulungagung, dari Cafe Tengah Kota hingga Spot View Alam Pegunungan

Pada akhirnya, Trolley Problem tidak sekadar permainan logika. Ia menjadi pintu masuk untuk memahami pertarungan ide besar dalam filsafat moral—yang ternyata selalu hadir dalam keputusan sehari-hari, bahkan dalam kebijakan publik.

Editor : Natasha Eka Safrina
#arema #Utilitarianisme