JAKARTA - Nama Chafidz Yusuf kembali ramai diperbincangkan pecinta bulu tangkis setelah pasangan muda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menjuarai Australian Open 2025.
Duet muda ini bahkan dijuluki sebagai The New Minions karena dinilai memiliki pola permainan dan perjalanan karier yang mirip dengan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Di balik keberhasilan Raymond/Nikolaus, publik mulai menelusuri sosok pelatih yang meracik duet tersebut.
Nama Chafidz Yusuf pun mencuat. Pelatih senior PBSI itu disebut sebagai sosok yang pertama kali memasangkan Raymond dan Nikolaus pada awal 2025.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Raymond/Nikolaus langsung tampil konsisten, merebut sejumlah gelar di level International Challenge, hingga akhirnya mencapai puncaknya dengan menjuarai Australian Open 2025 setelah mengalahkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di final.
Peracik Duet Marcus/Kevin
Bagi pecinta bulu tangkis Indonesia, nama Chafidz Yusuf bukan sosok baru. Ia dikenal sebagai pelatih yang dulu menduetkan Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo saat masih junior.
Duet tersebut kemudian dipoles lebih lanjut hingga menjelma menjadi pasangan legendaris yang mendominasi ranking satu dunia dalam waktu lama.
Gaya bermain cepat, agresif, dan penuh kreativitas yang menjadi ciri khas Minions, kini dinilai kembali terlihat pada permainan Raymond/Nikolaus.
Raymond/Nikolaus Racikan Baru
Sebelum dipasangkan, Raymond Indra sempat berduet dengan Patra Harapan Rindorindo.
Sementara Nikolaus Joaquin sebelumnya berpasangan dengan Muhammad Alfarizi.
Namun Chafidz Yusuf melihat potensi besar jika keduanya disatukan.
Insting pelatih berpengalaman itu kembali terbukti. Chemistry Raymond/Nikolaus terbangun sangat cepat.
Di Australian Open 2025, pasangan ini bahkan mengguncang publik Malaysia setelah menyingkirkan tiga ganda putra negeri jiran dalam perjalanan menuju gelar juara.
Rekam Jejak Panjang Chafidz Yusuf
Chafidz Yusuf merupakan alumni PB Djarum kelahiran Solo, 6 Desember 1962. Ia memulai karier sebagai pemain di PB Djarum pada 1979–1988, lalu menjadi atlet pelatnas PBSI pada 1983–1988.
Setelah pensiun, ia langsung meniti karier sebagai pelatih di PB Djarum pada 1989–1996.
Kariernya berlanjut sebagai pelatih ganda putra pelatnas PBSI pada 2003–2006, kemudian melatih tim nasional Singapura pada 2006–2008.
Sejak 2012 hingga 2022, Chafidz kembali aktif di pelatnas PBSI, menangani sektor ganda putra dan ganda putri.
Bahkan keberhasilan Greysia Poli/Apriyani Rahayu meraih emas Olimpiade Tokyo 2020 juga tidak lepas dari sentuhan tangannya.
Sempat Melatih Filipina, Kini Kembali ke PBSI
Pada 2023, Chafidz Yusuf sempat menjadi pelatih tim nasional Filipina.
Namun sebelum pertengahan 2024, ia memutuskan kembali ke Indonesia dan bergabung lagi dengan PBSI.
Kembalinya Chafidz ke tanah air kini terasa sangat berdampak.
Salah satu buktinya adalah keberhasilan Raymond/Nikolaus yang langsung melejit di awal masa kebersamaan mereka.
Harapan Lahirnya Generasi Baru
Sebagai pelatih yang pernah membawa Marcus/Kevin ke puncak dunia, Chafidz kini diharapkan mampu mengulang kisah sukses tersebut lewat generasi baru.
Raymond/Nikolaus menjadi produk teranyar racikan tangannya. Bahkan di media sosialnya, Chafidz juga memperkenalkan beberapa pasangan muda lain yang mulai menunjukkan prestasi di level internasional.
Keberhasilan Raymond/Nikolaus menjuarai Australian Open 2025 seolah menjadi penanda bahwa insting Chafidz Yusuf dalam meramu pasangan ganda putra belum pudar.
Publik bulu tangkis Indonesia pun kini kembali memiliki harapan besar di sektor ganda putra. Kerinduan terhadap masa kejayaan The Minions perlahan mulai terobati dengan hadirnya duet muda ini.
Jika konsistensi terus terjaga, bukan tidak mungkin Raymond/Nikolaus akan mengikuti jejak Marcus/Kevin sebagai penguasa dunia di masa mendatang.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.