JAKARTA - Megawati Hangestri kembali menjadi nama yang ramai dibicarakan, meski saat ini ia sudah pulang ke Indonesia dan memperkuat Jakarta Pertamina Enduro di Proliga 2026. Mantan timnya di Liga Voli Korea, Daejeon Red Sparks, justru mengalami masa sulit yang kontras dibanding musim lalu ketika masih diperkuat opposite hitter asal Jember tersebut.
Red Sparks kembali menelan pil pahit setelah dipermalukan GS Caltex dengan skor telak 0-3. Kekalahan itu memperpanjang rekor buruk mereka menjadi lima kekalahan beruntun dan membuat tim asuhan pelatih Ko Hee-jin semakin tenggelam di dasar klasemen musim ini. Situasi ini pun memunculkan nostalgia besar di kalangan penggemar, termasuk dari salah satu pemain senior Red Sparks yang tak kuasa menahan emosi.
Kekalahan terbaru Red Sparks terjadi saat bertandang ke markas GS Caltex di Gimnasium Jangchung, Seoul, pada Selasa (20/1/2026). Dalam laga tersebut, Red Sparks digilas tanpa balas dengan skor set 19-25, 21-25, dan 14-25. GS Caltex yang sebelumnya juga berada dalam tren negatif, berhasil memutus rentetan kekalahan dan meraih kemenangan penting di hadapan pendukung sendiri.
Baca Juga: Banyak SD Butuh Perbaikan, Disdik Tulungagung Prioritaskan Infrastruktur 2026
Red Sparks Terpuruk, Berbeda Jauh Saat Masih Ada Megawati
Performa Red Sparks musim ini dinilai jauh merosot jika dibandingkan musim lalu. Saat Megawati masih memperkuat tim, Red Sparks dikenal sebagai lawan yang menakutkan dan kerap menyulitkan GS Caltex. Bahkan, tim berjuluk Red Force itu sempat melaju hingga babak final playoff dan nyaris meraih gelar, meski akhirnya gagal menjadi juara.
Namun kini, situasi berubah drastis. Red Sparks tercatat masih berada di posisi juru kunci dengan enam kemenangan, 18 kekalahan, dan total 18 poin. Sementara GS Caltex berada di peringkat kelima dengan catatan 11 kemenangan, 12 kekalahan, serta 33 poin, dan hanya terpaut dari IBK Industrial Bank yang menempati peringkat keempat.
Kondisi Red Sparks makin rumit karena badai cedera yang menghantam skuad mereka. Salah satu kabar terburuk datang dari pemain asing Elisa Zanet, yang disebut sebagai pengganti Megawati Hangestri. Elisa dilaporkan mengalami kecelakaan saat latihan dan harus dilarikan ke rumah sakit, sehingga absen saat menghadapi GS Caltex.
Pelatih Ko Hee-jin mengakui timnya tampil pincang karena keterbatasan pemain. Selain Elisa, pemain lain seperti Park Hye-min juga mengalami masalah pada kaki sehingga kondisinya belum ideal untuk tampil penuh.
“Park Hye-min mengalami masalah kaki. Jadi kondisinya agak buruk. Saya harus menunggu dan melihat bagaimana dia melakukan pemanasan sebelum memutuskan apakah akan menurunkannya,” ujar Ko Hee-jin.
Ko Hee-jin juga menjelaskan bahwa Elisa Zanet mengalami luka robek di bagian dahi dan membutuhkan perawatan di rumah sakit terdekat. Cedera itu terjadi saat peregangan di ruang ganti sebelum pertandingan, yang membuat rencana permainan Red Sparks berantakan sebelum laga dimulai.
Ko Hee-jin Minta Maaf: “Penampilan Terburuk Musim Ini”
Usai pertandingan, Ko Hee-jin tidak menutupi rasa kecewanya. Ia bahkan menyebut kekalahan dari GS Caltex sebagai penampilan terburuk Red Sparks musim ini. Dalam gestur penuh tanggung jawab, ia membungkuk kepada publik sebagai bentuk permintaan maaf.
“Saya meminta maaf tim keseluruhan telah kehilangan keterampilan dan tekad. Sebagai pelatih, saya merasakan tanggung jawab yang sangat besar,” ucap Ko Hee-jin.
Ia juga mengaku sampai tidak punya kata-kata untuk menjelaskan performa timnya kepada para penggemar yang kecewa. Ko Hee-jin menegaskan bahwa Red Sparks akan berusaha memperbaiki diri selama jeda All-Star agar bisa kembali kompetitif di sisa musim.
Nohran Menangis: “Saya Rindu Red Sparks Saat Ada Megawati”
Di tengah situasi sulit tersebut, pernyataan paling mengharukan datang dari Nohran, libero senior Red Sparks. Saat menjadi bintang tamu dan berbincang dengan reporter media Korea The Spike, Nohran ditanya mengenai perasaannya melihat Red Sparks terpuruk setelah musim lalu nyaris juara.
Sambil menitikkan air mata, Nohran mengaku tidak percaya timnya bisa sehancur ini. Ia menyebut sangat merindukan masa-masa ketika Red Sparks tampil perkasa, terutama saat Megawati masih menjadi bagian penting tim.
“Ya, saya seperti tidak percaya Red Sparks bisa terpuruk seperti ini. Sejujurnya saya rindu masa-masa Red Sparks meraih kejayaan seperti musim kemarin ketika Megawati masih bermain bersama kami,” kata Nohran.
Ia bahkan menyampaikan harapan yang membuat banyak penggemar tersentuh, yakni keinginannya agar Megawati kembali membela Red Sparks dan meraih kejayaan bersama lagi.
“Jika bisa, saya ingin Megawati kembali lagi ke sini bermain dan meraih kejayaan bersama kami lagi,” lanjutnya.
Media Korea Ikut Soroti: Red Sparks Kehilangan Pemain Kunci
Sorotan juga datang dari media Korea Selatan yang menilai Red Sparks kehilangan sosok-sosok kunci yang dulu menjadi fondasi kesuksesan mereka. Beberapa nama yang disebut pergi adalah pemain inti yang membawa Red Sparks menjadi runner-up musim lalu, termasuk Megawati.
Media setempat menilai Red Sparks kini bukan lagi tim menakutkan, terbukti dari kekalahan lima kali beruntun yang disebut tidak pernah terjadi pada dua musim sebelumnya ketika Megawati masih berada di dalam skuad.
Kini, Megawati justru tengah fokus bersama Jakarta Pertamina Enduro untuk mengejar target juara di Proliga 2026. Namun di sisi lain, kisah Red Sparks yang terpuruk tanpa dirinya menjadi bukti bahwa pengaruh “Megatron” masih sangat terasa, bahkan jauh di Liga Voli Korea.
Editor : Natasha Eka Safrina