Dulu, timnas futsal Indonesia kerap digambarkan seperti orkestra berbakat tanpa dirijen: penuh talenta, namun kehilangan arah saat harus bersaing di level tertinggi Asia.
Indonesia memiliki pemain dengan kemampuan individu di atas rata-rata.
Namun saat berhadapan dengan kekuatan mapan seperti Thailand dan Vietnam, timnas futsal Indonesia kerap tenggelam.
Dominasi negara-negara tersebut membuat Indonesia sulit berbicara banyak, bahkan di kawasan Asia Tenggara.
Kini, situasinya berubah drastis. Di Piala Asia Futsal 2026, Timnas Futsal Indonesia Piala Asia Futsal 2026 tampil mengerikan.
Skuad Garuda sukses melibas Kirgistan dan Korea Selatan di fase grup, lalu memastikan tiket ke perempat final bahkan sebelum melakoni laga terakhir melawan Irak.
Sebuah capaian yang dulu nyaris tak terbayangkan.
Futsal Pernah Menjadi Anak Tiri
Kebangkitan ini tidak lahir dari ruang hampa. Jika menilik ke belakang, futsal Indonesia pernah lama diabaikan.
Legenda timnas futsal Indonesia, Fenard Hutabarat, secara terbuka menyebut futsal sebagai “anak tiri” di bawah PSSI.
Mengutip OneFootball, Fenard mengatakan futsal diperlakukan sebagai olahraga kelas dua, kurang mendapat perhatian dan tidak mendapatkan perlakuan setara dengan sepak bola.
Fakta paling menyedihkan terjadi pada 2010, saat timnas futsal Indonesia menjuarai Piala AFF Futsal.
Prestasi bersejarah itu nyaris tak dikenang publik. Bahkan hingga 13 tahun berselang, bonus juara yang dijanjikan belum juga cair.
Lebih miris lagi, timnas futsal kala itu harus mengenakan jersey sisa timnas sepak bola, dengan ukuran yang tidak ideal.
Prestasi Mandek dan Mentalitas Rapuh
Pada era tersebut, timnas futsal Indonesia sebenarnya memiliki pemain hebat seperti Fenard Hutabarat, Jailani Lajabini, dan Yos Adiwicaksono.
Namun persoalannya bukan pada kualitas individu, melainkan organisasi permainan dan mentalitas bertanding.
Timnas futsal Indonesia kerap tampil sporadis, lemah secara taktik, dan tidak konsisten. Hasilnya terlihat jelas.
Dari 1999 hingga 2020, Indonesia tak pernah menembus fase gugur Piala Asia Futsal. Bahkan gelar AFF 2010 menjadi satu-satunya prestasi besar setelah enam kali keikutsertaan.
Reformasi Pengelolaan Futsal Nasional
Kondisi stagnan tersebut mendorong perubahan struktural besar. Sekitar 2014–2015, Badan Futsal Nasional (BFN) dibubarkan dan digantikan oleh Federasi Futsal Indonesia (FFI). Perubahan ini menjadi titik balik penting.
FFI berada di bawah naungan PSSI dengan otonomi lebih besar dan dukungan finansial yang lebih kuat.
Tata kelola kompetisi diperbaiki, liga dikelola lebih profesional, dan klub didorong berinvestasi jangka panjang tanpa sistem promosi-degradasi.
Masuknya investor visioner turut mempercepat pertumbuhan.
Klub-klub seperti Bintang Timur Surabaya dan Pendekar United berkembang pesat, bahkan mampu mendatangkan pelatih asing kelas dunia.
Sentuhan Pelatih Asing dan Futsal Modern
Perubahan taktik menjadi faktor krusial. Pelatih asal Jepang, Kensuke Takahashi, yang menangani timnas futsal Indonesia pada 2018–2021, meletakkan fondasi permainan terorganisir.
Pemain Indonesia mulai bermain dengan kecerdasan taktik, bukan sekadar mengandalkan skill.
Fondasi ini kemudian disempurnakan oleh Muhammad Hashemzadeh. Di bawah pelatih asal Iran tersebut, Indonesia menembus perempat final Piala Asia Futsal 2022 untuk pertama kalinya.
Kini, era Timnas Futsal Indonesia Piala Asia Futsal 2026 berada di tangan Hektor Soto.
Pelatih asal Spanyol ini tak hanya berperan sebagai pelatih, tetapi juga direktur teknik.
Soto menerapkan pendekatan berbasis data, analisis video, serta strategi adaptif seperti pressing tinggi, transisi cepat, dan set piece mematikan.
Prestasi dan Ranking Terus Menanjak
Hasilnya nyata. Indonesia menjuarai Piala AFF Futsal 2024, menyingkirkan Thailand 5-1 di semifinal dan Vietnam di final.
Setahun kemudian, Indonesia kembali mempermalukan Thailand dengan skor telak 6-1 di final SEA Games 2025.
Dampak kebangkitan ini juga terlihat di ranking FIFA. Per 31 Januari 2026, Indonesia naik ke peringkat 24 dunia, dari sebelumnya posisi 28. Di Asia, Indonesia kini berada di jajaran enam besar.
Momentum ini menjadi harapan besar. Bukan tidak mungkin, futsal justru menjadi cabang olahraga yang lebih dulu mengantar Indonesia ke Piala Dunia.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo