Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Milano Cortina 2026 Bukan Sekadar Olimpiade Musim Dingin, Warisan Jangka Panjang Italia Mulai Terlihat dari Desa Atlet hingga Kota Pegunungan

Muhamad Ahsanul Wildan • Kamis, 5 Februari 2026 | 19:35 WIB

 

Milano Cortina 2026 dirancang jadi Olimpiade Musim Dingin berkelanjutan dengan warisan jangka panjang bagi kota dan warga Italia.
Milano Cortina 2026 dirancang jadi Olimpiade Musim Dingin berkelanjutan dengan warisan jangka panjang bagi kota dan warga Italia.

RADAR TULUNGAGUNG – Milano Cortina 2026 resmi menjadi sorotan dunia seiring kedatangan lebih dari 3.500 atlet Olimpiade dan Paralimpiade ke Italia Utara.

Namun, Olimpiade Musim Dingin 2026 ini tidak hanya berbicara soal perebutan medali.

Penyelenggara menegaskan, dampak Milano Cortina 2026 dirancang untuk dirasakan puluhan tahun setelah api Olimpiade padam.

Berbeda dengan Olimpiade masa lalu yang kerap menuai kritik karena pembangunan berlebihan, Milano Cortina 2026 mengusung pendekatan baru.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) mewajibkan tuan rumah memprioritaskan venue eksisting dan fasilitas sementara.

Hasilnya, sekitar 85 persen arena pertandingan sudah tersedia atau bersifat temporer, sehingga meminimalkan dampak lingkungan dan risiko mangkraknya fasilitas pasca-ajang.

Konsep tersebut membuat Milano Cortina 2026 menjadi Olimpiade Musim Dingin paling tersebar dalam sejarah.

Kompetisi digelar di berbagai kota pegunungan Italia Utara, seperti Bormio dan Livigno, wilayah yang selama ini memang hidup dari olahraga musim dingin dan pariwisata.

Kota Pegunungan Dapat Panggung Dunia

Di Bormio, salah satu lokasi utama cabang ski alpine, Olimpiade dipandang sebagai momentum kebanggaan kolektif.

Warga setempat menilai kehadiran Milano Cortina 2026 bukan hanya membawa sorotan global selama dua pekan, tetapi juga membuka pintu interaksi budaya dan peningkatan pariwisata internasional.

Bormio sendiri telah lama dikenal sebagai tuan rumah balapan downhill Piala Dunia ski alpine selama lebih dari 30 tahun.

Pada Olimpiade 2026, kota ini akan menggelar seluruh nomor alpine putra, termasuk downhill.

Selain itu, cabang ski mountaineering akan mencatat debut Olimpiade di Bormio, dengan total tiga medali diperebutkan.

Pemerintah kota setempat juga membangun stadion ski baru di area bawah lintasan utama.

Fasilitas ini tidak hanya disiapkan untuk Olimpiade, tetapi juga akan dimanfaatkan untuk ajang Piala Dunia dan kegiatan olahraga musim panas setelah 2026.

Livigno dan Infrastruktur yang Bertahan Lama

Manfaat serupa dirasakan Livigno, kota pegunungan lain yang menjadi bagian dari Milano Cortina 2026.

Renovasi pusat medis, peningkatan jaringan energi, serta pembaruan infrastruktur publik menjadi investasi jangka panjang bagi warga.

Penyelenggara menaruh perhatian besar pada sistem kelistrikan berbasis energi terbarukan.

Selain mendukung operasional Olimpiade, pembaruan jaringan listrik ini meningkatkan ketahanan energi wilayah pegunungan yang selama ini rentan terhadap cuaca ekstrem.

Sebanyak 26 nomor pertandingan akan digelar di Livigno, menjadikan kota ini pusat aktivitas atlet, media, dan penggemar selama Olimpiade berlangsung.

Desa Atlet Berubah Jadi Hunian Mahasiswa

Di pusat kota Milan, warisan Milano Cortina 2026 terlihat paling nyata melalui pembangunan Desa Olimpiade.

Kompleks yang berdiri di bekas kawasan rel kereta Porto Romana ini mengantongi sertifikasi ramah lingkungan LEED Gold, dilengkapi panel surya dan sistem pemanas hemat energi.

Selama Olimpiade, desa ini akan menampung sekitar 1.400 atlet. Namun pasca ajang, kawasan tersebut akan diubah menjadi hunian bagi 1.700 mahasiswa, lengkap dengan toko, kafe, dan ruang komunitas.

Transformasi ini menjawab krisis hunian mahasiswa yang selama ini menjadi persoalan serius di Milan.

Tak jauh dari sana, arena hoki es baru juga dibangun di kawasan Santa Giulia sebagai bagian dari regenerasi wilayah industri lama.

Aksesibilitas Jadi Warisan Sosial

Selain fisik dan lingkungan, Milano Cortina 2026 menaruh fokus besar pada aksesibilitas.

Penyelenggara tidak hanya memperbaiki infrastruktur transportasi dan venue, tetapi juga membangun kesadaran publik tentang inklusivitas bagi penyandang disabilitas baik sebagai penonton, relawan, pekerja, maupun jurnalis.

Arena Verona, yang akan menjadi lokasi upacara pembukaan Paralimpiade, kini telah sepenuhnya dapat diakses.

Langkah ini disambut positif para atlet Paralimpiade yang menilai Olimpiade 2026 sebagai titik balik aksesibilitas kota-kota Italia.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Di balik layar, sekitar 18.000 relawan telah menyelesaikan pelatihan, membekali mereka dengan keterampilan yang berguna hingga jauh setelah Olimpiade.

Lebih dari 11.000 pelajar juga terlibat dalam program gerak dan kesehatan yang disponsori Milano Cortina 2026, dengan total jarak aktivitas mencapai 1,3 juta kilometer.

Meski tidak mengklaim sempurna, Milano Cortina 2026 menunjukkan bahwa Olimpiade dapat menjadi alat perubahan nyata menggabungkan olahraga, keberlanjutan lingkungan, inklusivitas sosial, dan manfaat jangka panjang bagi komunitas tuan rumah.

 

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#Desa Atlet Milan #Milano Cortina 2026 #Olimpiade Musim Dingin 2026 #Olimpiade Berkelanjutan #Warisan Olimpiade