RADAR TULUNGAGUNG – Stadion Persija Jakarta kembali menjadi perbincangan setelah muncul kepastian bahwa Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) tak bisa digunakan dalam waktu dekat. Situasi ini memaksa manajemen Macan Kemayoran mempertimbangkan opsi lain, termasuk kembali ke Jakarta International Stadium (JIS) yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya siap.
Masalah stadion Persija Jakarta mencuat setelah adanya rencana perbaikan rumput di GBK. Padahal, selama menggunakan stadion tersebut, Persija justru meraih hasil positif dan merasa diuntungkan dengan kualitas lapangan yang dinilai sangat baik.
Di sisi lain, manajemen sebenarnya telah memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan pengelola JIS. Namun, kondisi rumput dan lapangan disebut belum mendukung pertandingan kompetitif. Bahkan, sejumlah pemain turut memberikan komentar negatif terkait kualitas permukaan lapangan.
Baca Juga: Saham BUMI Bersiap Akuisisi Lagi 6–12 Bulan ke Depan, Narasi Diversifikasi Makin Panjang hingga 2031
GBK Jadi Stadion Favorit, Tapi Harus Ditutup Sementara
Keputusan menggunakan GBK sebelumnya bukan tanpa alasan. Selain fasilitas kelas dunia, kualitas rumput dianggap ideal sehingga mendukung performa tim di lapangan.
“Faktanya di GBK lapangannya bagus, rumputnya bagus, dan kita menang terus,” ungkap perwakilan internal klub.
Sayangnya, mulai tanggal 20 mendatang, Persija dipastikan tak bisa lagi memakai stadion kebanggaan Indonesia tersebut karena akan menjalani perbaikan. Rumput GBK disebut akan ditingkatkan kualitasnya agar lebih optimal untuk berbagai agenda besar.
Kondisi ini membuat Persija harus bergerak cepat mencari stadion alternatif demi memastikan jadwal pertandingan tidak terganggu.
JIS Masih Terkendala Rumput dan Minim Kemajuan
Meski memiliki MoU dengan JIS, manajemen Persija Jakarta belum sepenuhnya yakin stadion tersebut siap digunakan. Salah satu kendala utama adalah kondisi rumput yang dianggap belum memenuhi standar pertandingan.
Manajemen bahkan berencana meninjau langsung JIS bersama beberapa pemain setelah pertandingan melawan Arema FC. Langkah ini dilakukan agar tim bisa melihat secara objektif kesiapan stadion.
Namun, perkembangan perbaikan disebut belum signifikan. Beberapa pihak menilai masalah pencahayaan seharusnya bisa diatasi dengan teknologi lampu khusus pengganti sinar matahari—alat yang lazim digunakan di stadion modern.
“Kalau cuma masalah matahari, harusnya sudah ada solusinya. Apalagi sudah ada lampu hijau untuk pengadaan alat,” ujar sumber internal.
Harapan kini tertuju pada pengelola JIS agar segera memberikan kepastian kapan stadion benar-benar siap dipakai. Pasalnya, Persija sudah cukup lama tidak menggunakan venue tersebut sebagai kandang utama.
Baca Juga: Saham BUMI Turun ke 300? Ini Analisis Lengkap Fundamental, Isu MSCI, dan Perbandingan dengan DEWA
Stadion Patriot Jadi Alternatif Realistis
Jika JIS belum juga siap, Stadion Patriot Chandrabhaga di Bekasi disebut sebagai opsi paling realistis. Lokasinya relatif dekat dengan Jakarta dan sudah berpengalaman menggelar laga besar.
Selain Patriot, sempat muncul wacana menggunakan Stadion Pakansari. Namun opsi ini dinilai cukup rumit karena terbentur koordinasi dan administrasi lintas pihak.
Meski sempat ada kabar stadion tersebut akan digunakan pihak lain, komunikasi yang terjalin disebut berjalan positif. Hanya saja, proses teknis seperti rapat koordinasi menjadi tantangan tersendiri karena harus dilakukan di luar kota.
Manajemen pun berharap tak perlu terlalu jauh mencari kandang sementara. Fokus utama tetap pada dua pilihan: JIS atau Patriot.
Dampak Besar bagi Konsistensi Persija
Perpindahan stadion bukan sekadar persoalan lokasi, tetapi juga berpengaruh pada performa tim. Stabilitas kandang sering kali menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi hasil pertandingan.
Jika terlalu sering berpindah venue, adaptasi pemain bisa terganggu—mulai dari karakter rumput, atmosfer stadion, hingga dukungan suporter.
Karena itu, Persija berharap ada perubahan signifikan pada JIS sehingga stadion tersebut bisa kembali menjadi rumah jangka panjang. Terlebih, fasilitas modern JIS sebenarnya dirancang untuk mendukung klub-klub besar ibu kota.
Untuk sementara, manajemen hanya bisa menunggu kepastian sambil menyiapkan rencana cadangan. Yang jelas, keputusan soal stadion Persija Jakarta harus segera diambil agar tidak mengganggu fokus tim menghadapi sisa kompetisi.
Publik kini menanti langkah final Macan Kemayoran: kembali ke JIS, bertahan di sekitar Jakarta lewat Patriot, atau justru mencari opsi lain. Apa pun pilihannya, satu hal pasti—Persija membutuhkan stadion yang stabil demi menjaga tren positif mereka di lapangan.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 1 Februari 2026 Cair, 18 Juta KPM Terima hingga Rp 600 Ribu
Editor : Rosana Mar'atu Solikah